Thursday, March 23, 2017

Mama, engkau tidak boleh menjadi tua!
Jangan sampai menangis ya!

Mama, aku tak mau kamu jadi tua!

Usia tambah, tubuh jadi jompo, degeneratif, menua, adalah hal lumrah dalam jagat raya, untuk segala hal, yang biologis dan yang nonbiologis. Karena bekerjanya ENTROPI atau The Arrow of Time dalam fisika. Akibat entropi, sistem biologis tubuh anda lambat-laun masuk ke kondisi chaotic, kehilangan harmoni dan sinkronisasi, lalu akhirnya collapse dan terdekomposisi, terurai berantakan.

Menjadi tua, lalu mati, bukan kutukan, kutukan dewa atau kutukan setan, tapi bagian dari hukum-hukum fisika. Tetapi akan tiba saatnya, proses penuaan tubuh dan mental manusia bisa dilawan dan dikalahkan lewat ilmu pengetahuan tentang hidup kekal. Tapi, hidup 2000 tahun atau hidup tak bisa mati, apakah bukan sebuah azab juga? Saya tak bisa menjawab pertanyaan berat ini sekarang.

Kanak-kanak, saya juga dulu di usia 6 tahun, kaget saat pertama kali tahu bahwa manusia bisa tua lalu mati. Pangeran Siddhartha Gautama, menurut legenda Buddhis, tersentak dengan soal ini malah ketika dia sudah dewasa, saat dia pertama kali, di luar istana ayahnya, melihat seorang kakek jompo yang sedang berjalan bungkuk dengan susah payah dan iringan orang-orang yang meratap yang sedang mengantar sebuah keranda jenazah yang diusung.

Jadi, bagi anak-anak dan bagi orang dewasa, bagi semua orang, hal menjadi tua lalu mati (atas diri sendiri dan juga atas orang yang dikasihi), adalah suatu pengetahuan tentang fakta yang menimbulkan rasa takut yang dahsyat. Mengerikan. Menimbulkan rasa duka yang sangat dalam. Ini baru pengetahuan, apalagi faktanya. Ini bagian dari "Big Questions", pertanyaan-pertanyaan besar, tentang kehidupan. Mengapa kita lahir, lalu masuk ke umur jompo, lalu akhirnya menjadi mayat, mati? Apa sebetulnya tujuan kita dilahirkan? Apakah memang ada tujuannya, ataukah kebetulan saja kita dilahirkan tanpa kita minta?

Pelan-pelan anak-anak akan juga bisa menerima fakta kematian kekasih-kekasih mereka. Tapi masih banyak Big Questions yang akan menerjang pikiran dan hati mereka sementara mereka bertumbuh dewasa. Orang-orang yang berilmu dan arif perlu membimbing mereka untuk mereka dapat menemukan sendiri jawaban-jawaban yang bermakna untuk mereka atas berbagai pertanyaan eksistensial besar yang bermunculan satu demi satu dalam perjalanan kehidupan mereka. Tanpa jawaban yang bermakna, kehidupan mereka akan kehilangan energi pendorong.

Nah, supaya anda dapat hidup bermakna, dan mumpung anda sekarang masih muda dan masih hidup, ya berbuat baiklah sebanyak-banyaknya untuk membuat duka dan azab berkurang dalam dunia ini. Supaya rasa takut hidup teratasi, apalagi rasa takut mati, dalam diri orang banyak, dan khususnya dalam diri anda sendiri. Makna hidup ada di situ, tidak di kegiatan lain yang hanya mempertontonkan ketamakan, kemewahan, dan kebrutalan anda.

Mati meregang nyawa itu cuma sekejap, paling lama 10 menit. Tapi hidup itu, dengan semua suka duka dan azab yang banyak, panjang loh. Bisa sampai 70 tahun atau 120 tahun, bergantung pada sekian hal: jam biologis kehidupan kita seluruhnya, cara kita hidup, cara kita memelihara kesehatan, keamanan atau ketidakamanan hidup kita sehari-hari, kondisi lingkungan hidup kita, dan peristiwa-peristiwa yang datang tak terduga.

Jelas, berani mati itu gampang, cuma butuh waktu sekejap. Tapi berani hidup itu, sangat sulit, perlu waktu puluhan tahun untuk bisa menang dalam kehidupan yang penuh azab dan pergumulan. Jadi, beranilah hidup, bukan berani mati. Hanya orang pengecut yang berani mati, tapi tidak berani hidup.

Apapun juga, karena setiap orang bisa mati detik ini juga atau mati mendadak tanpa persiapan, ya selagi nafas dan energi tubuh masih ada, berbuat baik dan sebarkanlah kasih sayang ke sebanyak mungkin orang. Itulah makna kehidupan kita. That is the meaning of our lives! Jalani hidup yang bermakna semacam ini dengan berani!

Bagikanlah dengan berani apapun yang baik dan bermanfaat yang anda punya ke orang lain yang memerlukan, mulai ke orang yang terdekat hingga ke orang yang terjauh. Di depan mata anda, atau jauh di belahan lain dunia. Di era Internet, mata anda bisa ada di seluruh dunia.

Saatnya kita mati akan tiba juga. Saatnya kita ditangisi dengan penuh duka pasti akan terjadi. Saatnya kita tidak bisa tertawa dan tidak bisa menangis lagi, akan pasti datang. Saatnya kita tidak bisa lagi hidup gemerlap, tidak bisa lagi makan enak di resto-resto besar, dan tidak bisa lagi keliling dunia dengan biaya ratusan juta hingga milyaran rupiah, AKAN JUGA DATANG, bisa detik ini, bisa juga besok atau lusa. Yakni ketika kita sudah menjadi mayat. Datangnya bisa senyap, bisa juga dengan keriuhan kata, hiruk-pikuk, dan banjir air mata. Hidup memang begitu. Begitulah hidup.

Saat kematian tiba, dan tubuh anda sudah terbujur kaku dan dingin, madah dan ritual keagamaan tidak bisa anda dengar dan rasakan atau pahami lagi. Mati adalah "the point of no return". Madah hanya menghibur orang yang hidup, dan ritual cuma menjadi kesibukan agama. Mayat tidak memerlukan penghiburan, juga tidak butuh ritual. Supaya anda yakin, tanyailah setiap mayat, jangan tanyai orang yang sedang sekarat.

Ya, orang lain sibuk dan repot dan bikin ribet di sekitar mayat kaku anda. Tapi semuanya itu tidak ada lagi gunanya buat anda, tak lagi berpengaruh pada mayat anda. Dan "anda" sendiri sudah bukan "anda" lagi. You don't exist anymore. Ke mana "anda" pergi, no one knows! Or else, most people know, you go to nowhere. You have finished.

Ketika ajal datang, tubuh kita yang sexy, rambut kita yang indah, tas tangan kita yang berharga ratusan juta rupiah, atau tubuh anda yang kokoh dan kekar, tidak akan dibawa. Begitu juga semua harta, termasuk rumah-rumah mewah dan tanah-tanah anda yang luas di banyak lokasi di dalam dan di luar negeri, dan bergunung-gunung uang simpanan anda, tidak bisa anda pakai lagi.

Kita cuma butuh tanah paling luas 3m x 3m, sebagai lahan rumah masa depan, yang dinamakan KUBURAN atau MAKAM.

Kalau tubuh anda berakhir sebagai setumpuk kecil debu halus hasil kremasi, lewat pelarungan sisa-sisa tubuh anda sebagian tertebar di permukaan air laut dan sebagian lain terhembus angin entah ke mana, mungkin terbang ke dunia bintang-bintang, entah bagaimana caranya. Atau jika ongggokan debu halus sisa jasad anda dimasukkan ke dalam sebuah guci yang sesudahnya ditutup rapat, rumah masa depan anda ya guci itu yang dibiarkan tenggelam sampai di dasar laut dangkal. Atau bisa juga rumah idaman masa depan anda cuma sebuah kotak tempat orang menitipkan guci-guci debu mayat dengan kewajiban membayar.

Sedihkah anda saat membaca apa yang baru saya ungkap di atas? Kalau sedih, ya tidak apa-apa. Di dunia ini sangat banyak kok orang yang bersedih lantaran sangat banyak hal. Sedih, pedih dan ringkih tertatih itu bersaudara. Bagaimana dengan orang-orang yang punya kekuasaan besar dan harta yang sangat banyak jumlahnya?

Kekuasaan politik, kekuatan militer dan paramiliter, kedudukan tinggi hingga ke langit, nama yang bergelar panjang berlerot, dan para dayang sexy, atau para pria muda nan jantan mitra seksual anda, yang sebelumnya anda kejar dengan ambisius dan dengan mengorbankan marwah diri, lalu anda peroleh dan pertahankan lewat perbuatan keji kepada banyak orang lain dan lewat pembunuhan, AKHIRNYA HARUS ANDA LEPASKAN DAN TINGGALKAN TOTALLLLL! Kalau semua itu anda mau angkut ke alam kubur, ya tidak akan muat. Jika mau anda bawa lewat jasa kirim FedEx, ya alamat tujuannya di alam baka tidak ada yang tahu.

Fakta ini juga akan membuat anda lebih sedih lagi: Kalau hari ini kita masih hidup, besok belum tentu. Kita hanya percaya saja bahwa besok atau di tahun 2018 kita masih akan hidup. Kepercayaan kita ini BISA TIDAK TERPENUHI. Boleh percaya, tapi jangan sekali-kali mengabsolutkan kepercayaan anda itu.

Anyway, tariklah nafas dalam-dalam sekarang, bernyanyilah dalam hati, pujilah Tuhan anda, gembirakan hati anda, berpikirlah positif dan optimis.

Lalu berjalanlah ke luar. Masuk ke tempat yang lebih ramai di luar rumah anda atau di luar ruang kantor megah anda. Keluarlah dari zona aman dan mewah anda.

Ada sekian orang yang sedang menunggu uluran tangan anda di sana, di luar. Wajah mereka kuyu. Mata mereka sembab. Tangan dan kaki mereka gemetar karena kelaparan. Baju mereka lusuh dan apek. Atau mereka sedang meratap pilu karena negeri mereka telah luluh lantak lantaran pertikaian agama. Wujudkan kebajikan di sana. Buat kebaikan hati anda dialami real oleh mereka. Love your fellow human beings intelligently. Cintai sesamamu manusia dengan cinta yang cerdas.

Orang jahat terlalu lihai dan licik untuk dicintai oleh anda dengan lugu. Ada banyak orang jahat jenis ini, yang tidak luluh oleh cinta. Jika anda dengan lugu mencintai orang jenis ini, cinta anda yang tidak cerdas, meski ikhlas dan tulus, malah akan mereka permainkan untuk membuat diri mereka makin sadis dan brutal.

Meski begitu, jangan melihat sesamamu yang sedang menanggung azab, yang sedang susah, sebagai gangguan, sebagai ingus, sebagai kutil, sebagai sebungkus sampah kulit udang, sebagai beban berbau busuk yang membuat anda mual lalu bersumpah serapah dan mencaci dalam hati. Sekali lagi, cintai mereka dengan cinta yang cerdas, cinta yang melek, tidak buta, tapi tulus dan ikhlas.

Kata para sesepuh, Tuhan anda kerap datang lewat diri mereka. Menyamar. Menitis. Mengambil wujud fisik. Jadi, jika anda mencintai Tuhan anda, usahakan untuk mencintai mereka dengan cinta yang tulus, ikhlas, melek, dan cerdas.

Salam,
ioanes rakhmat

23 Maret 2017

Thursday, March 9, 2017

Sudah tahukah anda Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)? Semoga sudah!

PTSD singkatan dari “post-traumatic stress disorder”, artinya “gangguan stres pasca-trauma”. Trauma artinya “luka ragawi”, atau “pengalaman mental yang sangat menghancurkan jiwa”.

PTSD adalah suatu gangguan mental yang serius, yang timbul karena pengalaman-pengalaman traumatik di masa sebelumnya. Baik pengalaman kejiwaan maupun pengalaman fisik. Sebagai suatu gangguan psikiatrik, PTSD timbul berkepanjangan, terus-menerus datang setelah si penderita mengalami “kejut dan kesakitan mental dan raga” atau “trauma” yang berat.


PTSD penting untuk kita ketahui, sebab pengetahuan ini mungkin bisa membantu kita untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih teduh. Masyarakat yang tidak anarkhis, tidak chaotic. Dan kelompok-kelompok yang sukanya memecahbelah dan mengadudomba sesama WNI yang berasal dari anekaragam latarbelakang SARA, tidak lagi bisa berbuat semau mereka. Tidak sedikit dari antara mereka juga terkena PTSD.

Trauma akar yang memicu PTSD adalah kejadian-kejadian yang berat di masa sebelumnya, atau yang nyaris merenggut nyawa si penderita. Misalnya: menyaksikan pembunuhan, atau nyaris terbunuh, mengalami kecelakaan berat, berada dalam situasi perang, penganiayaan, kekejaman luar biasa, atau mengalami pelecehan seksual di masa kecil atau ketika dewasa, atau berada dalam situasi teror, kerusuhan besar, pertumpahan darah, bencana alam yang dahsyat, dll.

Semua peristiwa buruk ini membekas kuat dalam pikiran dan batin. Ditekan dan dipendam ke alam bawah sadar, tapi selalu muncul lagi ke permukaan, entah berupa mimpi buruk kilas-balik, kegelisahan luar biasa di saat tidur, gangguan tidur yang serius, atau berupa halusinasi dan visi-visi yang menyeramkan, atau ketakutan dan kepanikan, kehilangan kontrol diri, dan kondisi gampang kaget dan ingin lari.

Ingatan tentang semua peristiwa traumatik itu tak bisa dihapus, tapi muncul terus sebagai kilas-balik yang mengakibatkan sejumlah gangguan mental berkepanjangan: rasa gelisah, cemas, takut, stres, kenangan yang muncul membandel atas masa lalu yang mengerikan, keinginan lari dari realitas, isolasi diri, sensitivitas perasaan mati, tak bisa percaya orang, ketaktahuan sedang merasakan apa dan harus berbuat apa, kondisi tak bisa bekerja, tak dapat berkonsentrasi, tercekam perasaan dan pikiran harus terus siaga dan waspada, akhirnya putus asa, depresi, yang mendorong pasien untuk lari dari realitas atau mencoba bunuh diri. In short, PTSD tampak dalam empat simtom yang berkaitan satu sama lain, tapi muncul tidak linier. 1. Re-experiencing symptoms Peristiwa mengerikan di masa lalu yang tetap membekas selalu dirasakan dialami kembali, bisa muncul begitu saja, dan bisa juga karena ada pemicunya. Bisa sebentar, bisa juga berlarut-larut. Kedamaian jiwa sirna. Dunia terasa mencekam, tidak bersahabat. Seolah dibawa sebuah mesin waktu, mengalami kilas-balik, kembali masuk ke masa lampau saat peristiwa-peristiwa traumatik semula betulan dialami. 2. Avoidance and “numbing” symptoms Si penderita ingin selalu menghindar dari orang atau hal-hal yang dapat memicu ingatan kembali trauma masa lalunya. Menjauhkan diri dari relasi sosial. Memilih hidup terisolasi. Menyendiri. Tertekan. Depresi. Pasif total. Saat diminta untuk menjelaskan apa yg sedang dirasakan dan dipikirkan ketika PTSD datang, si penderita merasa mati rasa, dan pikirannya dirasakan sudah tak bekerja lagi. Mati rasa dan mati pikiran. Tak tahu dan tak berdaya harus berkata apa, atau harus berpikir apa, atau berbuat apa atau merasakan apa. Seolah semua indra, kehendak, dan kemampuan kognitif dan emosi telah lumpuh, tidak hidup lagi, mati. “Numbing” ini bagian dari “avoidance”. 3. Hyperarousal, or increased emotional arousal, or increased feeling on guard and alert symptoms Orang yang terkena PTSD selalu membangun sikap waspada dan siaga yang sangat tinggi terhadap segala sesuatu yang dilihat, dialami atau yang sedang mendatangi dirinya. Selalu curiga dan was-was. Dia sangat khawatir kejadian traumatik di masa lalunya terjadi lagi yang dibayangkannya akan menyiksanya kembali.

Karena itu dia selalu supersiaga, superwas-was, superwaspada, paranoid, seolah sikon buruk yang dulu dialami akan segera terjadi lagi. Jiwa para veteran perang banyak yang terganggu dan mereka merasa seolah perang belum selesai. Suasana pertempuran yang mencekam seolah akan dialami lagi. Kecelakaan seolah akan terjadi lagi. Darah seolah akan membanjir lagi. Seolah si penderita akan dianiaya lagi, atau akan diperkosa lagi. Seolah gempa bumi dan tsunami segera terjadi lagi. Seolah penganiayaan dan pembunuhan akan ada lagi. Seolah para teroris, penjarah dan pemerkosa akan segera menyerang dan merusak semuanya lagi.

Padahal mereka adalah para penyintas, “survivors”. Mereka sudah dibebaskan dan sudah diselamatkan, sudah kembali aman di rumah mereka. Tapi mereka merasa masih sedang disandera, ditawan, disekap, dianiaya, atau akan diperkosa lagi, atau masih berada di daerah bencana, atau di zona perang. 4. Substance-abuse and aggressive behavior Pada sisi lain, lantaran beban mental sangat berat dan ingin lari dari dunia, si penderita berubah menjadi pecandu miras dan NAPZA. Mereka mudah murka, agresif, kasar, asosial, pembuat keributan dalam rumah atau dengan tetangga dan dalam masyarakat, gagal kerja, introvert, hidup eskapis. Semua ini akhirnya akan membinasakan diri mereka.

Hingga kini PTSD masih terus dipelajari. Banyak seginya yang belum dipahami betul. Yang pasti, para penderitanya perlu empati, mendapatkan terapi medik yang profesional dengan melibatkan para seniman dan budayawan. Pendampingan jangka panjang jelas dibutuhkan mereka. Juga cek, jangan-jangan kita sendiri menderita PTSD dalam tahap-tahap awal. Menurut data yang tersedia, banyak sekali orang di dunia ini yang sudah terkena PTSD, tapi mereka mengganggap gangguan mental ini enteng saja seolah cuma stres ringan yang bisa reda sendiri. Padahal trauma psikiatrik PTSD tidak bisa hilang sendiri, tapi membutuhkan penanganan medik.


Sepuluh langkah praktis Saya bukan seorang psikiater. Tapi saya punya pengalaman sendiri untuk mengatasi gejala-gejala awal stres. Berikut ini beberapa poin yang sudah teruji.
  • Hiduplah dengan santai. Relaxed. Banyak rekreasi, melihat alam terbuka, olah raga ringan, dan bermain, akan memulihkan dan membangun kesehatan mental kita.
  • Libatkan diri dalam berbagai bentuk pelayanan sosial. Seringlah berkumpul bersama dengan teman-teman. Kepikunan dini dan depresi umumnya tidak datang cepat-cepat ke orang yang giat di banyak kelompok sosialkeagamaan dan sosialbudaya.
  • Latihan meditasi vipassana dengan teratur akan sangat membantu. Bisa berlatih sendiri, atau dengan bimbingan seorang pemandu yang sudah berpengalaman. Tidak ada hal yang klenis dalam meditasi vipassana.
  • Jika suka dengan hewan-hewan peliharaan dalam rumah, pelihara dan bergaullah akrab dengan mereka. Liur anjing yang masuk ke dalam tubuh lewat jilatan anjing peliharaan ikut membantu meredakan stres dan memperkuat imunitas tubuh. Jalan berkeliling dengan ditemani anjing peliharaan yang setia sangat membantu mengurangi rasa stres sekaligus sendi, otot dan tulang tetap terpelihara bugar, tidak cepat regeneratif.
  • Seringlah bernyanyi dengan riang. Nyanyikan madah-madah yang mengagungkan Tuhan dengan penuh penghayatan. Bernyanyi seperti ini akan merangsang aliran hormon keteduhan dan kedamaian yang dikeluarkan kelenjar-kelenjar dalam tubuh, yang akan membuat kita merasa tenteram dan damai. Jika tidak bernyanyi, dengarkan lagu-lagu teduh dan resapi semua unsurnya. Jika anda ateis, ya carilah dan nyanyikan lagu-lagu sekuler yang bisa menimbulkan efek yang sama pada mental anda.
  • Jika suka melukis, isilah waktu dengan kegiatan melukis, walaupun masih di tingkat pemula. Ungkap suasana batin dan pikiran anda lewat lukisan-lukisan anda sendiri. Atau mulai biasakan menuangkan semua isi hati dan pikiran anda ke dalam buku harian elektronik anda, setahap demi setahap, hari demi hari.
  • Jika bisa sendiri, atau dengan bantuan orang lain, dapatkan teman-teman yang betul-betul bisa merasakan isi hati dan pikiran anda, mampu berempati, dapat dipercaya, dan sanggup mendengarkan semua curhat anda, bahkan ikhlas menerima kemarahan anda dengan penuh pengertian.
  • Jika anda pernah percaya pada satu sosok agung yang disucikan dalam agama anda, misalnya Gautama, atau Yesus, atau Krishna, dll, sering-sering visualisasikan diri mereka dalam batin dan pikiran anda sebagai sosok-sosok cahaya agung yang tetap mencintai anda dan memahami sikon kehidupan anda, dan akan mampu menolong dan menyembuhkan anda. Berdoalah.
  • Lawan, jika muncul keinginan untuk merusak diri sendiri. Lawan, jika muncul keinginan untuk mencoba NAPZA atau miras sebagai tempat dan kegiatan pelarian anda. Bangkitkan optimisme anda. Bangkitkan.
  • Sebisa mungkin, jangan rutin meminum obat-obat antidepresi. Datangi psikiater jika dirasa memang perlu untuk berkonsultasi.
Itulah uraian sederhana yang bisa saya berikan tentang PTSD. Semoga berguna. Sudah banyak artikel dan buku kajian ilmiah tentang PTSD ditulis. Selanjutnya, teman-teman perlu mendalami sendiri.

Silahkan share. Tak perlu minta izin dulu. Thank you. Jakarta, 9.03.2017 ioanes rakhmat Sumber: http://www.ptsd.ne.gov/what-is-ptsd.html. https://healingfromcomplextraumaandptsd.wordpress.com/tag/trust-2/.


Saturday, March 4, 2017

Agama-agama akan pasti berakhir, jika...!

Klik atau ketuk gambarnya untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan muncul lengkap

Kalau dilihat dari prestasi agama-agama sepanjang era sejarah insani, maksud dan tujuan bagus adanya agama bagi kehidupan kini makin kelihatan TIDAK AKAN PERNAH TERCAPAI. 

Tentu, ada juga tujuan-tujuan lain yang bisa jahat di saat suatu agama dibangun, misalnya tujuan memberi legitimasi ilahi bagi suatu kekuasaan religiopolitik absolut yang terlalu besar pada satu atau dua sosok insan di zaman kuno. Tujuan-tujuan lain semacam ini lazim ada di era pramodern ketika dunia kuno belum mengenal dan mempraktekkan ide sekularisme, yakni pemisahan politik dari agama, dan agama dari politik.

Harap jangan ngobral bicara tentang sorga di “alam lain” yang akan dimasuki setelah orang baik mati dan penguburan mayat mereka diupacarakan dengan aneka ritual keagamaan. Ya, jangan ngobral, jika ketika sedang hidup DALAM DUNIA SEKARANG INI anda tidak sedikitpun berhasil tahap demi tahap mendirikan sorga kasih sayang, persaudaraan dan perdamaian di muka planet Bumi di alam real.

Malah sainstek kini dan seterusnya sedang memperlihatkan prestasi-prestasi real yang sebelumnya menjadi bagian penting cita-cita agama, yang kini makin tampak telah gagal dicapai agama-agama. Jika agama-agama menginginkan manusia dapat hidup sehat, dan penyakit-penyakit disembuhkan, keinginan ini justru telah dan terus sedang diwujudkan oleh sainstek modern dengan real lewat ilmu kedokteran dan berbagai teknologi medis modern. Makin maju dan makin berkembang sainstek kita, makin dalam kita dibawa ke dalam suatu dunia yang kita rasakan sebagai dunia fiksi, dunia magis, dunia sihir, walau dunia sainstek modern itu dunia yang real, bukan dunia agama dan juga bukan alam sihir.


Bagaimana pun juga, jika agama-agama tak mau berbenah diri sekarang, agama-agama pada akhirnya akan lenyap, tiba di garis finish, lalu ditinggalkan, jika semua tujuan adanya agama-agama (misalnya kehidupan yang sehat, kebahagiaan, umur panjang, kemakmuran, dan persaudaraan insani global) telah dengan empiris, real, konkret dan objektif, dicapai sainstek modern dengan cepat. Kalau sainstek sudah mencapai prestasi-prestasi yang makin besar semacam itu, maka agama-agama seperti yang kita kenal sekarang, yang telah gagal total mewujudkan cita-cita keagamaan, sudah tidak diperlukan lagi, alias sudah kalah, jadi pecundang.

Juga jangan lagi dengan angkuh anda mengklaim bahwa tanpa agama-agama manusia tidak bisa hidup bermoral (dengan akibat: masyarakat akan hancur) sebab, kata anda dengan yakin tapi naif, hanya agama-agama (tentu khususnya agama anda sendiri) yang bisa menjadi sumber nilai-nilai kehidupan yang baik, benar, agung dan sehat. Nilai-nilai moral. Oh, anda salah besar!

Justru sainstek kaya raya dengan nilai-nilai kehidupan yang baik, benar, agung dan sehat. Saya beri satu atau dua contoh saja. Yang lain-lainnya anda pikirkan dan temukan sendiri. Jika anda, sebagaimana umumnya, tidak ingin berlelah-lelah memikirkan dan menemukan sendiri banyak nilai yang diberikan sainstek modern, saya telah menulis tentang itu untuk anda. Silakan klik atau ketuk di sini untuk membacanya.

Justru sainstek, bukan agama, yang mendorong rasa ingin tahu atau kuriositas orang tumbuh dan berkembang terus-menerus, yang membuat pengetahuan kita makin berkembang dan makin maju tentang makin banyak fenomena alam, mulai dari dunia alam mekanika quantum hingga dunia mahaluas yang kini dinamakan multiverse atau jagat-jagat raya yang jumlahnya tanpa batas.

Justru sainsteklah yang berhasil menyadarkan kita dengan real dan terarah untuk mencintai, merawat, mempertahankan dan mengembangkan serta makin menyempurnakan kehidupan kita sekarang dan dunia alam real yang multidimensional.

Itu contoh dua nilai agung yang diberikan sainstek modern kepada kita. Pada sisi lain, kita tahu bahwa agama-agama umumnya selalu menekan, menghambat dan ingin mematikan rasa ingin tahu manusia atas segala misteri dunia dan kehidupan. Kata para juru kampanye agama-agama yang sudah malas belajar, HANYA TUHAN YANG BOLEH TAHU MISTERI-MISTERI ALAM. Bagi manusia, pintu-pintu masuk ke ruang-ruang misteri itu, kata mereka, telah dikunci oleh Tuhan selamanya dengan gembok-gembok yang sangat besar.

Sosok Adam dan Hawa mitologis dalam agama-agama yang berpangkal pada agama Yahudi umumnya dipakai sebagai acuan skriptural tentang larangan keras Tuhan untuk manusia mengikuti dorongan ingin tahu dalam hati dan pikiran mereka tentang segala hal, padahal dorongan kuriositas ini, logisnya, ya diciptakan Tuhan sendiri ketika Tuhan, bukan setan, menciptakan sepasang manusia istimewa ini. Ya, mereka istimewa, karena keduanya tidak punya pusar, tidak pernah jadi bayi, tapi langsung gede, langsung bisa berdiri, berjalan, berlari, dan langsung bisa bicara dan bekerja.

Kita juga tahu, justru agama-agamalah yang memandang kepentingan “dunia gaib” dan kehidupan di “alam lain” lebih tinggi dan lebih agung dibandingkan kepentingan dunia real masa kini dan kehidupan kita sekarang ini di Bumi dalam tata surya dan dalam jagat raya. Kata para agamawan, keselamatan jiwa anda di sorga setelah anda mati itulah tujuan esensial agama; hal-hal lainnya di muka Bumi hanya sampingan, cuma embel-embel. Bagi saya, sesungguhnya tidak demikian halnya. Saya pernah mengungkapkannya begini:
Salvation of the soul hereafter, without salvation of the body and mind and the globe here and now, is escapism, useless, brutal, and a nightmare.
Nah, jika anda ingin agama anda bisa tetap punya peran penting di masa depan yang dekat, ya jalan utamanya adalah anda harus merumuskan dan membangun ulang agama anda dalam wadah matriks sainstek modern. Jika anda tidak mau, ya willy-nilly, mau tak mau, agama anda akan terseleksi sendiri, naturally, dan secara kultural, culturally, untuk mendiami museum fosil dogma purba. Dan pekerjaan anda ya hanya sebagai para penjaga museum-museum itu. Tentu anda tidak mau, bukan?

Begitulah hal yang saya bisa pahami dan ungkap lewat akal yang bekerja dalam otak saya yang kecil ini. Kalau otak teman-teman lebih besar, kritiklah tulisan pendek ini dengan cerdas.

Jakarta, 4 Feb 2017
ioanes rakhmat

Wednesday, February 1, 2017

Era organisme hibrid manusia-babi sudah di ambang pintu!

Dalam mitologi Yunani, khimera adalah makhluk betina yang sangat menakutkan, bertubuh gabungan dari bagian-bagian tubuh dua atau lebih makhluk lain, hidup di Lykia, Asia Kecil, anak dari pasangan Typhoeus dan Ekhidna, bersaudara dengan Kerberus dan Hydra Lernaen. Kepala dan tubuhnya berbentuk seekor singa yang dari mulutnya dapat menyemburkan api. Pada punggungnya muncul kepala seekor kambing. Ujung ekornya berupa kepala seekor ular. Deskripsi keseluruhan tubuh khimera terdapat dalam karya Hesiod yang berjudul Theogony (abad ketujuh SM).




Tentu anda dapat berimajinasi sendiri untuk bentuk-bentuk khimera yang lain. Misalnya, makhluk berkepala sapi atau banteng dengan tubuh manusia dan berekor leher naga yang dari mulutnya sewaktu-waktu terhembus angin puting beliung. Tentu sosok-sosok hibrid ini adalah monster-monster yang sangat menakutkan dan mengerikan. Kalau anda betulan berjumpa dengan organisme khimera, anda pasti akan lari ngibrit panik dan ketakutan, mungkin juga ngompol. Ha ha. 

Entah ini GOODNEWS atau BADNEWS: Dalam era sains modern sekarang ini, makhluk khimera tidak lagi berada dalam wilayah mitologi, tapi sudah dicoba diciptakan di laboratorium-laboratorium sains-tek di sejumlah negara maju.

Setelah lewat ujicoba dengan hewan-hewan pengerat seperti tikus rumah (mouse) yang digabung dengan tikus got (rat), juga dengan ternak potong seperti sapi, akhirnya para ilmuwan sekarang ini fokus pada khimera MANUSIA-BABI.



Embrio khimera Rat-Mouse (atas) dan Khimera Rat-Mouse usia 1 tahun (bawah)

Ini tentu reaksi anda: Hah? Manusia-babi? Kepala babi dengan tubuh manusia? Atau kepala (dus juga otak) manusia dengan tubuh babi? Etis gak tuh? Merendahkan martabat manusia gak tuh? Tuhan pasti akan mengutuk para ilmuwan jika khimera manusia-babi diciptakan. 

Eeiiitt, nanti dulu. Jangan panik begitu. Juga jangan ngompol. Ini saya jelaskan lebih jauh. 

Bukan khimera Manusia-Babi pada foto di bawah ini yang sedang diupayakan untuk diciptakan para ilmuwan loh!




Khimera manusia-babi sedang dikaji terus dan diujicoba di lab bukan untuk tujuan menciptakan makhluk manusia-babi ragawi betulan yang terlihat berjalan-jalan di dalam sebuah mall atau di taman-taman kota atau di hotel-hotel. Tentu manusia-babi jenis ini akan bisa diciptakan oleh para saintis nanti, jika mereka mau. Tapi saya yakin, bioetika akan mencegah mereka bergerak ke situ. 

Jadi? Ya, sederhana saja, tujuan para ilmuwan adalah menghasilkan organ-organ hibrid manusia-babi dalam tubuh babi yang berisi sekaligus sel-sel individual dan jaringan sel-sel yang lebih kompleks. 

Setelah menginjeksikan stem sel pluripoten manusia (human Pluripotent Stem Cells, hPSC) ke dalam EMBRIO babi lewat teknik yang rumit (yang melibatkan sinar laser untuk membuat lubang sangat kecil pada sel-sel babi sebagai sebuah pintu masuk bagi sel-sel manusia), sel-sel manusia dan sel-sel babi yang tergabung itu kemudian berkembang menjadi jejaring sel-sel yang lebih besar dan kompleks, lalu membentuk organ-organ hibrid manusia-babi. 

Tentu untuk embrio babi terbentuk yang kemudian ke dalamnya diinjeksikan sel-sel manusia, dan sel-sel hibrid manusia-babi ini bertumbuh dan berkembang lalu membentuk organ-organ, proses alamiah dan intervensi teknologi harus dilewati. Garis besarnya kita semua sudah tahu: fertilisasi IVF, zygote, embrio, penempatan embrio ke dalam rahim seekor babi betina, masa fetus atau janin, masa kehamilan hingga kelahiran. 

Ada satu hal yang saya belum tahu pasti, ini: Apakah untuk suatu organ khimera manusia-babi dapat ditransplantasi ke dalam tubuh manusia, organ khimera ini harus sudah dewasa dan matang betul di dalam tubuh seekor khimera manusia-babi, ataukah bisa juga yang ditransplantasi itu organ khimera yang setengah matang dan selanjutnya akan tumbuh menjadi dewasa dan matang betul dengan daya dan kemampuan kerja yang penuh di dalam tubuh manusia penerima transplantasi organ itu sendiri. 

Bagaimanapun juga, jalan untuk menghasilkan organ-organ hibrid manusia-babi masih panjang, tetapi langkah yang diambil sudah betul. Era khimera manusia-babi sudah di ambang pintu. Tak lama lagi, para ilmuwan sudah akan berada di dalam era ini. Di saat itu, transplantasi organ khimera manusia-babi akan menjadi praktek yang rutin. Aspek ekonominya adalah: peternakan khimera manusia-babi akan menjadi satu bidang usaha baru yang akan sangat menguntungkan. 

Organ hibrid apa yang mau diproduksi, bergantung organ apa yang dibutuhkan, misalnya hati, ginjal, paru, atau berbagai kelenjar, pankreas, limpa, empedu, atau bahkan jantung. Dalam hal ini, teknik yang sangat cermat dibutuhkan, yang melibatkan teknik pengeditan DNA yang dinamakan CRISPR-Cas9 yang kini sudah semakin halus dan bervariasi. Lebih bagus jika semua organ internal dalam tubuh khimera manusia-babi dapat ditransplantasi dengan aman ke dalam tubuh manusia. 

Lalu? Ya setelah embrio manusia-babi hibrid itu berkembang dan organ-organ yang dibutuhkan sudah terbentuk besar dan sempurna (atau yang masih setengah matang?), organ-organ hibrid ini diambil, diangkat dan dikeluarkan dari tubuh si babi.  

Lalu? Ya... organ hibrid itu selanjutnya ditransplantasi ke dalam tubuh seorang pasien manusia yang membutuhkan organ tertentu karena organ aslinya (ginjal atau hati atau paru dll) sudah rusak. 

Oh begitu? Jadi, khimera yang dimaksud para ilmuwan itu khimera ORGAN-ORGAN INTERNAL hibrid manusia-babi? 

Yuup, persis! Tujuannya ya menyediakan organ-organ hibrid manusia-babi yang ketika sudah ditransplantasi ke dalam tubuh manusia, organ asing ini TIDAK DITOLAK oleh sistem kekebalan tubuh manusia karena organ tersebut juga terdiri dari sel-sel dan jejaring sel manusia (katakanlah si A) yang dikenali sistem imunitas tubuh manusia (si A). Tentu saja, masih diperlukan sejumlah langkah medik yang akan sepenuhnya mengamankan baik organ hibrid yang sudah ditransplantasi maupun diri si pasien penerima organ hibrid itu. 

Oh begitu. Tapi, nanti dulu. Kenapa hewan babi yang dipilih? Kenapa tidak tikus, marmut, kelinci, kambing, sapi atau hewan mamalia lain? 

Loh di atas kan sudah saya tulis, ujicoba sudah dilakukan banyak kali dalam beberapa dasawarsa terakhir, mulai dengan tikus hingga ke ternak potong. Hewan-hewan pengerat tidak bisa dipakai, karena tubuh mereka kecil. Babi dipilih karena sel-sel, jejaring fisiologis sel-sel yang membentuk organ, anatomi dan ukuran organ-organ babi, semuanya paling dekat atau paling menyerupai dan paling klop dengan organ-organ manusia. Jadi, demi keandalan, efisiensi dan efektivitas keilmuwan, hewan babi yang dipakai. Belum ada pilihan lain. 

Uppss, ada satu pertanyaan lagi. Kenapa organ yang ditransplantasi tidak diambil dari sesama manusia saja? Kenapa harus dari babi? 

Nah, itulah soalnya. Pasien yang menunggu transplantasi organ di seluruh dunia sangat banyak dan mereka harus antri dan menunggu berbulan-bulan bahkan bisa lebih dari satu tahun atau malah keburu mati duluan sebelum donor organ insani yang pas didapat. Selain itu, biaya transplantasi organ insani dari manusia ke manusia sangat tinggi. Nah, setelah banyak pertimbangan, para ilmuwan memutuskan untuk memakai hewan babi untuk memproduksi organ-organ hibrid manusia-babi. Prosesnya dimulai sangat dini, pada kurun embrio. Langkah ini diambil untuk mengatasi persoalan etis yang akan muncul jika yang dipakai bukan embrio, tetapi bayi babi yang baru lahir, misalnya. Bayi babi juga harus kena perlindungan bioetis. 

Selain itu, para ilmuwan juga sangat mewaspadai kemungkinan sel-sel manusia yang digabung dengan sel-sel embrionik babi akan juga menyusup ke sel-sel babi yang akan membentuk otak hibrid manusia-babi. Ini bisa terjadi sewaktu-waktu. Jika terjadi, anda akan hidup bersama babi yang memiliki otak cerdas manusia, yang, bayangkanlah, bisa memahami matematika, fisika bahkan teknologi kecerdasan buatan, dan aktif di medsos. Ngeri ya? Ya. Tapi para ilmuwan tahu, ke arah mana mereka harus bergerak maju. Don't worry, dear

Eh, maaf, maaf ya, masih ada satu pertanyaan lagi. Apa boleh orang yang menganut agama-agama yang mengharamkan hewan babi memanfaatkan organ khimera manusia-babi untuk ditransplantasi ke dalam tubuh mereka

Waah, maaf juga, saya tidak bisa mewakili mereka untuk menjawab pertanyaan itu. Mereka bebas menentukan sikap sendiri. Yang saya uraikan dengan sederhana di atas, dalam bahasa yang non-teknis, adalah sains-tek, bukan doktrin keagamaan apapun. 

Saya selalu mendisiplinkan diri untuk tidak mencampuraduk ilmu pengetahuan dengan agama-agama. Pencampuradukan ini hanya menimbulkan kebodohan dan kekacauan kognitif. 

Oh ya, jika anda mau membaca reportase populer tentang penelitian khimera manusia-babi, ini saya berikan dua sumber di sini dan di sini.  

Jika anda membutuhkan uraian teknis akademik tentang khimera manusia-babi, uraiannya tersedia di jurnal CELL vol. 168, Issue 3, pp. 473-486. Edisi 15, Januari 26, 2017. Teks penuhnya tersedia di sini

Begitu saja ya. 

Silakan share tanpa perlu minta izin dulu. Terima kasih. 

Selamat bermimpi jumpa khimera! 
Khimera yang jelita atau tampan, tentunya. 

Salam, 
ioanes rakhmat 

IMLEK 2017|2568 
28 Januari 2017

Tuesday, January 3, 2017

Beragama, Kok Adu Menang-menangan? Buat Apa?

Beragama, apakah harus menang-menangan, ADU OTOT, dengan akibat: dunia dan manusia luluh lantak, binasa dan musnah? The deadly Red Ocean competition. Sumber gambar www.wallpaper4u.org. 

Sering sebuah pertanyaan yang itu-itu juga diajukan orang yang beda anutan agama kepada saya. Misalnya, Siapa yang lebih tinggi, Nabi Isa/Yesus atau Nabi Muhammad? Gautama Buddha atau Yesus Kristus? Kong Hu Cu atau Nabi Musa? Tapi pertanyaan yang paling banyak diajukan ke saya adalah pertanyaan yang pertama.

Sebelum menjawab mereka, saya biasanya menegaskan bahwa era saya fanatik taklid buta dalam beragama tidak pernah ada dalam kehidupan saya sejak kanak-kanak hingga saat ini. Masa remaja hingga masuk ke usia pemuda saya jalani dalam tiga tradisi agama besar yang saya manfaatkan dengan kreatif untuk saling memperkaya dan saling mengisi: Buddhisme, Tridharma, dan Kekristenan. 

Bagi saya, pembedaan atau pemisahan agama-agama Bumi dari agama-agama Langit (atau agama-agama Samawi, yang biasa dinamakan juga Agama-agama Abrahamik: Yudaisme, Kristen, Islam) salah kaprah, dan sudah melahirkan stigma inferior bagi agama-agama Bumi. Sesungguhnya, tanpa Bumi, ya tidak akan ada agama-agama Samawi, sebab tidak ada manusia di Bumi yang telah menginvensi agama-agama Samawi. Ada Bumi, maka ada Langit; juga sebaliknya. Langit boleh ada. Tetapi jika tidak ada Bumi, ya agama-agama apapun tidak akan ada! Sosok-sosok yang hidup di Langit, ya jelas tidak butuh agama jenis apapun.

Setelah menyelesaikan studi purnasarjana yang fokus pada investigasi atas dunia Mediterania (Laut Tengah) dan Timur Tengah kuno (abad-abad pertama M), saya makin terbiasa menjadi seorang warga dunia agama-agama, bukan dunia satu agama saja.

Kini saya asyiiiiik menjelajah dunia ilmu pengetahuan yang sangat kaya dan tanpa batas seperti tak terbatasnya jagat raya tanpa tepi atau samudera tanpa pantai. Saya seorang pengembara di dalam anekaragam dunia-dunia dan juga suka menyusup masuk ke suatu bagian dari kawasan ekstradimensi yang asing, di luar empat dimensi ruangwaktu yang sudah kita kenal dan sedang mengurung kita. The Skywalker.

Banyak pemandangan indah sudah saya lihat, baik di Bumi maupun di angkasa luar. Banyak jalan setapak yang tidak dikenal orang banyak, saya telah tempuh. Jalan-jalan tertutup pun saya buka lalu jalani dengan di ujung-ujungnya saya menemukan kawasan-kawasan baru yang memukau yang belum pernah dijamah manusia atau genderuwo.

Kata orang, “Awas, itu jalan sesat dan berbahaya!” Saya jawab, “Biarin! Enak kok berada di perjalanan sesat, sebab sesat berarti mencari pilihan-pilihan lain yang tidak biasa, menempuh jalur yang tidak ketahuan ujungnya. Cari sungai-sungai dan danau-danau baru. Lihat-lihat pemandangan baru. Ubah perspektif. Cari spesies-spesies baru. Kalau nanti bisa ketemu dino T-rex, juga tak apa. Tokh T-rex hewan juga, seperti saya.”

Nah, berikut ini jawaban pendek saya atas pertanyaan pertama yang sudah saya ungkap di awal tulisan ini. Meskipun begitu, jawaban saya ini berlaku juga untuk agama-agama pada umumnya, tanpa dibeda-bedakan, baik agama yang terlembaga yang dilengkapi dengan banyak unsur, maupun agama-agama yang tidak terlembaga, atau yang tidak memiliki kitab suci atau akidah dan syahadat serta semua unsur lain yang lazimnya ada dalam agama-agama terlembaga.

Saya ingin tekankan di awal jawaban saya ini satu hal: Semua nabi beda. Yesus beda dari Musa, beda dari Ibrahim, beda dari nabi-nabi Yahudi kuno yang disebut dalam Perjanjian Lama, beda dari Yohanes Pembaptis (meski Yesus sempat berguru padanya), beda dari Rasul Paulus, beda dari kakaknya yang bernama Yakobus si Adil, beda dari Eusebius, beda dari Athanasius, beda dari Arius, beda dari Martin Luther, beda dari Yohanes Kalvin, beda dari John Newton, beda dari Mahatma Gandhi, beda dari semua paus, semua uskup, beda dari semua muridnya, dan seterusnya.

Setiap orang punya keunikan masing-masing yang terbentuk lewat banyak faktor sosial yang universal maupun yang partikular, dan juga karena zaman dan tempat kehidupan mereka dan sistem sosial yang di dalamnya mereka hidup berbeda-beda. 

Sistem sosial inilah yang mengatur dan menentukan ideologi-ideologi yang orang harus anut, cara dan gaya hidup yang harus dilakoni, hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, nilai-nilai sosiokultural dan sosioreligius serta nilai-nilai moral apa yang harus dipertahankan dan dihayati, dan pranata-pranata sosiobudaya, sosioantropologis dan sosiopolitik apa yang harus dibangun, dirawat dan dikembangkan. Pendek kata, setiap masyarakat bisa berjalan dan berfungsi karena ada sistem-sistem sosial yang mengatur dan menjaganya.

Selain faktor sosialbudaya yang beranekaragam, ada hal-hal natural atau kodrati yang juga memberi keunikan pada setiap orang. Salah satunya adalah biologi yang membuat si A atau si B atau si Z-plus beda dari si P, Q, R-plus: gen biologis suatu kelompok orang yang bersaudara berbeda dari gen kelompok orang yang bersaudara lainnya.

Bahkan individu-individu kembar dengan DNA yang identik juga tak ada yang 100 persen sama. Semua anak kembar tidak ada yang memiliki sidik jari yang sama. Ya, menurut estimasi, masih ada peluang untuk seseorang (termasuk individu-individu kembar) memiliki sidik jari yang klop sepersis-persisnya dengan sidik jari orang lain. Peluangnya 1 banding 64 milyar! Penduduk dunia sekarang 7 milyar lebih, masih sangat jauh dari 64 milyar.


Ada tiga pola sidik jari manusia. Tidak ada sidik jari kembar satupun dari antara 7 milyar lebih manusia sekarang ini! 

Alam (atau Tuhan, atau Shunyata, jika bagi anda lebih srek) telah memberi petunjuk lewat banyak cara dan bentuk bahwa keanekaragaman itu adalah kodrat semua ciptaan Tuhan, sesuatu yang sunatulah. Keanekaragaman ini ada bukan untuk dipecahbelah dan diadubanteng, tapi untuk menyatu-dalam-kemajemukan, saling terikat pada matarantai sirkular interdependensi dan inter-relasi kehidupan yang mutualistik. Karena ada hal-hal yang khas dan unik, maka pluralitas menjadi niscaya.

Orang yang menolak pluralitas sesungguhnya tidak mengakui bahwa diri mereka sendiri, dan juga diri nabi-nabi junjungan mereka dan agama-agama mereka, memiliki keunikan, kekhasan. Semua hal dalam dunia ini, bagi orang semacam itu, seragam. Bagi mereka, apel sama dengan ketapel. Pesawat supersonik sama dengan jerawat kronik. Semua seragam dan tunggal. Hidup seperti itu pasti tidak enak. Karena mau menang sendiri. Menimbulkan stres dan depresi yang menyerang tubuh, emosi dan kognisi serentak. Sebaliknya, memandang kemajemukan warna-warni indah pelangi sehabis hujan sangat meneduhkan hati, menenteramkan jiwa, dan menyenangkan pikiran. Pelangi, pelangi, alangkah indahmu. Merah, kuning, hijau. Di langit yang biru. Pelukismu agung. Siapa gerangan? 

Selain faktor genetik, juga ada faktor epigenetik yang membuat individu-individu dalam satu ikatan darah keluarga juga berbeda dalam banyak segi, karena berbagai pengalaman dan sikon kehidupan eksternal yang berbeda-beda (kehidupan sang bunda anda, misalnya) berpengaruh secara hormonal sejak anda masih dalam kandungan mama anda sebagai janin atau sebagai bayi yang belum lahir.

Jadi ya tak usah nabi-nabi dan agama-agama yang mereka masing-masing bangun dipertandingkan: adu hebat, adu sempurna, adu superior, adu kuat, adu cerdas, adu keras, adu suci, adu jumlah pengikut, dsb. BUAT APA??? ADU MENANG-MENANGAN?? Akhirnya, ADU OTOT! Aaaiiih! 

Akibat dari adu menang-menangan dan adu otot ini sudah terlihat: dunia dan umat manusia jadi hancur lebur. Tengok teokrasi-teokrasi Islam di Timteng dewasa ini, baik yang sepenuhnya kilafah maupun yang sebagian saja kilafah. Luluh lantak! Hancur lebur! Apakah kita tidak bisa melihat fakta yang sudah terang-benderang ini? Kok? Kenapa?

Jadi, Yesus punya kekhasan dan kedirian sendiri. Begitu juga Musa, begitu juga Sidhartha, begitu juga Lao Tzu, Kong Hu Cu, Budai. Begitu juga Dewi Kwam Im, Dewi Saraswati. Begitu juga Nabi Muhammad, Sufi Rumi, Rabiah al-Adawiyyah, dan seterusnya, dan seterusnya. Tak habis-habis, tentu sejauh agama-agama masih akan dibutuhkan di masa depan yang akan makin maju dan manusia sudah akan mendiami planet-planet lain, dan sudah akan melanglang alam semesta tanpa batas. Di saat itu, lewat evolusi biologis alamiah dan evolusi buatan, manusia juga sudah akan berubah fisik dan mental.

Salah satu contoh terang benderang bedanya Yesus dan para murid perdananya dari Nabi Muhammad dan para pengikut perdananya, ini: Yesus tidak melancarkan perang militer defensif atau ofensif di tanah Yahudi yang waktu itu sedang dijajah imperium Romawi. Ini beda sekali dari kondisi kehidupan Nabi Muhammad dan para penerusnya di tanah Arab abad ke-7 M. Kita katakan, ide-ide religiopolitik Yahudi abad pertama M yang dibela Yesus beda sekali dari ide-ide religiopolitik Arab abad ketujuh M yang dipegang dan diyakini Nabi Muhammad. Sistem sosial yang di dalamnya masing-masing figur yang disucikan dan dimuliakan ini hidup, tidak sama, juga beda tempatnya, beda zamannya. Perbedaan ini ya sudah sangat jelas, tidak usah dan tidak bisa dipertandingkan. Cukup diterima sebagai fakta-fakta sejarah saja dan darinya kita tarik hikmahnya, entah hikmah positif atau sebaliknya. Begitu saja. Simpel.

Tidak usah dibuat ribet dan rumit, kalau sesuatu itu memang sudah simpel. Kata sebuah kaidah fikih, “Yassiru walaa tu ‘assiru.” Ini kurang lebih serupa dengan ucapan mendiang Gus Dur yang sudah kita semua tahu, “Gitu aja kok repot!” Kaidah ini juga yang memandu setiap kajian keilmuan dalam dunia sains, yang dinamakan Occam’s Razor.

Oh ya, kalau umat-umat beragama yang berbeda-beda itu mau bertanding, ya boleh dan malah bagus, asal mereka bertanding dengan cerdas, fair, terbuka, penuh respek, dan bermartabat, dalam dunia ekonomi, bisnis, pengembangan sains dan teknologi, kemajuan peradaban, gerakan ke angkasa luar untuk eksplorasi (kehidupan lain, kawasan yang bisa manusia nanti diami, dan barang tambang yang sudah ada atau tidak ada di Bumi), dan nilai-nilai agung kemanusiaan. Dalam bidang-bidang ini hendaklah kita semua menjadi pemain, bukan cuma penonton. Kompetisi sehat, cerdas, fair, dan bermarwah, tentu saja tidak terhindar. 

Jangan cemas dengan kata kompetisi, pun jika anda seorang komunis atau seorang sosialis. Ada kompetisi sehat yang memacu kita makin maju, tanpa meninggalkan kawan-kawan kita yang kalah, tetapi tetap membantu dan menopang mereka untuk terus bisa maju juga. Ini kompetisi Lautan Biru, Blue Ocean competition, karena berlangsung dengan teduh, sejuk dan friendly. Ada juga kompetisi mematikan, kompetisi jahat, yang mematikan para kompetitor. Ini kompetisi Lautan Merah, Red Ocean competition, karena jahat, mematikan, penuh permusuhan, hostile, banjir lumuran darah dan lahar merah panas yang menggelegak.   

Ketahuilah, organisme cerdas yang dinamakan insan cerdas dan arif, Homo sapiens, yaitu kita semua, juga muncul 300.000 hingga 400.000 tahun lalu di Afrika Selatan lewat kompetisi, yang keras dan yang lunak, yang berlangsung sangat panjang dalam sejarah evolusi biologis alamiah spesies-spesies sejak kira-kira 3,5 hingga 4 milyar tahun lalu.

Ke depan, dengan makin majunya sainstek modern, khususnya biologi molekuler dan teknik DNA-editing (yang kini sudah semakin bervariasi dan makin cermat), juga neurosains, dll, evolusi Homo sapiens dapat kita atur dan kendalikan sendiri sehingga evolusi spesies hewan mamalia cerdas ini (cerdas, karena spesies ini punya neokorteks dalam organ otaknya yang keseluruhannya bermassa 1,5 kg) tidak akan berlangsung dalam persaingan “to live and let die”, artinya: “aku/kami harus bertahan hidup, sedangkan engkau/kalian harus mati dan punah.” Persaingan tentu tetap akan terus ada, tapi dalam semangat memajukan sainstek dan demi ketahanan kehidupan bersama global Homo sapiens di muka satu planet Bumi dan dalam jagat raya.

Kalau nanti (direncanakan mulai tahun 2025) Homo sapiens sudah mulai mendiami planet Mars yang sudah diolah (di-“terraform”), ya yang akan menghuni planet merah ini adalah manusia-manusia yang datang dari beranekaragam gen dan latarbelakang sosialbudaya, bukan cuma para insan bule atau para insan mata sipit (seperti yang mungkin selama ini anda pikirkan). Kenapa harus dari anekaragam gen manusia? Supaya, misalnya, kalau ada serangan penyakit yang mematikan di sana, masih akan ada manusia-manusia yang bisa bertahan hidup dan berhasil mengalahkan penyakit itu, lalu berkembangbiak, lantaran mereka memiliki gen-gen yang berbeda dan lebih tahan terhadap penyakit tertentu.

Jadi, bertandinglah dengan agung dan terpelajar dalam dunia-dunia itu lewat kehidupan pribadi anda, kehidupan masyarakat dan negara anda masing-masing dan bersama-sama dalam suatu interdependensi global antarsemua bentuk kehidupan yang memiliki kesadaran, kehendak, perasaan dan kecerdasan. Jadikan agama anda sumber nilai-nilai yang mampu menjadikan anda pribadi seorang mahatma, sosok yang berjiwa besar.

Akhirulkalam, itulah tugas mulia paling esensial dari semua orang dari agama apapun, bukan mencari mualaf baru tak habis-habisnya, yang nyatanya malah menguras energi kita semua, dengan ujung-ujungnya dapat memusnahkan umat manusia sendiri. Juga bukan adu menang-menangan, entah adu unggul doktrin-doktrin atau adu unggul jumlah umat.

Sekarang ini, faktanya ini: sedikit orang yang unggul otak, unggul kecerdasan, unggul ekonomi, unggul sainsteks dan unggul marwah dapat dengan mudah mengalahkan bahkan (“God forbid!”) memusnahkan orang yang sangat banyak jumlahnya tapi kalah otak, kalah kecerdasan, kalah ekonomi, kalah marwah dan kalah sainstek. Hayo, mau pilih yang mana?

Jakarta, 03 Januari 2017

Salam hangat,
di musim dingin

ioanes rakhmat


Silakan share seluas mungkin. Thank you.