Sunday, August 30, 2015

Berkunjung ke panti asuhan Asih Lestari...

Seharian, 25 Agustus 2015, saya berkunjung ke panti asuhan Asih Lestari, yang beralamat di Jalan Gardu No. 1, Kosambi Barat, Tangerang, Indonesia. 

Ada seorang remaja putri di sana (sebut saja namanya Soekarni) yang sedang sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan di Cipondoh, Tangerang, yang dalam bulan April tahun depan, 2016, akan lulus dari sekolahnya itu, Prudent School. Dia ambil jurusan multimedia. 

Karena telah mendengar kesaksian dua orang mahasiswa sebuah sekolah teologi, Soekarni ingin nanti melanjutkan sekolah ke sebuah perguruan tinggi teologi di Indonesia. 


 Sebagian anak yang diasuh di panti asuhan Asih Lestari, sedang bermain....

Saya dijemput dan diantar ke panti itu untuk berbincang dengan Soekarni di sekitar niatnya untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi teologi lalu akan menjadi seorang pendeta gereja setelah lulus. Sebelumnya, langsung dari rumah saya, dengan mobil jemputan itu, saya menyempatkan diri mengunjungi sekolahnya, Prudent School. Dari sekolah ini, harus menempuh perjalanan dua jam lebih dengan mobil ke lokasi panti.

Dengan ditemani dua ibu yang mengurus panti itu, Soekarni bertatapmuka dengan saya di sebuah ruangan ber-AC di panti itu. Bergantian dengan dua ibu itu, saya dengan santai bercerita saja mulai dari apa itu teologi, sekolah teologi, kehidupan seorang pendeta yang bak seekor ikan mas koki yang di taruh dalam sebuah akuarium bulat yang dilihat banyak orang, sampai keinginan banyak orang untuk hidup sebagai hamba Tuhan, pada satu pihak, dan untuk menjadi kaya raya sebagai para pengusaha sukses, di lain pihak. Dan masih banyak lagi hal lain. 

Ketika saya tanya kepada Soekarni, siapa orang terkaya di dunia sekarang ini, co-founder Microsoft, dengan suara perlahan Soekarni menjawab dengan benar, Bill Gates. Saya katakan kepadanya bahwa Bill Gates itu baru merasa menjadi orang terkaya di dunia kalau dia juga menjadi dermawan besar untuk dunia ini.

Saya beberkan kepada Soekarni, jika dia menjadi seorang pendeta di lingkungan Gereja Kristen Indonesia, nantinya dia tidak akan bisa kaya raya, meskipun juga tidak akan kekurangan karena gerejanya nanti akan memperhatikan semua kebutuhan kehidupannya yang wajar. Juga ada banyak pendeta di gereja-gereja lain yang hidup pas-pasan bahkan miskin, tetapi tidak kuasa untuk mengubah kemiskinan mereka. Tetapi ada juga sejumlah pendeta yang memiliki kekayaan sangat banyak bahkan mempunyai mobil-mobil mewah antipeluru. 

Mungkin sesudah pertemuan dengan saya itu, Soekarni akan memikirkan kembali tekadnya untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi teologi, atau malah akan makin kuat keinginannya untuk menjadi hamba Tuhan walaupun akan hidup miskin dan disorot banyak orang setiap hari bak seekor ikan mas di dalam sebuah akuarium kaca. Whatever will be, will be!  

Nah, jika anda mau ikut mendukung pelayanan kasih sayang kepada anak-anak di panti asuhan Asih Lestari (kini ada lebih dari 30 orang anak yang sedang diasuh), anda dapat menyumbang uang anda, berapa pun besarnya. Ini dua nomor rekening bank yang anda dapat gunakan salah satunya:

1. Rekening Yayasan Panti Asuhan Asih Lestari, no. acc. 127 302 9030, bank BCA, capem Kepa Duri, Jakarta; atau

2. Rekening Gereja Kristen Indonesia, no. acc. 127 301 2811, bank BCA, capem Kepaduri, Jakarta.

Panti asuhan Asih Lestari punya akun Facebook Asih Lestari, dan juga website di www.asihlestari-orphanage.org. Saya sudah buka website ini, dan kelihatan banyak datanya yang belum di-update. Web ini juga sudah ketinggalan zaman; dus, perlu diganti.

Mari, kita bantu mereka, dalam bentuk apapun, termasuk doa dan meditasi anda untuk mereka semua yang ada di panti itu. 


Oh ya, ada satu hal penting lain yang mau saya bagi ke anda. Ketika baru tiba di panti itu, yang pertama kali saya kunjungi, saya langsung saja melihat di sudut halaman muka panti, di bagian terdepan sisi samping kiri, terdapat sebuah bak sampah besar berdinding tembok yang sudah kusam, hitam, dan mengeluarkan bau busuk sampah. 

Kesan saya yang pertama, Wah, bak sampah itu pemandangan yang tidak sedap yang harus dilihat setiap pengunjung panti. 

Lalu saya mendatangi tempat sampah itu, dan meninjau halaman samping kiri panti itu.

Kemudian, saya katakan kepada salah seorang Ibu pengurus panti itu yang telah menjemput saya tadi, Bu, demi kebersihan, keindahan dan kesehatan, tempat sampah itu harus dibongkar, diratakan dengan tanah. Sebagai pengantinya, kita perlu cari dua kontainer sampah besar yang portabel, memiliki roda-roda besar, yang dapat dipindah-pindahkan.” 

Sang Ibu itu semula terdiam, lalu menyatakan setuju.



Nah, pada kesempatan ini, meskipun saya tidak punya ikatan dan kewajiban apapun terhadap panti asuhan Asih Lestari, saya terbeban untuk mengajak anda ikut berpartisipasi untuk menyumbangkan dua kontainer sampah ukuran besar, seperti terlihat pada foto di atas. Bersediakah anda? Saya berharap anda bersedia. 

Untuk anak-anak panti dapat hidup sehat, lingkungan panti juga harus sehat. Anak-anak di semua panti adalah anak-anak kita juga. Mereka berhak untuk hidup sehat dan menjadi cerdas demi masa depan bangsa dan negara Indonesia juga.

Jakarta, 25-8-2015
ioanes rakhmat

Friday, August 28, 2015

Mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang tidak fanatik beragama

bermain dokter-dokteran....  


Dua pakar psikologi agama, Christopher T. Burris dan Keri Raif, belum lama ini melakukan sebuah penelitian terhadap 431 mahasiswa dari Universitas Waterloo, Kanada./1/ Para mahasiswa yang diteliti ini mencakup lima golongan terkait dengan sikap mereka terhadap agama:   

Golongan 1: Setia pada satu agama (agama orangtua) sejak kanak-kanak hingga dewasa.

Golongan 2: Tidak beragama (agnostik, ateis, non-religius) sejak kanak-kanak hingga dewasa.

Golongan 3: Menjadi beragama hanya saat sudah dewasa. Pada masa kanak-kanak, tidak beragama sama sekali. 

Golongan 4: Pindah agama di saat sudah dewasa, melepaskan agama yang dipeluk saat kanak-kanak.

Golongan 5: Menjadi tidak beragama (ateis, agnostik, non-religius) di saat sudah dewasa, melepaskan sepenuhnya agama yang dipercaya pada masa kanak-kanak.

Lewat berbagai wawancara dan metode penggalian info lainnya, dua pakar psikologi agama itu menemukan fakta-fakta berikut:

1. Mahasiswa golongan 1 dan 2 di masa kanak-kanak mereka tidak menyukai permainan peran pura-pura (“pretend play”, selanjutnya ditulis PP); kalaupun mereka pernah bermain PP, itu sangat, sangat jarang. Nyaris tidak pernah.

2. Mahasiswa golongan 3, 4, dan 5, sangat aktif dalam PP di masa kanak-kanak mereka. Tetapi korelasi terkuat antara PP dan sikap keberagamaan atau sikap ketidakberagamaan ditemukan pada mahasiswa golongan 4 dan 5. 

Kesimpulan mereka: PP di masa kanak-kanak sangat kuat memberikan dampak pada sikap keberagamaan atau sikap ketidakberagamaan orang setelah mereka dewasa. Kanak-kanak yang sangat aktif dalam PP menjadi bebas mengganti agama mereka atau bahkan melepaskan agama sama sekali di saat mereka sudah dewasa. Fanatisme keagamaan tidak menguasai mahasiswa golongan 4 dan 5.

Sudah diketahui sejak lama bahwa PP melatih anak-anak untuk menemukan berbagai jawaban atas pertanyaan “Jika aku berperan sebagai A, B, C dan seterusnya, apa yang akan aku temukan dan rasakan?”, dan “Jika aku berimajinasi dan berfantasi menjadi A, B, C dan seterusnya, maka apa yang akan aku temukan dan rasakan?”

Dengan demikian, lewat PP kanak-kanak dilatih dan dibiasakan untuk menjadi para penjelajah cilik, untuk menemukan dan merasakan dengan real (walau lewat imajinasi mereka) berbagai sudut pandang lain, pengalaman lain, situasi kehidupan lain, peran lain, cara hidup lain, dunia simbolik lain. Mereka menjadi terlatih dan terbiasa untuk masuk ke dunia-dunia bayangan yang di dalamnya tidak berlaku “what you see is what you get” (WYSIWYG), masuk ke dunia-dunia alternatif, yang tidak terstruktur kaku, tetapi selalu cair, dinamis, malleable, dan terus berubah.

Kita dengan mudah melihat PP juga paralel dengan hal-hal keagamaan: agama-agama memerlukan anda masuk ke dunia-dunia yang tidak WYSIWYG, tetapi ke dunia-dunia imajiner, dunia-dunia bayangan. Dan, agama-agama tidak menawarkan hanya satu dunia imajiner, tetapi banyak. Dengan aktif dalam banyak PP, anak-anak nantinya tidak akan bisa puas dan habis-habisan setia membuta pada satu agama saja. PP mempersiapkan mereka untuk nanti bisa menjadi warga lebih dari satu agama, menjadi warga dunia majemuk agama-agama.

Prof. Dorothy Singer dari Universitas Yale terkenal lewat kajian-kajiannya yang luas atas dampak PP pada kehidupan kanak-kanak dan setelah mereka dewasa. Menurutnya, anak-anak membutuhkan PP, dan orangtua perlu memberi mereka fasilitas dan banyak kesempatan untuk terlibat dalam PP. Prof. Singer banyak kali menemukan bahwa PP sangat menentukan perkembangan-perkembangan kognitif, sosial, emosional dan jasmani anak-anak hingga usia dewasa dan seterusnya. Kanak-kanak yang banyak terbenam dalam PP umumnya juga kelihatan lebih percaya diri, nyaris tidak pernah cemas, lebih mampu memecahkan masalah, lebih piawai mengatasi konflik-konflik sosial, tidak agresif, dan ternyata juga murah hati untuk berbagi banyak hal kepada orang lain, dan lebih mampu bersikap empatis, toleran, terbuka, tidak picik, dan panjang akal.   

Tentang fungsi signifikan dari bermain (‘play’), dalam kehidupan anak-anak, Dorothy Singer dkk menyatakan demikian: 
“Anak-anak yang bermain bersama, belajar untuk bekerjasama. Bermain, khususnya yang terarah, menawarkan sebuah jalan menuju pembelajaran. Anak-anak perlu bermain, bersamaan dengan kegiatan pembelajaran yang lebih tradisional, untuk membangun kecakapan-kecakapan kognitif dan sosial. Bermain mempersiapkan anak-anak untuk bukan hanya menjadi orang yang lebih baik, tetapi juga untuk lebih siap bekerja… di dalam ‘dunia datar’ masa kini di mana setiap orang memiliki jalur masuk yang sudah disiapkan ke dalam fakta-fakta…. Bermain sangat krusial bagi kesehatan mental anak-anak dan mempersiapkan anak-anak untuk masuk sekolah. Bermain memberikan manfaat-manfaat sosial dan kognitif bagi anak-anak dan bagi mereka di saat mereka sudah dewasa nanti.… Bagi anak-anak yang mengalami situasi-situasi sulit dalam kehidupan mereka, problem-problem emosional, keterbelakangan perkembangan jiwa, bermain bahkan makin signifikan…. Anak-anak dapat memperoleh tanpa batas makna-makna yang mereka bangun dari pengalaman-pengalaman mereka yang menantang emosi mereka jika mereka bermain peran pura-pura. Bermain juga sangat signifikan bagi anak-anak untuk dapat mengatur diri mereka sendiri dan bagi kemampuan mereka untuk mengelola emosi-emosi dan kelakuan mereka.”/2/
Jadi, jika kita sepakat bahwa fanatisme keagamaan, dan tentu saja radikalisme keagamaan, adalah sumber-sumber mental yang berbahaya bagi banyak bencana bagi kehidupan dalam masyarakat-masyarakat yang majemuk, baiklah kita berikan kesempatan dan fasilitas yang banyak dan luas untuk anak-anak kita bisa terlibat aktif dalam berbagai bentuk PP.

Dorong dan motivasilah mereka untuk berpura-pura berperan sebagai Presiden Barack Obama, atau berpura-pura menjadi Presiden Joko Widodo atau Gubernur Ahok, atau bahkan menjadi astronot-astronot yang sedang melakukan perjalanan-perjalanan antariksa menembus jagat-jagat raya lain. Atau bahkan berpura-pura menjadi Bill Gates, Warren Buffett, atau Albert Einstein atau bahkan Stephen Hawking. Beri mereka fasilitas permainan PP untuk peran mereka itu. Beri mereka bacaan-bacaan yang dari sudut ilmu pengetahuan sangat fantastis dan kaya dengan imajinasi.

Jadikan anak-anak kita nantinya sebagai warga dunia agama-agama, tidak berhenti hanya menjadi warga satu agama saja. Itu pilihan yang saya anjurkan ketimbang pilihan untuk anak-anak kita menjadi ateis nantinya. Untuk Indonesia yang masyarakatnya majemuk secara religius, ateisme bukan sebuah pilihan yang masuk akal. Apalagi sekarang ini, sudah ada sangat banyak orang ateis yang sama garang dan radikalnya dengan para agamawan radikal. Indonesia memerlukan orang-orang yang menjadi warga banyak agama, warga dunia agama-agama.

Orang-orang semacam ini, para warga dunia agama-agama, akan mampu menemukan mana segi-segi positif dan mana segi-segi negatif dalam setiap agama, lalu mampu mensinergikan segi-segi positif dalam semua agama untuk menjadi kekuatan besar bagi pembaruan masyarakat. Orang-orang seperti itulah yang bisa membangun masyarakat majemuk Indonesia yang terinterkoneksi satu sama lain, saling mengenal dan saling mempercayai, lalu dengan happy bekerjasama membangun bangsa, negara, dan dunia. Mulailah dari anak-anak anda, sekarang. Investasikan masa depan bangsa, negara, dan dunia, dalam diri mereka.

Good luck! 

ioanes rakhmat   
28-8-2015 

P.S. Silakan share tanpa perlu minta izin lebih dulu. Thank you. 

Sumber-sumber

/1/ Christopher T. Burris dan Keri Raif, “Make Believe Unmakes Belief?: Childhood Play Style and Adult Personality as Predictors of Religious Identity Change”, The International Journal for the Psychology of Religion, Vol. 25, Issue 2, 2015, hlm. 91-106. File pdf tersedia di http://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10508619.2014.916590#abstract.  

/2/ Lihat Dorothy Singer, Roberta Michnick Golinkoff, Kathy Hirsh-Pasek, eds., Play=Learning: How Play Motivates and Enhances Children’s Cognitive and Social-Emotional Growth (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2006), hlm. 4,6,7.

Thursday, August 20, 2015

Religion of New Atheism

The holy bible of New Atheism religion

I think, the New Atheism is a religion, very seriously. Here are the elements of the ideological construction I call New Atheism religion. These elements are common in all religions so far as we know. My very brief analysis here is sociological./1/

Its holy book:
The God Delusion, written by Prof. Richard Dawkins; 

Its first holy epistle:
Letter to A Christian Nation, written by Sam Harris;


Its earlier prophets:
Sam Harris, Richard Dawkins, late Christopher Eric Hitchens, Daniel Dennett;


Its core creeds:
“Atheism makes no claims. It is a lack of belief and nothing more.”

“The transcendent dimensions do not exist.” 

Its delusion:
Atheism is scientific; 

Atheism is the only savior of the world currently being fooled and conned by religions;

Its community:
The defenders of the New Atheism worldwide interconnected by the Internet and various social media;


Its cultic rituals:
Daily attacking religions and believers cruelly, barbarically, aggressively, abrasively, cathartically, by using verbal and symbolic violence;


Its gods:
Superhuman intelligent beings in space believed by Prof. Richard Dawkins to exist that created human beings through their advanced genetic engineering long, long ago./2/


So, you could be convinced now that the New Atheism is a religion too. 

Jakarta, 20 August 2015
Ioanes Rakhmat 

Notes

/1/ Sociologists in general consider religions as social institutions founded and developed on several essential or basic elements, namely, canon, code, creed, and cult. Some add other elements such as community, courses of action, and commitment. In addition to these essential elements, there are many other non-essential elements, too many to mention one by one.

/2/ Richard Dawkins expresses his belief in extraterrestrial superhuman intelligent beings as the creators of human beings here https://youtu.be/BoncJBrrdQ8.

The most crucial statement of Dawkins is this: “Well, it could come about in the following way. It could be that at some earlier time, somewhere in the universe, a civilization evolved, probably by some kind of Darwinian means, probably to a very high level of technology, and designed a form of life that they seeded onto perhaps this planet. Now, um, now that is a possibility, and an intriguing possibility. And I suppose it's possible that you might find evidence for that if you look at the details of biochemistry, molecular biology, you might find a signature of some sort of designer.”

If Dawkins denies this statement or wishes to revise or even discard it, I suggest him to make a scientific clarification recorded in a video and then disseminate it through the Internet.


Monday, August 17, 2015

Ten meanings of the word “liberal” in theology


once born free, forever free!

In theology, “liberal” means renewal, discarding irrelevant doctrines, and formulating new ones, in the spirit of freedom and openness.

Another meaning of “liberal” in theology is accepting sciences to contribute to constructing new theologies in response to new challenges, new contexts, and new developments.

The third meaning of “liberal” in theology is set free theology from clerical domination, so ordinary people can participate in doing theology, resulting in democratization in religious life.

The fourth meaning of “liberal” in theology is employ sciences in interpreting holy texts resulting in critical approaches named criticism, historical criticism, for instance.

The fifth meaning of “liberal” in theology is using human rationality freely in search of religious truths whatever are the outcomes it generates.

The sixth meaning of “liberal” in theology is let curiosity alive and free in peoples cognition so that they can grow intelligently and freely into infinity and eternity.

The seventh meaning of “liberal” in theology is view religiosity as a dynamic state of mind never reaching its end, becoming an endless pilgrimage.

The eighth meaning of “liberal” in theology is an openness to endless progress of human capacity and human civilization, as ways to finding the elusive God.

The ninth meaning of “liberal” in theology is refuse anything ideological to imprison the human mind, conscience, and responsible freedom.

The tenth meaning of “liberal” in theology is live cheerfully, kindly, compassionately, responsibly, courageously, confidently, determinedly, greatly as human beings born free. This I call theology-in-action carried out by free human beings.

Those are the 10 meanings of the word “liberal” in theology. To conclude, the word “liberal” in theology is very great, precious and noble. It is weird if you don’t like to be liberal in your religious life. 


P.S. Share it as widely as possible. Thank you. 

Jakarta, 17-8-2015
the independence day of Indonesia
ioanes rakhmat


Happy the independence day of Indonesia, a country still sadly subjugated by stupidity, ignorance, corruption, delusion and ideological bigotry. Save our children.





Sunday, August 2, 2015

Bisakah dalam meditasi pikiran kita “blank”?

Ada orang yang menyatakan bahwa pada puncak tertinggi suatu teknik meditasi, orang akan berada pada keadaan “tanpa kondisi”, yakni saat pikiran sama sekali berhenti, sama sekali “blank”. Yang mereka maksudkan bukan hanya terbendungnya persepsi indrawi (yang lazimnya dinamakan “sensory deprivation”), tetapi berhentinya kognisi manusia sepenuhnya. Dalam sains, kognisi (Latin: cognoscere; artinya "belajar" atau "mengetahui") adalah satu grup proses-proses mental yang mencakup penalaran, memori, pembelajaran, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, perhatian, penciptaan dan pemahaman bahasa. 

Mistikus dan guru spiritual asal Bangladesh yang bernama Chinmoy Kumar Ghose (lebih dikenal sebagai Sri Chinmoy) dalam tulisan pendeknya yang berjudul “Emptying the Mind” memahami “pikiran yang kosong” betul-betul dalam arti harfiah. Dia menyatakan hal berikut ini:
“Pikiran tidak diperlukan dalam meditasi, karena pikiran dan meditasi adalah dua hal yang berbeda mutlak. Ketika kita bermeditasi, kita tidak berpikir sama sekali. Tujuan meditasi adalah membebaskan diri kita dari semua pikiran. Pikiran itu seperti sebuah titik pada sebuah papan tulis. Entah titik ini baik atau buruk, titik ini sudah ada di situ. Hanya jika pikiran apapun tidak ada, maka kita dapat bertumbuh dan masuk ke realitas yang tertinggi. Di dalam meditasi yang dalam sekalipun, pikiran-pikiran dapat masuk, tetapi hal ini tidak akan terjadi dalam meditasi terdalam dan tertinggi. Dalam meditasi yang tertinggi, hanya akan ada cahaya. Anda harus tidak berpikir bahwa ketika pikiran anda kosong sepenuhnya, anda akan menjadi seorang yang tolol atau akan bertindak seperti seorang idiot. Itu tidak benar. Pada saat anda tidak mempunyai pikiran apapun dalam benak anda, harap anda jangan merasa telah tersesat sama sekali. Sebaliknya, rasakanlah bahwa sesuatu yang ilahi sedang disiapkan bagi kodrat anda yang murni dan terarah ke masa depan.”/1/
Pertanyaannya adalah: Bisakah pikiran kita kosong sama sekali, blanko sepenuhnya, kognisi berhenti? Pertanyaan pendek ini saya akan jawab dengan cukup panjang di bawah ini. Sebelum ke situ baiklah kita ketahui dulu beberapa pendapat lain tentang “pikiran yang kosong” dari beberapa praktisi meditasi orang Indonesia.

Tentang “mengosongkan pikiran”, Darmayasa yang mengaku guru meditasi menyatakan, lewat metafora, bahwa “hanya ketika anda telah mengosongkan gelas yang diisi penuh oleh air busuk, maka anda akan bisa mengisi gelas itu dengan isi lain, dengan air bersih, dengan susu murni, atau dengan amerta.”/2/ Ada dua hal yang mau saya kemukakan. Pertama, jika “mengosongkan pikiran” dipahami secara neurologis sebagai menghapus semua memori lama yang sudah terekam dalam organ otak, hal ini tidak dimungkinkan. Minimal, bekas-bekas memori dari masa lampau akan selalu dapat ditemukan pada area-area tertentu otak.

Sebuah studi menunjukkan bahwa aktivitas berbahasa pada waktu masih kanak-kanak, baik kanak-kanak monolingual maupun kanak-kanak bilingual, selamanya meninggalkan “jejak-jejak neural” yang terus bertahan hingga usia dewasa, tidak hilang sama sekali, dan mendatangkan dampak tertentu hingga usia tua (antara lain, mencegah kepikunan dini pada orang dewasa bilingual). Susan Perry menyatakan bahwa kemampuan bilingual sejak usia dini mengubah dengan signifikan struktur otak (volume materi abu-abu meningkat pada korteks parietal inferior kiri). Orang dewasa yang sejak kanak-kanak sudah fasih berbicara dalam dua bahasa memiliki kemampuan berkonsentrasi lebih tinggi dibandingkan orang yang monolingual; hal ini menandakan memori aktif mereka berfungsi dengan baik.”/3/ “Tandatangan neural” yang membedakan orang monolingual dan orang bilingual terlihat khususnya pada area yang dinamakan korteks frontalis inferior kiri,/4/ dan juga di area yang dinamakan korteks prefrontalis dorso-lateralis pada bagian otak kanan./5/

Tetapi, jika “mengosongkan pikiran” dipahami sebagai pertumbuhan dan perkembangan kognitif manusia dengan mengubah cara berpikir lama, hal ini dapat dicapai, juga lewat latihan meditasi Vipassana, tetapi itu pun tidak bisa berlangsung dalam sekejap, melainkan membutuhkan waktu yang lama dan proses kognitif yang tidak sederhana. Jelas, ini adalah pemahaman yang tidak harfiah atas frasa “pikiran yang kosong”.

Seorang yang menamakan dirinya Ki Bayu Sejati, dalam blognya, menulis bahwa tingkat lanjut dari meditasi adalah mencapai kondisi di mana si praktisi “sama sekali tidak lagi mempergunakan panca indera, termasuk pikiran dan perasaan” untuk mencapai “kenyataan yang asli”. Katanya lagi, kondisi terberat dalam bermeditasi adalah mencapai kondisi “pikiran tidak ada”, keadaan di mana “anda tidak berpikir lagi.”/6/ Tampaknya dia memahami kondisi “pikiran tidak ada” tidak secara harfiah. Dia menjelaskan bahwa kondisi “pikiran yang kosong” dicapai dengan cara memusatkan pikiran anda pada “suatu cita-cita, umpamanya cita-cita ingin menolong manusia-manusia lain, atau cita-cita ingin manunggal dengan Tuhan”. Cita-cita sejenis inilah yang tampaknya dimaksudkan olehnya sebagai “kenyataan yang asli”, yang juga dapat berupa “cahaya Tuhan yang hadir dalam hati” atau “kebesaran ilahi” atau “kesadaran yang lebih tinggi”. Dengan kata lain, pernyataan “anda tidak berpikir lagi” atau “pikiran tidak ada” atau “pikiran kosong” adalah pernyataan yang menyesatkan. Kalau kondisi “pikiran tidak ada” atau kondisi “anda tidak berpikir lagi” atau kondisi “pancaindra dan pikiran dan perasaan tidak digunakan lagi” dimaksudkan olehnya dalam pengertian yang harfiah, saya akan argumentasikan di bawah ini bahwa kondisi ini tidak mungkin bisa dicapai.


Mari kita cari jawabannya, apakah pikiran manusia bisa kosong dalam pengertian harfiah, sama halnya dengan sebuah gelas bisa kosong, dalam arti tidak berisi air atau udara sama sekali. Jika pikiran dapat betul-betul dikosongkan dalam meditasi, maka siapakah atau apakah sosok yang sedang bermeditasi itu? Tubuh duduk yang dinginkah, tanpa kehidupan lagi?

Otak kita tidak pernah berhenti bekerja selama 24 jam, termasuk ketika kita tidur sangat lelap dan tanpa mimpi (dengan gelombang otak delta, 1-3 Hz). Sejak moyang kita di zaman-zaman kuno, ratusan ribu tahun lalu, kondisi otak yang tetap aktif selamanya telah menjadi suatu faktor penting dalam mempertahankan kelangsungan kehidupan spesies kita, homo sapiens. Juga di zaman modern ini, otak kita yang terus aktif membuat kita bisa menavigasi respons-respons proaktif kita terhadap semua persoalan dan tantangan dunia modern, sejak bangun tidur, kerja di kantor, aktif ini dan itu, hingga pulang kembali lalu tidur lagi di malam hari. Beruntunglah kita punya pikiran yang terus aktif dan tidak pernah blanko. Tanpa kemampuan pikiran yang terus waspada dan aktif ini, kita sebagai suatu spesies sudah lama punah.  

Guru besar neurologi dan sains kognitif dari Universitas John Hopkins, School of Medicine, Prof. Barry Gordon, menyatakan,
“Otak manusia modern hanya 2% beratnya dari keseluruhan berat tubuh kita, tetapi menggunakan 20% dari seluruh energi yang tersedia dalam tubuh kita. Otak yang ‘lapar energi’ semacam ini, yang terus-menerus mencari petunjuk-petunjuk, hubungan-hubungan dan mekanisme-mekanisme, hanya mungkin bekerja jika metabolisme mamalia dalam tubuh disetel pada peringkat yang konstan tinggi. Kondisi berpikir terus-menerus inilah yang telah membuat kita tidak menjadi makanan kesukaan binatang-binatang buas di savana-savana, dan mencegah kita menjadi suatu spesies yang nyaris punah. Dari situ, kita berkembang menjadi suatu bentuk kehidupan yang paling berprestasi di planet Bumi. Dalam dunia modern pun, pikiran kita selalu mendorong kita dengan kuat untuk menemukan bahaya-bahaya dan peluang-peluang dari lingkungan sekitar kita, agak serupa dengan yang dikerjakan server mesin pencari. Namun, otak kita lebih maju setindak, dengan kemampuannya untuk juga berpikir proaktif, suatu tugas yang memerlukan lebih banyak proses mental…. Peninggalan yang kita terima dari moyang primata kita memberi kita sebuah keuntungan lain, yakni kemampuan untuk menavigasi suatu sistem sosial.”/7/
Sewaktu meditasi paling relaks sekalipun, dengan gelombang otak 1-3 Hz, pikiran kita tetap aktif, tidak pernah berhenti. Jika berhenti, maka tidak ada lagi motor penggerak bagi kehidupan semua organ tubuh kita. Artinya, kita terancam mati, karena organ-organ tubuh tidak diperintah lagi oleh pikiran kita untuk bekerja, sekalipun perintah ini berjalan otomatis, tanpa perlu kita atur dengan sadar. Semua sistem saraf dalam tubuh kita digerakkan oleh proses-proses kognitif dalam arti yang luas. Fungsi-fungsi metabolik dan fisiologis dan organik tubuh lumpuh total, jika pikiran kita seluruhnya tidak bekerja lagi. Graham E. Ewing (dari Montague Healthcare, Inggris) dan S.H. Parvez telah mengargumentasikan bahwa otak berfungsi hierarkis dan sistemik, dan fitur utama fungsi otak adalah mengatur fungsi-fungsi tubuh. Mereka memperlihatkan ada hubungan yang dinamis antara kognisi, sistem-sistem fisiologis, dan sistem saraf otonom, dan juga antara gelombang-gelombang otak dan fungsi tubuh yang berlangsung multilevel./8/ 

Hanya otak yang sudah mati, tidak memproduksi pikiran lagi. Begitu otak mati, si pemilik otak juga mati. Sebaliknya, semua organ tubuh kita, termasuk yang paling vital, pada dirinya sendiri bisa berkurang kemampuan kerjanya, secara bertahap, entah karena terserang berbagai jenis penyakit, kecenderungan-kecenderungan genetik, ataupun karena mengalami degenerasi saat kita perlahan menjadi tua. Penuaan juga, sebetulnya, adalah suatu penyakit, yang kini sedang dicari cara-cara menyembuhkannya. Juga bukan rahasia lagi, bahwa pikiran yang terus-menerus sehat, cerah, tanpa stres, berdampak signifikan pada kesehatan semua organ tubuh kita.    


Saat pikiran kita buntu pun, kita sedang berpikir, mencari-cari alternatif!


Telah kita ketahui, otak manusia itu ringan, cuma 1,5 kg beratnya, 2% dari seluruh berat tubuh kita. Tetapi meskipun ringan dan kecil, otak kita setiap hari memerlukan energi yang tersedia dalam tubuh kita sebesar 20 %. Otak kita sangat “energy-consuming”, perlu memakai energi besar. Kenapa? Karena otak kita adalah suatu organ sentral yang membuat kita menjadi suatu organisme hidup yang terus berpikir. Kalau mengambil analogi dari dunia komputer, otak kita adalah CPU-nya. Dan sesungguhnya otak kita memang sebuah komputer organik yang bisa diuraikan mekanisme kerjanya, paralel dengan kerja sebuah komputer. Neuron-neuron dalam otak kita, yang berjumlah 100 milyar sel, bekerja dengan tunduk pada, atau dengan dikondisikan oleh, hukum-hukum fisika dan kimia. Bedanya, sebagai sebuah komputer, mesin organik otak kita tidak bisa di-“switch-off” total.   

Dalam meditasi paling tenang sekalipun, pikiran tetap bekerja, tidak ada kondisi pikiran “blank” dalam meditasi apapun. Uji saja dengan cara sederhana: jika seorang praktisi meditasi yakin dia bisa membuat pikirannya blank 100 %, mintalah dia bermeditasi di sebuah ruang sampai mencapai kondisi yang katanya “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran berhenti sama sekali, alias blank. Lalu mulailah anda matikan AC di ruang tempat dia bermeditasi, lalu buatlah oksigen di ruang itu hampa. Atau, anda bakar ruang itu dengan cepat. Nah, apakah dia tidak akan memberi reaksi? Jelas, otaknya yang katanya sedang blank akan memberi reaksi, pikirannya langsung memerintahkannya melakukan sesuatu. Tidak mungkin dia bisa memberi reaksi jika pikirannya sedang blank. Pikiran yang blank, jika ada, sangat berbahaya buat kelangsungan kehidupan kita. Lagipula, adalah suatu fakta yang tidak bisa dibantah bahwa si pemeditasi bisa tahu pikirannya sedang blank, ya karena pikirannya masih bekerja, ya karena dia berpikir pikirannya sedang blank. Karena dia berpikir pikirannya sedang blank, maka dia temukan pikirannya seolah sedang betul-betul blank. Dengan kata lain, dia dikondisikan oleh pikirannya sendiri, atau dia ditipu, oleh pikirannya sendiri sehingga dia berpikir bahwa pikirannya sedang kosong total.   

Ya betul, pikiran kita bisa kosong total, tetapi hanya jika kita sudah mati, otak kita sudah membusuk dan tidak bekerja lagi, dan tubuh kita sebagian besar berubah menjadi kimia kembali, kimia carbon yang akan terus terdaur ulang dalam alam di Bumi ini. Saat kita sudah mati, personalitas kita lenyap, semua memori juga sirna, maka kondisi tanpa kondisi terjadi. Selama kita masih hidup dalam dunia, di dalam suatu sistem sosial dan sistem kultural, kita semua terkondisi. Bahkan pada level paling fundamental, level subatomik, sel-sel seluruh tubuh kita juga terkondisi oleh hukum-hukum fisika dan kimia yang berlaku dalam empat dimensi ruangwaktu kita dan di dalam jaga raya kita. Sel-sel tubuh kita, karena terkondisi oleh hukum-hukum itu, mengambil bentuk bulatan-bulatan, atau bahkan dawai-dawai, bukan kubus atau elips. Di luar empat dimensi ini, yakni dalam dimensi ke-5 hingga dimensi ke-26, dan dalam jagat-jagat raya lain, dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang berbeda, struktur dan morfologi sel-sel tubuh organisme akan berbeda. Jadi, dari dunia subatomik sampai dunia mahabesar jagat-jagat raya, tidak ada kondisi tanpa kondisi. Jika anda berpikir bahwa anda bisa masuk ke kondisi “tanpa kondisi”, itu adalah pikiran anda yang dikondisikan oleh komunitas anda. Lewat sesepuh-sesepuh komunitas anda ini, anda diajarkan dan diyakinkan demikian. Saat saya menyatakan hal yang berbeda, saya juga dikondisikan oleh sesuatu yang lain, yakni ilmu pengetahuan modern.  

Jadi, adalah sebuah kesalahan besar jika ada orang yang mengklaim “pikiran bisa dihentikan” dalam sebuah meditasi. Tidak ada landasan ilmiahnya, cuma dipropagandakan saja.

Kata orang beragama, jika pikiran kita blank, si setan akan masuk merebutnya!

Pikiran atau pemikiran, mind and thought, melibatkan proses-proses kognitif, tidak akan bisa dihentikan, hard wired dengan fungsi otak kita Tetapi bisa dipantau, diamati. Lalu akan membuat kita makin kenal diri dan kecenderungan-kecenderungan mental kita. Dari situ, kita makin bertambah kenal dunia real, dan tempat kita di dalamnya; alhasil, kita bisa memperbaiki diri dan menyempurnakan diri terus-menerus. Dan karena kehidupan kita sendiri adalah meditasi aktif yang real, maka sangat penting pikiran kita terus-menerus kita pantau: kita melakukan apa yang dalam psikologi dinamakan “metakognisi”.

Metakognisi ini membuat kita berpikir tentang pikiran kita sendiri, memikirkan isi pemikiran kita sendiri. Pikiran atas pikiran. Alhasil, kita bisa makin bijaksana dan makin cerdas dan makin berwawasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, selama 24 jam, diselingi 8-10 jam tidur malam setiap hari. Inilah yang perlu kita latih, meditasi “keterjagaan” (Vipassana), meditasi memantau dan mengenali isi pikiran kita sendiri sampai detail, bukan menganggap pikiran kita bisa dibuat blank lewat meditasi.

Menjadi insan yang makin baik, makin cerdas, makin visioner, makin bajik, makin bijak, lewat Vipassana dan metakognisi, jauh lebih penting ketimbang mengejar kondisi yang dinamakan “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran yang diklaim “kosong”, yang dalam kenyataannya tidak ada sama sekali. Tidak ada landasan ilmiahnya. Lagipula, seandainya pikiran bisa kosong sama sekali, kekosongan pikiran ini berguna untuk apa? Daripada sia-sia mengejar kondisi “tanpa kondisi”, yakni kondisi “pikiran blank”, lebih bermanfaat jika kita mengenali dan memantau isi pikiran-pikiran kita, alhasil kita bisa bermawas diri, mewaspadai diri, yang akan membuat kita akhirnya, setelah melewati usaha-usaha keras dan penuh disiplin, menjelma sebagai insan yang agung, insan kamil. Dunia dan peradaban dibangun dan dibentuk oleh otak yang penuh, yang konstan bekerja, bukan oleh otak yang kosong dan berhenti bekerja. 

Intermezo saja menjelang akhir tulisan ini: kondisi yang diklaim sebagai “kondisi tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran blank, kosong penuh, yang diklaim dicapai lewat teknik meditasi tertentu, oleh orang beragama yang pernah berdiskusi dengan saya dianggap sebagai kesempatan masuknya setan ke dalam otak yang tidak terjaga! Nah loh. Tentu saja, orang beragama yang berpendapat demikian juga dikondisikan oleh agama mereka saat mereka menyatakan hal yang mengagetkan itu dalam bahasa mitologis. Nothing in the universe is unconditioned! Tentu saja, di dalam zaman modern ini, kekuatan-kekuatan perusak yang dulu dipersonifikasi dalam sosok setan (dan berbagai nama lain), kini dijelaskan dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Kalau dulu di era mitologis penyakit perut dibayangkan ditimbulkan oleh masuknya setan-setan atau roh-roh jahat ke dalam perut, kini sang setannya atau sang roh jahatnya, lewat sains, sudah ditemukan sebagai virus dan bakteri. Kalau pun seorang yang baru mulai latihan meditasi vipassana tiba-tiba “kerasukan setan”, dia bukan kerasukan setan dalam arti harfiah, tetapi karena penyakit mentalnya yang dinamakan Multiple Personality Disorder atau Dissociative Identity Disorder tiba-tiba kambuh!  

Sekali lagi, saat saya menyatakan demikian, saya juga dikondisikan, ya oleh ilmu pengetahuan. Pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang segala hal dalam alam ini juga dikondisikan oleh bukti-bukti, metode-metode, teori-teori, model-model atau paradigma-paradigma, dan karena terkondisi, ilmu pengetahuan tidak pernah tiba di ujung terjauh. Tidak pernah final, tidak pernah absolut, tetapi terus berubah dan berkembang, sangat dinamis. Karena terkondisi, maka ilmu pengetahuan pun bisa berfungsi kreatif dan konstruktif bagi peradaban manusia selama dunia masih ada. Karena terkondisi juga, pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang banyak hal akan suatu saat tidak relevan lagi, terbukti keliru, lalu akan digantikan dengan pandangan-pandangan yang lebih baru. Karena kehidupan setiap orang di planet Bumi ini sekarang ini membutuhkan sains dan teknologi modern jika mereka ingin hidup baik dan sehat, maka kehidupan kita semua niscaya terus terkondisi.

Banyak praktisi meditasi dengan tepat melihat bahwa pikiran sama sekali tidak bisa dikosongkan; kita semua hidup terkondisi oleh banyak hal, termasuk juga ketika kita sedang bermeditasi. Dalam meditasi yang diklaim sebagai meditasi tingkat tertinggi sekalipun, pikiran sama sekali tidak pernah bisa dikosongkan, dan, seandainya bisa, memang tidak perlu dikosongkan. Jika seorang praktisi meditasi mengklaim telah “manunggal dengan Tuhan” di dalam puncak meditasinya, klaim ini juga terkondisi, terkondisi oleh teologi mistik yang dipercayainya dan dipercayai komunitasnya. Tidak ada teologi “in vacuum”, yang murni, tidak terkondisi. Tetapi, kendatipun pikiran diakui tidak bisa dikosongkan, mereka tetap mempertahankan frasa “pikiran yang kosong”, tetapi dengan diberi arti bukan harfiah, melainkan metaforis. 

Seorang guru meditasi Vipassana, dan pendiri Vipassana Support International, yang bernama Shinzen Young, mengawali tulisannya yang berjudul “Meditation and Emptying the Mind” dengan kata-kata ini: “Apakah tujuan meditasi adalah untuk mematikan pikiran dan mendapatkan suatu kesenyapan batin atau suatu keadaan tanpa pikiran? Beberapa guru akan menjawab ya dan beberapa lagi akan menjawab pasti bukan itu! Sangat membingungkan...!” Selanjutnya dia menjelaskan berpanjang lebar apa artinya “emptying the mind”, “mengosongkan pikiran”. Menurutnya, “mengosongkan pikiran” adalah “menghancurkan kecanduan orang untuk berpikir atau untuk terpaksa berpikir”. Sesudah kecanduan ini dilenyapkan, “mengosongkan pikiran” berarti menjalankan “proses berpikir yang tidak lagi diserak-serak oleh kekuatan-kekuatan pembuyar”, melainkan terfokus kuat pada satu titik bak “seberkas sinar laser yang koheren dan menembus”. Di saat konsentrasi ini sudah dicapai, maka “mengosongkan pikiran” berarti “berpikir dengan suatu cara yang baru”, yang “spontan dan intuitif”, dan “menjadi bagian dari arus alam yang lembut dan gemulai”, yang akan bermuara pada “suatu keadaan kalem yang siaga”./9/

Lagi, kita temukan, Shinzen Young juga memahami “pikiran yang kosong” tidak secara harfiah, melainkan sebagai sebuah metafora tentang perombakan isi pikiran dan cara berpikir yang lama, diganti dengan isi pikiran dan cara berpikir yang baru: yang terkonsentrasi, yang dicapai dengan spontan, tanpa dipaksa oleh apapun, yang memuat perspektif-perspektif baru, yang akhirnya menimbulkan dampak ketenangan dan kesiagaan batin.

Hemat saya, lebih baik berpendirian seperti Shinzen Young: mengakui bahwa “pikiran yang kosong” adalah kondisi yang tidak mungkin ada, sebagaimana sudah saya argumentasikan di atas; dan, jika frasa “pikiran yang kosong” masih tetap mau dipertahankan, ya frasa ini diberi arti metaforis, bukan arti harfiah.  
 
Jakarta, 2 Agustus 2015 

ioanes rakhmat


Catatan-catatan 

/1/ Sri Chinmoy, “Emptying the Mind”, pada http://www.srichinmoy.org/spirituality/concentration_meditation_contemplation/meditation/the_silent_mind/emptying_the_mind.  

/2/ Darmayasa, “Mengosongkan Pikiran”, Divine Love Society, pada http://www.divine-love-society.org/mengosongkan-pikiran/.

/3/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, pada http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/. Lihat juga Viorica Marian dan Anthony Shook, “The Cognitive Benefit of Being Bilingual”, Cerebrum, 31 October 2012, pada http://dana.org/Cerebrum/2012/The_Cognitive_Benefits_of_Being_Bilingual/.

/4/ Lihat misalnya Ioulia Kovelman, Stephanie A. Baker, Laura-Ann Pettito, “Bilingual and Monolingual Brains Compared: A Functional Magnetic Resonance Imaging Investigation of Syntactic Processing and a Possible ‘Neural Signature’ of Bilingualism”, Journal of Cognitive Neuroscience, January 2008, Vol. 20, No. 1, hlm. 153-169, pada http://www.mitpressjournals.org/doi/abs/10.1162/jocn.2008.20011?#.Vb7NjmC5I8I.

/5/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, pada http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/.

/6/ Ki Bayu Sejati, “Olah Batin dengan Meditasi”, Blog Ki Bayu Sejati, pada https://kibayu.wordpress.com/olah-batin-dengan-meditasi/.

/7/ Barry Gordon, “Why Is It Impossible to Stop Thinking, to Render the Mind a Complete Blank?”, Scientific American, 18 October 2012, pada http://www.scientificamerican.com/article/ask-the-brains-why-impossible-to-stop-thinking/.

/8/ Graham E. Ewing dan S.H. Parvez, “The Dynamic Relationship between Cognition, the Physiological Systems, and Cellular and Molecular Biochemistry: A Systems-based Perspective on the Process of Pathology", Rediviva, 20 April 2010, pada http://www.rediviva.sav.sk/52i1/31.pdf.

/9/ Shinzen Yang, “Emptying the Mind”, Shinzen.org., Meditation in Action, pada http://www.shinzen.org/Articles/artEmptyMind.htm