Sunday, September 17, 2017

CYBER RELIGION?
Ibadah Minggu online sedang muncul


Terma Cyber Religion (CR) itu SALAH KAPRAH seolah dunia cyber Information and Communication Technology (ICT), di dalamnya termasuk Internet, sudah menjadi agama atau Tuhan yang disembah.

Konon, kata sejumlah orang, CR menampilkan sosok-sosok Tuhan baru hasil sinkretisme atau amalgamasi atau kawin silang antar ide-ide tentang Tuhan yang diambil dari sana sini di dunia cyber.

Pendapat ini naif, dan terus disebarkan untuk menimbulkan kebingungan. Faktanya, jauh sebelum era ICT modern tiba, di era SM, dan sesudahnya, setiap agama memang lahir dari sinkretisme atau kawin silang berbagai ide tentang Tuhan yang sudah ada di dunia sekitar.

Tidak ada agama atau ide tentang Tuhan apapun yang murni 100 persen, sama halnya dengan tidak adanya DNA individu manusia yang murni seratus persen.

Paling jauh, ICT itu adalah wahana dan sarana modern pengganti wahana dan sarana yang tradisional dalam orang beribadah dan belajar agama.

Keadaan ini serupa dengan Uber Taxi online yang kini sedang menggantikan taxi tradisional Blue Bird. Atau mirip dengan sedang tergesernya toko besar Matahari dan Sogo oleh online shopping di Tokopedia atau di Lazada dll. Begitu juga halnya toko buku online Amazon dan Alibaba, misalnya, sudah lama menggeser toko-toko buku tradisional yang memerlukan banyak bangunan fisik yang didirikan di atas sebidang tanah luas.

Dengan ICT, orang tak perlu lagi datang secara fisik ke sebuah gedung gereja (atau rumah ibadah lain) untuk beribadah di hari Minggu (atau di hari lain). Cukup lewat ICT saja di rumah. Tak perlu terjebak macet yang menimbulkan kelelahan dan pemborosan bahan bakar kendaraan.

Tapi, pada sisi negatifnya, jika umat dapat beribadah cukup lewat ICT di rumah, para pendeta gereja bisa terserang stres berat karena penurunan drastis jumlah pengunjung kebaktian gereja di hari Minggu, dengan dampak penurunan drastis juga dalam penerimaan uang persembahan yang masuk ke kas gereja. Selanjutnya, efek domino akan terjadi.

Selain itu, ibadah via ICT saja dapat menimbulkan rasa kesepian yang dalam lantaran orang kehilangan interaksi fisik dengan sesama warga gereja. Kita bisa membangun hubungan cukup dalam dengan mesin-mesin; tapi kontak antarindividu insani juga sangat mendasar sehingga tidak bisa dihilangkan jika kita ingin hidup sehat seutuhnya, ragawi dan mental.

Ibadah via ICT tentu suatu pilihan tepat jika anda terhalang untuk datang ke ibadah Minggu di gereja anda lantaran anda sakit atau lumpuh atau sedang bermasalah di gereja yang sulit anda selesaikan (misalnya, anda sedang sakit hati pada seorang pendeta di gereja anda; atau anda sedang terlibat konflik di sana).

Dengan ICT, sebetulnya warga jadi bebas memilih corak dan bentuk ibadah serta isi khotbah yang lebih berwawasan, seperti anda bebas memilih-milih stasiun radio lewat pesawat radio anda.

Karena ICT, orang jadi tidak terikat mutlak lagi pada satu aliran atau denominasi gereja. Keanggotaan menjadi cair, tak lagi kaku mengikat. Pemaksaan doktrin juga anda bisa tolak. Melepaskan diri dari sekte sesat juga mudah anda lakukan.

Selain itu, keanggotaan yang cair juga membuat anda tidak harus memberi persembahan uang anda ke satu gereja saja. Dunia ini menjadi gereja anda, sebagai ladang anda melayani Tuhan dan sesama. Tanpa sekat doktrin dan aliran. Anda tidak wajib lagi harus aktif hanya di satu gereja.

Jangan heran, sekali lagi, jika ICT yang dimanfaatkan dengan kreatif untuk berbagai kepentingan spiritual membuat banyak sekali pendeta penjaga dan pengerja gereja-gereja merasa gerah, tersisihkan dan cemas. Mustinya tidak perlu begitu, jika mereka dapat melihat dan memanfaatkan ICT sebagai sarana dan wahana untuk memperluas jangkauan dan raihan pekerjaan mereka di dunia kependetaan yang modern.

Kecemasan mereka akan meningkat jika nanti gereja-gereja fisik terlembaga yang dibangun di atas lahan-lahan luas mulai digantikan dengan gereja-gereja online yang tidak memerlukan bangunan fisik yang berharga milyaran rupiah dan untuk membangunnya perlu mengurus dan mendapatkan IMB yang kerap tidak mudah.

Akhir kata, orang yang melek iptek, dus tahu apa itu ICT, tidak mungkin menjadikan dunia cyber sebagai agama atau Tuhan baru yang harus dipuja, disembah dan ditaati. Bagi mereka, ICT adalah sarana dan wahana modern untuk dimanfaatkan dengan benar dan kreatif dalam membangun gereja-gereja online, khususnya sebagai wahana dan sarana online ibadah Minggu.

Jadi, terma Cyber Religion adalah sebuah oxymoron, suatu penggabungan dua kata atau dua hal yang bertentangan yang tidak mungkin ada dalam dunia real. Karena itu, selanjutnya terma ini tidak perlu dipakai lagi. Hanya orang yang sedang ngelindur saja yang akan terus memakainya.

Yang sekarang sedang terjadi adalah ibadah-ibadah Minggu fisik di dunia real sedang diganti dengan ibadah-ibadah online lewat ICT, Internet dan komputer-komputer di rumah anda.

Jakarta, 17 Sept 2017

Salam,
ioanes rakhmat

N.B. Silakan share jika ingin. Tq


Friday, September 8, 2017

Teologi, psikologi dan sosiologi anda


Jangan abai untuk eling, periksa diri, mawas diri, dan koreksi diri, jika anda temukan diri anda sedang terkurung DELUSI TEOLOGIS.

Delusi teologis membuat dan memaksa anda mengklaim dan yakin mutlak sekalipun tanpa bukti empiris bahwa teologi anda adalah teologi paling unggul, paling hebat, paling benar, dan paling sempurna, jika dibandingkan dengan teologi lain apapun yang ada di dalam semua agama lain.

Oh ya, teologi anda itu adalah sekumpulan ide-ide anda tentang Tuhan. Bisa sudah tersusun dengan sistematis; bisa juga masih terserak, awut-awutan, amburadul.

Tentu saja, teologi yang saya maksud di sini teologi yang aktual terlihat dan dipraktekkan seorang yang beragama, bukan polesan teks-teks suci sebagai kamuflase dan topeng ayat untuk menipu masyarakat, misalnya untuk menggasak dan melahap uang masyarakat karena kerakusan dan moral yang bejad. Biasanya, orang semacam itu piawai mengutip dan mengkhotbahkan teks-teks skriptural tentang derma dan kemurahan hati sementara dirinya sendiri rakus, tamak dan haus duit.

Saya anjurkan, daripada orang yang rakus duit semacam itu mengutip teks-teks skriptural tentang kedermawanan sebagai kedok dasamukanya, lebih baik dia tidak usah munafik, tapi dengan berterusterang mendukung kerakusan dan kekikiran dan kelobaannya dengan teks-teks skriptural yang cocok, supaya hidup keagamaannya sinkron dengan wataknya.

Tapi poin penting yang saya mau ulas lebih lanjut adalah pertanyaan ini: Mengapa anda perlu eling terhadap delusi teologis?

Karena TEOLOGI ANDA sangat dipengaruhi, dikondisikan dan dikendalikan oleh PSIKOLOGI ANDA, yakni kondisi mental/kejiwaan bawaan kelahiran dan yang terbentuk oleh berbagai sikon sosial dan pengalaman kehidupan anda sejak kanak-kanak hingga saat ini.

Lalu, psikologi dan teologi anda ini akan terus saling memanfaatkan, membentuk dan mengendalikan. Interaktif. Satu saat, teologi mendominasi psikologi; di saat lain, sebaliknya. Tapi keduanya tidak bisa diceraikan, ibarat tangan kiri dan tangan kanan yang saling menggenggam erat, mengambil posisi berdoa.

Tak ada teologi tanpa psikologi; bahkan sebetulnya, psikologi itu fondasi teologi. Sebab, manusia yang memiliki mental itulah yang membangun setiap teologi. Tuhan tidak butuh teologi, karena setiap teologi membelenggu dan mengurung Tuhan yang pada hakikatnya mahatakterbatas. Begitu teologi sudah disusun, psikologi dan teologi terlibat interaksi dan interkoneksi.

Dus, untuk menukar dan mengoreksi teologi anda, anda perlu berjuang keras memeriksa dan memperbaiki psikologi anda. Ini hal yang akan makin sulit dilakukan jika secara psikologis anda sudah masuk ke usia mapan, saat jam biologis anda sudah masuk level manula.

Satu contoh: jika psikologi anda adalah psikologi orang yang kalem dan lembut hati, maka anda akan memilih dan mempertahankan dan mengamalkan teologi tentang Tuhan yang damai, kalem dan lembut hati. The theology of the meek and kind God.

Sebaliknya, teologi tentang Tuhan pemimpin perang suci, the aggressive God of holy wars, tidak akan bisa cocok dengan psikologi insan lembut dan damai anda.

Satu contoh lagi. Jika anda insan dengan psikologi positif dan optimistik serta tak kenal putus asa, penuh pengharapan, maka teologi kiamat bukan pilihan anda. Doomsday theology kaum yang secara psikologis sudah kesurupan ideologi tentang kebinasaan dunia, anda buang dan tendang jauh, lalu anda merangkul teologi pengharapan, the theology of hope.

Tak percaya jika saya katakan bahwa psikologi anda berandil besar dalam teologi anda, dan keduanya berangkulan? Silakan uji sendiri dan buktikan dan temukan sendiri.


Nah, mari kita lanjutkan menggoes sepeda kita, naik ke sebuah tanjakan yang makin tinggi.

Delusi teologis juga harus diwaspadai karena ada alasan kedua. Yakni: TEOLOGI ANDA dan SOSIOLOGI ANDA itu juga berinteraksi, saling memanfaatkan, mengondisikan, membentuk dan memperkuat.

Sosiologi anda mencakup banyak faktor sosial kultural, edukatif, pengasuhan, ideologis politis, dan ekonomis.

Semua faktor ini membentuk diri anda, jatidiri anda, kondisi psikologis dan kepribadian serta pembawaan, watak, sifat dan pola kelakuan dan tindakan anda dalam kehidupan anda selaku individu dalam masyarakat dan dunia ini.

Sebagai individu, anda adalah satu sosok pribadi bentukan gen anda (faktor genetik), bentukan hormonal dalam rahim bunda anda (faktor epigenetik), dan sekaligus bentukan lingkungan dan ekologi sosial anda (faktor lingkungan sosial dan lingkungan alam).

Nilai-nilai kehidupan atau life values yang anda pegang dan yakini pun bukan pilihan bebas absolut anda, walaupun anda biasa ngotot berkeyakinan bahwa nilai-nilai kehidupan yang anda pegang adalah pilihan bebas anda.

Sifat ngotot anda itu juga produk sosiologi anda yang berupa pembawaan atau watak yang mau menang sendiri, hasil dari gaya dan bentuk pendidikan dan pengasuhan yang anda telah bertahun-tahun jalani dalam  komunitas-komunitas penopang sosiologis anda.

Nah, teologi ada dalam wilayah nilai-nilai kehidupan yang anda dapatkan dari sosiologi anda.

Jika anda diasuh, dibesarkan dan bekerja dalam lingkungan sosiologis anda yang mengutamakan nilai kompetisi habis-habisan dalam dunia bisnis, yang memotivasi anda untuk menjadi kaya raya secepat dan semudah mungkin, dengan melibas dan menenggelamkan kompetitor-kompetitor bisnis anda dalam lelautan merah berdarah-darah tanpa ampun, maka anda akan memilih teologi yang cocok yang harus dapat memberi legitimasi pada nilai kerakusan dan kekejian para kapitalis rakus yang anda anut dan yang di dalamnya anda dididik dan dibesarkan dan bekerja.

Jika anda berada di lokasi sosial ekonomi sebagai pebisnis yang memakai strategi bisnis lelautan merah penuh darah (dikenal sebagai Red Ocean Strategy), maka teologi yang anda paling sukai dan pilih adalah teologi para kapitalis rakus seperti teologi kemakmuran atau teologi sukses atau teologi anak sang Raja yang mahakaya. Teologi ini membenarkan cara-cara bejad anda dalam mendapatkan kekayaan yang terus berlimpah dalam waktu secepat-cepatnya.

Kalangan rohaniwan dan kalangan umat yang lokasi sosialnya lokasi para kapitalis rakus, tidak akan mungkin memilih teologi pembebasan atau liberation theologies yang mendorong manusia yang beriman untuk mendistribusikan sebagian signifikan kekayaan mereka yang berlimpah juga kepada orang miskin lewat berbagai kegiatan pemberdayaan dan peningkatan kualitas kehidupan orang miskin sedunia.

Para kapitalis rakus hanya butuh teologi rakus, teologi kakus, sampai mampus dirubungi tikus-tikus.

Jika anda tergolong kalangan religius jenis kapitalis rakus ini, mustinya anda malu besar pada sosok-sosok dunia yang sekuler atau tidak peduli pada agama atau yang ateis, misalnya Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Dua sosok orang sangat kaya yang terkenal di dunia sekarang ini memakai jumlah terbesar kekayaan mereka bagi pemberdayaan orang miskin dan terbelakang di dunia kita dewasa ini. Ya, mereka kapitalis, tapi filantropis, tak tamak harta.

Jika anda diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan komunitas sosial yang menghasilkan sosok-sosok filantropis, dan yang memakai strategi kompetisi bisnis yang teduh di lelautan biru tanpa darah (dinamakan Blue Ocean Strategy), maka nilai-nilai kehidupan yang anda pilih adalah nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, keadilan ekonomi dan sosial, dan persaudaraan semesta antar semua insan.

Dalam lokasi sosiologi anda ini, teologi pembebasan dan teologi kemakmuran global bersama adalah pilihan anda. Anda tidak akan memilih dan membenarkan teologi penindasan atau teologi sukses atau teologi keberlimpahan harta.

Satu contoh lagi: jika anda dilahirkan, diasuh dan dididik dan dibesarkan di lingkungan sosial masyarakat Nepal, misalnya, maka teologi yang anda pilih tidak mungkin teologi tentang Tuhan sebagai Sang Panglima Kudus perang suci kawasan gurun yang terik atau the invasive God of holy wars.

Sebaliknya, anda akan memilih teologi tentang Allah yang meditatif, kontemplatif, sunyi, damai, anteng, kalem, kosong, duduk bersila di atas sekuntum bunga teratai, dan lembut hati. Yaitu, the God of silence, stillness and emptiness. The God of the unvoiced. The God of the meek. The meditative God.

Jadi, waspadai, kenali dan temukan fakta bahwa teologi anda juga sosiologi anda. Tidak ada teologi tanpa basis sosiologi, begitu juga sebaliknya dalam suatu masyarakat religius; keduanya berinteraksi, saling mengondisikan, saling memanfaatkan. Tak ada teologi yang lahir dalam kevakuman sosiologis.

Jika anda masih muda, dan secara psikologis masih lentur, lokasi sosiologis anda sekarang dapat anda ganti. Mengganti lokasi sosiologis, akan membuat anda menemukan Tuhan dengan wajah sosiologis yang juga lain dan berganti. Hiduplah dalam lokasi-lokasi sosiologis yang membuat anda berjumpa Tuhan yang tampil dengan raut wajah yang damai dan yang hatinya penuh cinta pada semua insan yang terinterkoneksi sebagai sesama saudara.

Tetapi, pindah lokasi sosiologis sangat berat dan penuh risiko tinggi; namun bisa anda lakukan jika anda punya komitmen moral yang kuat dan kemauan teguh untuk menjadi warga sosiologis semesta yang dinamis dan senantiasa berada dalam gerak, pindah lokasi sosial berulangkali. Menjadi musafir. Terus berkelana. Terus berenang di lelautan tanpa pantai dan tanpa pelabuhan.

Buktikan dan temukan sendiri tesis yang sudah dibeberkan ringkas di atas. Anda perlu bantuan pisau bedah analitis dari sosiologi pengetahuan atau sociology of knowledge dalam memperlihatkan fakta bahwa suatu ide teologis selalu berinteraksi dengan ide-ide sosiologis. Tuhan hidup dalam masyarakat.

Goes sepeda anda terus ke depan. Kalau tidak, anda dan sepeda anda akan jatuh dan ambruk.

Salam,
ioanes rakhmat

Monday, August 28, 2017

CHIP IMPLAN RFID dan ANGKA 666

Jangan mau dibohongi para agamawan dengan pakai angka 666!!



Tanya: Beritanya, sekarang ada chip implan yang memakai angka 666 sebagai kode atau branding (pada barcode chip)./*/ Apakah itu berarti, chip itu ciptaan Antikristus yang melawan Tuhan? Dus, harus dilawan dan ditolak?

Jawab: Marilah kita tempatkan kemunculan angka 666 dalam konteks sejarahnya saat angka ini dipakai.

Angka 666 itu punya ekuivalen huruf-huruf Yunani (di abad pertama M di kawasan Laut Tengah) yang masing-masing punya nilai angka. Jika digabung, huruf-huruf Yunani yang berjumlah angka 666 itu membentuk kata-kata NERON KAISAR, yaitu Kaisar Nero yang di era kelahiran kekristenan di Imperium Romawi dikenal sebagai salah seorang kaisar penindas dan penganiaya umat Kristen awal di abad pertama M.

Nah, angka 666 muncul di teks kitab Wahyu Yohanes dalam Perjanjian Baru (sebagai kitab terakhir PB) sebagai simbolik numerik yang mengacu ke Kaisar Nero.

Salah satu tujuan kitab Wahyu Yohanes ditulis adalah untuk memperkuat daya tahan mental dan daya perlawanan spiritual orang Kristen di Asia Kecil yang sedang dizalimi oleh pemerintahan Romawi dan oleh faksi-faksi Yahudi.

Komunitas Kristen di Asia Kecil yang sedang dipersekusi itu kelompok minoritas. Mereka tak berdaya untuk melawan para penindas mereka terang-terang secara terbuka lewat adu kekuatan fisik atau lewat perang terbuka.

Mereka pakai cara lain, yakni menjalankan gerakan perlawanan bawah tanah. Jelas, mereka bukan Mass Rapid Transportation yang bergerak cepat di bawah tanah.

Nah, dalam berkomunikasi tentang hal-hal yang terkait dengan perlawanan mereka dan posisi lemah mereka, mereka menggunakan bahasa simbolik, bahasa sandi, isyarat, ungkapan karikaturis, bahasa esoteris, yang dituangkan ke dalam karya-karya sastra religius politis bawah tanah, yang diam-diam disebarkan ke sesama anggota komunitas Kristen yang tengah teraniaya dan terzalimi.

Kitab Wahyu Yohanes adalah salah satu sastra bawah tanah mereka. Alhasil, kita temukan banyak ungkapan simbolik karikaturis dan misterius dalam kitab ini yang bisa membuka ruang bagi segala macam penafsiran cocokologis seenak udel di zaman kita, bahkan jauh sebelumnya.

Angka 666 dalam kitab Wahyu jelas bermuatan ekspresi simbolik yang merujuk ke satu sosok atau pemerintahan pagan yang kejam yang sedang mereka lawan lewat gerakan laten bawah tanah.

Dus, angka 666 tak usah dikait-kaitkan dengan sosok siapapun atau dengan kejadian atau sistem atau produk komersial atau produk iptek apapun yang ada dalam dunia modern abad ke-21 yang mengenal globalisasi, yang terpisah oleh kurun 20 abad dari kekristenan di Asia Kecil itu. RFID itu produk iptek dengan banyak kegunaan dan tujuan, dan sejak bertahun-tahun lalu sudah ada dan dimanfaatkan. Bukan produk setan.

Selain itu, perlu anda ketahui, julukan "Antikristus" dalam surat-surat 1 dan 2 Yohanes dalam Perjanjian Baru (ditulis abad pertama M atau di awal sekali abad kedua M) diberikan kepada sekelompok warga gereja atau kelompok-kelompok dalam gereja (yang dikaitkan dengan Rasul Yohanes yang dipercaya sebagai pendirinya) yang tidak mengakui bahwa Yesus Kristus itu sungguh-sungguh satu sosok insani berdaging, memiliki tubuh, bukan suatu roh atau ghost yang sedang mengembara di muka Bumi yang tampaknya saja sebagai sosok manusia, padahal bukan manusia yang real.

Kelompok yang diberi label Antikristus ini dikenal sebagai kelompok penganut mazhab doketisme (dari kata Yunani "dokein", artinya "tampaknya" atau "kelihatannya"), yaitu kelompok Kristen gnostik abad-abad pertama yang menolak kemanusiaan Yesus.

Bagi mereka, Yesus itu ghost, tidak memiliki daging, dan dapat berubah-ubah rupa, berganti paras, satu saat kelihatan sebagai si A, di lain kesempatan sebagai si B, atau si C, dst. Sebaliknya, komunitas yang dibangun Rasul Yohanes menegaskan bahwa Yesus adalah sang Kalam yang telah "menjadi daging" (Yunani: sarks egeneto).

Jadi, label Antikritus (atau julukan lain seperti Dajjal atau Lucifer atau Mara) juga tidak perlu dihubung-hubungkan dengan sosok insani atau produk dagang atau produk iptek apapun di zaman sekarang.

Itu klarifikasi cerdasnya.
Silakan sebarkan. Tq

Salam,
ioanes rakhmat
28 Agustus 2017

/*/ Chip implan yang dinamakan Radio Frequency Identification (RFID), yang sebetulnya sudah lama ada, kini telah dikemas dalam "teori konspirasi" yang dibangun kalangan-kalangan religio-neurotis tertentu.

Oleh para "teoretikus konspirasi" ini RFID dikaitkan dengan Tatanan Dunia Baru (NWO) yang, dalam khayalan mereka, akan segera dikuasai dan dikendalikan segelintir korporasi dunia, yang, tuduh mereka, didalangi Setan atau Antikristus sebagaimana dirujuk dalam Perjanjian Baru.

Kecurigaan terhadap RFID yang berlebihan ini telah dibeberkan di sini
http://www.express.co.uk/news/weird/703856/MARK-OF-THE-BEAST-Secret-plan-to-implant-us-all-with-ID-chips-by-2017.



Monday, July 31, 2017

Tuhan, hukum alam, penyakit dan azab

Sejauh hukum-hukum matematis mengacu ke realitas, hukum-hukum ini tidak pasti. Dan sejauh hukum-hukum matematis itu pasti, hukum-hukum ini tidak mengacu ke realitas.
☆ Albert Einstein


Chaos theory: kepak-kepak kupu-kupu di Bandung, Indonesia, menimbulkan puting beliung dahsyat di San Francisco, USA

Seorang sahabat yang, seperti saya, sedang mengalami banyak kesusahan, menyatakan bahwa dia tidak bisa paham mengapa Tuhan memberi manusia penderitaan. Meskipun teman saya itu terguncang oleh fakta adanya azab dan tampak Tuhan tidak bertindak apapun, dia menyatakan masih tidak meragukan keberadaan Tuhan.

Terhadapnya, saat ini saya bisa membeberkan jawaban saya berikut ini, hanya sejauh ini.

Tuhan tidak memberi penderitaan.

Justru Tuhan memerangi penderitaan. Dalam soteriologi Kristen, Tuhan dalam diri Yesus digambarkan menanggung penderitaan manusia, dan ini berdampak menyembuhkan. Ini teologi ya. Keyakinan. Bisa tak tercapai. Karena bukan obat medikal. Kita semua tahu, bahkan obat medikal apapun bisa tidak memberi efek terapeutik jika salah digunakan, atau menimbulkan efek samping yang berbahaya selain efek terapeutik yang persentasenya lebih kecil.

Jika begitu, darimana penderitaan timbul?

Penderitaan timbul dari hukum-hukum alam, termasuk hukum-hukum kimiawi dan fisika yang bekerja dalam sel-sel dan molekul-molekul organik tubuh kita.

Kita sakit, kondisi kesehatan merosot, menjadi tua, lisut, lalu mati. Fakta degeneratif ini ada disebabkan oleh apa yang dalam Hukum Kedua Termodinamika dinamakan Entropi, atau dinamakan juga The Arrow of Time. Karena entropi, semua sistem, termasuk sistem biologis, sejalan dengan gerak waktu, akhirnya akan kehilangan kohesi dan keseimbangannya, kekompakannya, ketertataannya, lalu berakhir dengan kekacauan, luruh, collapse.

Entropi berlangsung untuk segala hal, untuk semua sistem, dalam seluruh jagat raya kita. Ini hukum alam, hukum fisika.

Ya, karena Tuhan itu dipercaya mahapencipta, hukum-hukum alam tentu juga dia yang ciptakan. Hukum-hukum fundamental dalam alam sekali tercipta akan berkembang sendiri dengan bebas, semua atom terus melakukan restrukturisasi diri, sejak big bang. Ada freewill dalam jagat raya kita, dimulai dari level partikel subatomik. Mungkin Prinsip Ketidakpastian Heisenberg dalam fisika partikel bisa menopang pernyataan saya bahwa ada freewill, kehendak bebas, dalam hukum-hukum alam.

Apakah Bumi menumbuhkan kecambah tanaman, ataukah sebaliknya? 

Selain itu, teori khaos dalam matematika fraktal juga menyadarkan kita bahwa ada banyak fenomena dan kejadian dalam alam dan masyarakat yang tidak dapat diprediksi menurut hukum kausal yang linier dan deterministik.

Misalnya, tidak ada kemungkinan bagi para ilmuwan untuk dapat memprediksi dengan akurat secara kausal linier ke mana arah gerak turbulensi cuaca, kondisi-kondisi kognitif otak kita (anda, apalagi orang lain, tidak bisa tahu sebelumnya ke mana pikiran anda akan bergerak hingga titik terjauh), gerak dan lokasi molekul air, gerak dan gabungan awan, kondisi atmosfir, dan juga fluktuasi pasar saham dan perubahan nilai tukar valuta asing.

Banyak fenomena dan kejadian yang bergerak nonlinier atau multilinier atau chaotic, non-deterministik. Lazimnya teori khaos ini diungkap secara metaforis demikian: pada suatu momen dan kondisi awal di ruang dan waktu yang pas, kepak sayap-sayap kupu-kupu di kota Bogor, Indonesia, menimbulkan badai topan dahsyat di kota Beijing, China. Bagaimana mungkin, protes anda. Ya mungkin, sebagai suatu chaos yang relasi hulu dan muaranya non-linier dan non-deterministik.

Saya menduga, biologi gen itu juga dapat digolongkan ke dalam trajektori perkembangan biologis yang tidak linier, non-deterministik, bahkan dapat tidaktertata, lantaran berbagai penyebab yang tidak diketahui, meskipun gen menentukan sangat krusial ihwal anda akan menjadi apa kelak, sejak anda sebagai janin dalam rahim bunda anda.

Dari biologi dan genetika, kita tahu bahwa dalam setiap organisme multiselular terdapat sel-sel bibit ragawi yang mengisi organisme ini yang akan membentuk garis silsilah atau lini keturunan, yang dinamakan linibibit atau "germline". Sel-sel bibit ini sangat terdiferensiasi dan tersegregasi sehingga dalam proses-proses pengembangbiakan yang lazim, sel-sel bibit ini dapat meneruskan material genetik mereka yang kayaraya kepada keturunan mereka.

Apakah linibibit ini statis, bergerak unilinier dan deterministik? Jim Kozubek menyatakan bahwa "Linibibit insani bukan sebuah dokumen suci yang tak dapat diubah, tetapi sebuah dokumen yang hidup, dinamis, yang terus berubah di sepanjang umur kehidupan kita."/1/ Bahkan sekarang, lewat metode DNA-editing CRISPR sel-sel bibit insani saat masih sebagai janin dapat kita ubah lebih jauh untuk menghasilkan jenis-jenis bayi yang kita sendiri kehendaki.

Nah, karena freewill ini, hukum-hukum alam dalam level partikel, sel dan molekul tubuh kita, bisa nyelonong di luar kehendak Tuhan sang pencipta.

Dari aksi nyelonong inilah, info, sandi dan program genetik tubuh kita bisa bekerja keliru, melakukan error, dan chaotic; alhasil muncullah, misalnya, penyakit otoimun seperti lupus, psoriasis, Sjogren, IBD, Crohn, arthritis, dll.

Juga penyakit kanker: sel-sel sehat tubuh kita berubah tak terkendali, menjadi sel-sel liar dan ganas, yang tahap demi tahap menyebar. Apa penyebab sel-sel sehat ini bermutasi menjadi sel-sel liar yang ganas, tidak diketahui hingga saat ini oleh para ilmuwan onkologi.

Tentang kanker, seorang praktisi kesehatan menyatakan bahwa "setiap sel tubuh memiliki suatu sistem yang teratur dengan ketat, yang mengendalikan pertumbuhan, kematangan, reproduksi dan akhirnya kematian. Kanker dimulai ketika sel-sel dalam suatu bagian tubuh mulai tumbuh tak terkendali. Ada banyak jenis kanker, tapi semuanya muncul karena pertumbuhan tak terkendali sel-sel yang tidak normal."/2/

Sebagai pribadi, kita sendiri memiliki kehendak bebas untuk menentukan apakah mau berbuat baik (dus, mentaati Tuhan), ataukah berbuat durjana (dus, melawan Tuhan). Tentu kehendak bebas kita ini berinteraksi dengan berbagai faktor lain, baik yang internal ada dalam diri kita, maupun yang eksternal ada di luar diri kita. Pikiran, perasaan, kemauan dan tindakan kita muncul dari aksi-reaksi yang kompleks yang melibatkan banyak faktor, termasuk di dalamnya kehendak bebas kita. Akibatnya, kehendak bebas kita bisa kalah atau juga bisa menang, atau tidak sepenuhnya terwujud.

Dengan perspektif yang sama, kita dapat menyatakan bahwa hukum-hukum alam dan freewill dalam hukum-hukum alam, juga bisa dipengaruhi, dikendalikan, dimanipulasi, diintervensi, direkayasa atau ditaklukkan.

Caranya? Ya tentu saja lewat iptek yang terus dikembangkan, termasuk iptek medik untuk menyelidiki, menemukan, memerangi dan menaklukkan berbagai penyakit, seperti penyakit otoimun, kanker, depresi, kepikunan, bahkan penyakit proses penuaan dan kematian.

Menyalahkan hukum-hukum alam atas adanya azab dan derita, hanya mungkin dilakukan oleh orang yang tidak berakal atau yang sudah kehilangan akal. Jangan juga melupakan fakta ini: banyak bencana, penyakit, azab dan kesengsaraan terjadi dan dialami ya karena kesalahan manusia sendiri, individual dan kolektif. Banyak bencana yang sedang dan akan ditimbulkan oleh perubahan iklim dan pemanasan global, misalnya, berasal dari perbuatan manusia sendiri.

Hingga saat ini, karena berbagai alasan keagamaan, sangat banyak orang malah anti-iptek. Kata mereka, iptek menjauhkan si saleh dan si soleha dari Tuhan; alhasil, iptek hanya akan menambah kemurkaan Allah yang akan ditimpahkan Allah kepada manusia. Pendapat ini mengganggu saya karena salah kaprah dan diasalkan pada Tuhan YMPengasih dan MPenyayang.

Apakah Tuhan berkenan pada, dan bekerja lewat, iptek!? Ya, sudah pasti, sejauh iptek tidak diselewengkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang keji dan durjana. Tuhan itu dipercaya mahatahu. Nah, lewat iptek yang terus bertambah maju dan berkembang, Tuhan mencurahkan tahap demi tahap dan kumulatif kemahatahuan Tuhan dalam perjalanan sejarah umat manusia di berbagai tempat di muka Bumi dan di seluruh jagat raya.

Barangsiapa nencintai Tuhan YMTahu, orang itu akan cinta iptek. Kuriositas orang ini sangat besar: serba ingin tahu; serba bertanya; serba menyelidiki; serba ingin menemukan jawaban-jawaban baru; serba ingin memecahkan misteri apapun; dan tidak pernah lelah mencari dan menginvestigasi, dan selalu berpikir out-of-the-box. 

Bagaimana halnya dengan doa? Ya, doa juga berguna sebagai sebuah metode terapi psikologis. Doa yang isinya empatetis, simpatik, bersahabat, ikhlas, hangat, penuh pengertian, solider, membangun semangat, menguatkan, menggerakkan hati, positif, lembut, berpengharapan, tulus, mendamaikan, tidak tendensius, tidak mendikte, tidak menghakimi, akan memberi efek-efek terapeutis bagi mental, dus juga akan berpengaruh pada tubuh, orang yang didoakan dan diri si pendoa sendiri jika dia berdoa sendiri bagi dirinya sendiri.

Saya tahu, ada sekian riset berupa kegiatan mendoakan pasien-pasien yang tidak dikenal di rumah-rumah sakit sebagai kelinci-kelinci percobaan untuk mendapatkan bukti bahwa doa tidak bermanfaat menyembuhkan. Tentu saja, hipotesis riset ini dapat terbukti. Saya yakin, tidak ada sebuah doa yang begitu diserukan, sel-sel kanker stadium empat dalam tubuh seseorang langsung lenyap tanpa bekas. Riset ini sebaliknya akan dapat menemukan bukti lain lebih jauh bahwa para pasien yang didoakan itu malah tambah sakit.

Hemat saya, kegiatan eksperimen doa yang semacam itu tidak etis karena menyiapkan kondisi-kondisi yang akan memanipulasi isi pikiran para pasien.

Karena para pasien itu didoakan tidak dalam semangat terapeutis empatetis seperti yang sudah saya tulis di atas, mereka mau tak mau berpikir bahwa doa untuk mereka wajib dilakukan lantaran penyakit mereka oleh tim dokter dinilai sangat berat dan bisa jadi tidak bisa disembuhkan. Isi pikiran yang negatif inilah yang membuat mereka tambah sakit. Doa dalam riset yang semacam ini adalah doa yang jahat.

Banyak dari antara kita juga kerap berdoa, dengan isi doa yang jahat. Lewat doa yang khusyuk, kita bukannya memohon pertolongan dan perlindungan dan kasih sayang Tuhan diberikan Tuhan kepada orang-orang lain, yang kita kenal personal dan yang tidak kita kenal, tetapi malah meminta supaya azab, kutuk dan laknat ditimpakan Tuhan habis-habisan kepada mereka. Supaya bisnis mereka bangkrut total. Supaya mereka dijatuhkan penyakit berat. Supaya mereka mati disambar petir. Supaya rumah mereka terbakar habis. Dst.

Jika anda suka berdoa yang isinya sangat jahat dan kejam seperti itu, saya samakan diri anda dengan seekor belalang sentadu yang mengambil posisi dan sikap berdoa yang khusyuk sebelum menerkam dan melahap habis seekor mangsanya! Orang yang kejam, berhati batu, tanpa rasa kemanusiaan, akan juga berdoa dengan isi doa yang durjana, biadab dan tanpa rasa kemanusiaan. Psikologi anda melahirkan ide anda tentang Tuhan anda!


Itu hal paling jauh yang sekarang bisa saya jelaskan tentang relasi antara Tuhan, hukum-hukum alam, azab dan penderitaan karena berbagai sebab seperti bencana, sakit, tua, lisut, jompo, lalu collapse.

Jadi, usahakanlah tetap tabah dalam azab, rasa sakit, dan penderitaan. Usahakanlah tetap riang, dalam segala situasi. Ikhlaslah. Mengucap syukurlah. Berpengharapanlah. Meski fakta-fakta kehidupan ini keras, memilukan hati, dan kerap membuat kita tidak bisa menahan ratap tangis dan rasa pedih.

Mengapa harus ikhlas, tabah dan berpengharapan? Karena bukan saja sikap ikhlas, tabah dan berpengharapan akan berdampak positif bagi tubuh dan mental anda, tapi juga karena Tuhan sedang berjuang bersama anda sebagai sang Immanuel. Sang Kawan Ilahi yang selalu setia mendampingi, menopang dan menolong anda dan saya.

Sang Kawan Ilahi ini dapat hadir dengan real dalam diri kawan-kawan insani yang mencintai dan peduli anda. Juga pasti bekerja lewat berbagai cara iptek medik yang menolong para pasien lewat ilmu dan tangan para dokter. Tentu juga lewat berbagai cara kehadiran yang tidak anda sangka sebelumnya. Kawan Ilahi ini kerap tidak hadir di dalam kehadiran. Ketika Tuhan diam dan sunyi, temukan kekuatan Tuhan yang sudah pindah ke dalam diri anda!

Tapi jika anda ingin menangis, baiklah, menangislah. Sesudah itu, tertawalah, bersyukurlah, naikkan madah, pujilah Tuhan anda, bangun kembali pengharapan.

Jika anda ingin tidur karena letih dan beban batin berat, tidurlah.

Setelah bangun tidur, bernyanyilah, ungkapkan semua beban anda lewat nyanyian-nyanyian spontan dan bebas yang anda lantunkan tanpa persiapan. Yang anda susun sendiri sementara menyanyikannya.

Susunlah puisi-puisi lisan anda tanpa persiapan, gubahlah dengan bebas, lantunkan puisi-puisi sekejap anda itu sebagai nyanyian-nyanyian. Ikuti suasana hati dan gerak-gerik pikiran anda; ungkap sebisanya semuanya lewat puisi-puisi madah anda.

Yakinlah, sekali lagi: yakinlah, bahwa hidup anda bermakna, mempunyai tujuan penting, sekalipun dalam hidup anda harus berteman dengan azab dan derita terus-menerus hingga ajal. Orang lain bisa belajar banyak hal baik dari kehidupan anda maupun dari kematian anda. Menemukan hikmah, makna dan tujuan agung kehidupan, bahkan kehidupan yang penuh azab, adalah energi dan bahan bakar untuk membuat anda tangguh bertahan dan bergerak maju dalam kehidupan anda.

Lewat kegagalan dan kesengsaraan dan kemalangan, setiap orang bisa belajar menjadi tangguh, matang, dan makin dewasa. Bahkan lantaran ada banyak penyakit, persoalan, azab dan bencana, iptek makin maju dan berkembang demi mengatasi dan mengalahkan semua keburukan dan nestapa itu, dengan para ilmuwan berpikir lebih keras dan lebih cerdas dan lebih jeli.

Begitulah bimbingan yang saya bisa berikan kepada anda. Saya berupaya membimbing dan menguatkan anda, karena saya juga tahu dan sedang merasakan apa itu penderitaan, apa itu azab, apa itu ratap tangis, apa itu rasa sakit, dan apa itu kegembiraan, tawa ria, beriman dan berpengharapan, tidur dan terjaga, berpikir keras dan menenangkan pikiran.

Saya tidak bisa menyatakan bahwa penjelasan saya di atas sudah definitif, sudah pasti dan final. Tidak ada penjelasan yang final atas hal apapun dalam jagat raya ini.

Selain itu, perlu diketahui topik yang saya sudah beberkan ringkas di atas adalah topik yang sudah belasan abad lamanya memusingkan para pakar teologi, yang disebut sebagai problem teodise.

31 Juli 2017
Pk. 24:58 AM
ioanes rakhmat

Editing mutakhir:
16 Agustus 2017
Pk. 1:30 AM

Notes

/1/ Jim Kozubek, "This is why the first CRISPR baby won't be born in the USA", NewScientist, 10 August 2017, https://www.newscientist.com/article/2143427-this-is-why-the-first-crispr-baby-wont-be-born-in-the-us.

/2/ Ananya Mandal, "What is oncology", News Medical Life Sciences, Dec 5, 2013, https://www.news-medical.net/health/What-is-Oncology.aspx.


Saturday, July 29, 2017

Doa, mubazir atau berkhasiat?

DOA, MUBAZIR atau BERKHASIAT?

Dr. Ryu Hasan, yang bekerja sebagai dokter bedah saraf, baru saja menulis sebuah status pada Facebooknya, begini: "Do'a adalah obat tanpa efek samping dan tanpa efek-efek yang lain, alias nggak ngefek sama sekali."

Ini respons saya:

AAH GAK JUGA. Lepas dari Tuhan ada atau tidak ada, jika dengan tulus dan khusuk kita mendoakan orang lain yg sedang berbeban berat, orang yang kita doakan ini akan mengalami efek psikologis berupa ketenangan dan mendapatkan kembali optimisme, atau setidaknya merasa beban mentalnya diringankan, karena ada orang lain yang peduli.


Begitu juga, kalau kita sedang dalam problem berat, lalu kita berdoa sendiri kepada Tuhan yang kita percaya (entah siapapun sosok Tuhan yang kita percaya ini), kita biasanya akan mengalami penguatan kembali, merasa diringankan, merasa kita tidak sendirian dan menemukan sosok yang mau peduli dan sedang menguatkan dan menolong kita.

Doa itu semacam katarsis psikologis, dengan kawan bicara kita Tuhan yang kita percaya mahapenyayang, lepas dari Tuhan ini atau Tuhan itu ada atau tidak ada.

Setiap orang, termasuk yang mengaku ateis, perlu melakukan katarsis, curhat, atau buang unek-unek. Tujuannya: ya melepaskan beban mental psikologis yang berat dan menimbulkan rasa sesak pada jiwa. Ada banyak bentuk dan saluran katarsis. Doa adalah salah satunya; dus, doa adalah suatu bentuk terapi psikologis. Tentu saja, katarsis bukan satu-satunya tujuan doa.

Meskipun psikologi modern, yang kini sudah terbagi ke dalam sub-subspesialis, tidak dikenal oleh orang zaman pramodern dan prailmiah yang, secara kolektif partisipatif, menulis teks-teks (yang kemudian dipandang) suci, mereka juga butuh katarsis, baik lewat curhat biasa kepada sesama maupun lewat doa-doa kepada Tuhan mereka masing-masing. Problem kejiwaan dan mental sudah dialami organisme yang berkesadaran seperti manusia, sejak awal kemunculan Homo sapiens, 300 ribu hingga 400 ribu tahun lalu di Afrika Selatan.

Berbagai problem kejiwaan yang timbul di era modern mungkin mereka tidak alami. Namun, anekaragam problem mental tentu juga diderita moyang-moyang manusia di zaman purba. Seekor burung atau seekor anjing yang semula hidup lepas bebas, lalu ditangkap dan dimasukkan ke dalam sebuah kandang, atau dicancang, bisa akhirnya mati terpuruk karena stres berat.

Andaikanlah Adam skriptural yang tidak memiliki sebuah pusar di permukaan kulit perutnya betulan ada. Nah si Adam ini konon menderita kesepian jiwa karena hanya dia sendiri yang ada di muka Bumi. Betapa kesepiannya dia. A very very lonely guy! 

Sangat mungkin si Adam ini kerap bermuram durja dan uring-uringan. Tuhan tentu melihat wajah murung si Adam ini, dan Tuhan tahu keadaan jiwa satu-satunya insan di muka Bumi ini. Tuhan menilai kondisi ini tidak baik bagi Adam. Akhirnya Tuhan memberi sebuah terapi psikologis kepadanya, dengan menghadirkan Hawa sebagai mitranya. Mungkin juga si Adam ini terus-menerus curhat ke Tuhan dalam hati, mengungkapkan kesepian jiwanya dan ketidakbahagiannya, lewat banyak doa.

Ada banyak tujuan doa. Bukan cuma untuk curhat atau meminta sesuatu. Misalnya dalam doa, kita hanya berdoa lewat nyanyian-nyanyian agung dengan penuh penghayatan, untuk memuji Tuhan. Saat ini kita lakukan, hormon-hormon neurokimiawi atau neurotransmitters penimbul rasa damai, kalem, cinta, tenang, relaxed, santai, persahabatan, terproduksi dalam struktur-struktur neural dan kelenjar dalam otak lalu oleh darah dibawa ke seluruh tubuh.

Akibatnya, doa puji-pujian menimbulkan efek psikologis tenang, damai, persahabatan, cinta, relaksasi, sifat sosial, rasa gembira, optimis, dll. Dalam hal ini, hormon-hormon seperti oxytocin, GABA, endorfin, dopamin, adrenalin, dan serotonin dll sangat banyak terproduksi.

Itulah manfaat positif doa meskipun doa tidak bisa memindahkan sebuah gunung. Manfaat positif doa pada ranah mental psikologis potensial berdampak positif juga pada tubuh kita. Tubuh dan jiwa atau mental kita adalah suatu sistem biologis psikosomatis yang tidak terpisah, tapi terjalin: tubuh dan mental kita berinteraksi satu sama lain, saling mempengaruhi dan membentuk.

Tapi harus segera diingat, sama seperti kita bisa salah dan keliru berpikir, doa juga bisa keliru dan salah, karena doa itu juga isi pikiran. Yaitu, ketika kita, setelah membentuk sikap berdoa dengan kedua belah tangan saling menggenggam dan mengucap doa dalam hati, kita langsung bangun dan melompat untuk menerkam dan melahap orang lain sebagai mangsa kita. Inilah model doa belalang sentadu; atau model doa seorang pemburu yang sehabis berdoa, langsung menembak jitu sampai mati seekor hewan buruannya. Doa yang manipulatif, tidak etis.

Doa yang benar ya doa yang setelah diserukan mendorong semua orang yang habis berdoa itu saling merangkul dan memeluk, dan komitmen yang kuat terbangun untuk menegakkan kasih dan cinta persaudaraan antar para pendoa dan antar seluruh umat manusia. Inilah model doa semut yang beriring, atau model doa para pendayung sebuah perahu. Inilah doa yang etis, yang keluar dari isi hati yang bersih, tidak manipulatif.

Ada orang yang menegaskan bahwa jika orang yang kita doakan itu berdiam jauh dari tempat kita berdoa, dan mereka tidak tahu bahwa kita sedang atau telah atau akan mendoakan mereka, doa kita tidak akan mendatangkan efek apa-apa pada mereka.

Tentang hal itu, sementara ini saya hanya bisa menjawab, ya kita tidak tahu apakah dalam sikon ini doa jarak jauh yang tidak diketahui oleh orang yang didoakan akan memberi atau tidak memberi efek apapun. Mungkin nanti, penemuan dalam studi-studi yang mendalam dalam fisika Quantum, entah dalam bentuk apa, akan bisa menjawab kekuatan pikiran manusia dan dampaknya bagi objek-objek yang jauh lokasinya.

Eh, ada sebuah contoh lain yang dimunculkan rekan saya yang sama, dr. Ryu Hasan. Katanya, ayam yang sakit, setelah didoakan oleh sekian orang, tetap saja sakit. Ini, katanya lagi, bukti bahwa doa itu tidak ngefek.

Respons saya ya begini saja: ayam itu bukan manusia, meski keduanya hidup. Struktur, volume, dan konten, cakupan dan kapasitas kerja otak manusia beda jauh dari otak ayam. Otak manusia memungkinkan sebuah doa yang empatis diberi respons positif yang mempengaruhi dengan positif juga keadaan mental dan tubuh orang yang didoakan. Otak ayam tidak bisa begitu. Ini serupa dengan mendoakan sebuah gunung tinggi, dalam nama Tuhan, untuk bergerak pindah. Ya tidak akan pernah bisa.

Tapi sebuah doa yang ikhlas, bersahabat, empatis, solider, tidak menghukum, tidak menghakimi, akan bisa menggerakkan hati dan pikiran orang yang didoakan, untuk pindah dari kondisi putus asa dan merasa tak berdaya, masuk ke kondisi munculnya pengharapan dan kekuatan kembali.

Semoga bermanfaat.

29 Juli 2017
Di pagi hari
ioanes rakhmat

Cc:
Ryu Hasan


Monday, July 24, 2017

Bela Agama! Ya, tapi harus cerdas dan objektif!

BELA AGAMA titik titik titik


Agama apapun harus dibela! Itu keyakinan umum Buddhis, Yahudi, Kristen, Islam dll semua agama lainnya. Dulu dan kini. Orang tanya ke saya, Apakah betul begitu? Berikut ini jawaban ringkas saya.

Bela ya bela, tapi perlu kita lebih dulu tahu hal apa yang telah dan sedang dan akan membuat agama kita jadi begini dan begitu. Analisis dengan kritis. Cari dan temukan akar-akar masalahnya yang membuat agama kita, katakanlah, terpepet: Apakah karena salah kita (ajaran agama, atau tindakan kita) sebagai umat, ataukah karena kita memang jadi korban salah alamat (jika ya, kenapa ini terjadi?).

Membela agama kita dengan taklid buta, sama saja dengan memendamkan agama kita lebih dalam lagi ke lembah kekelaman. Terkubur di situ. Bisa tak bangun lagi selamanya. Agama apapun bisa bertahan lama ya karena mampu bersikap akomodatif kritis terhadap perubahan zaman, tempat, pengetahuan dan kearifan.

Membela agama dengan cerdas, justru mengharuskan kita melakukan evaluasi dan analisis cermat atas agama kita. Membela agama dengan cerdas, berbeda konten dan caranya di setiap zaman dan di setiap tempat. Tidak bisa cara bela agama sekian belas abad lalu kita ulang begitu saja taklid buta di abad ke-21 di dunia yang jelas-jelas sudah berbeda.

Apologetika religius yang taklid buta, apalagi lewat berbagai cara keras, hanya akan lebih cepat mewafatkan agama kita, pada akhirnya.

Jika kita taklid buta bela agama, mata kita tutup, tapi kaki kita menendang sana sini dan tangan kita meninju atas bawah, ya agama kita akan makin lebam dan remuk. Tak bisa disusun ulang lagi. Hanya tinggal debu dan reruntuhan.

Dalam membela agama dengan cerdas, berlaku hal ini: Jika kita temukan hal-hal yang memerlukan perbaikan dalam agama dan cara beragama kita, lalu kita memperbaiki semuanya satu per satu, maka kita akan bisa menyelamatkan agama kita, membuatnya bisa berkontribusi positif bagi peradaban masa kini dan demi kebaikan umat manusia dan dunia sekarang. Itulah membela agama dengan cerdas, dengan bernalar, dengan visioner, dengan keteduhan pikiran dan hati, dan dengan kearifan ilahi.


Mari kita buang ucapan Pokoke agamaku! atau We can do no wrong!, dalam segala keadaan yang memerlukan evaluasi dan analisis kritis atas hal apapun dalam kehidupan kita, juga dalam hal agama dan cara kita beragama.

Agama kita bukan Tuhan; agama ya agama, yang disusun dengan berbagai cara dan keyakinan dalam sejarah dunia kita; ada awalnya dan tentu akan ada.... akhirnya. 

Kok? Ya, karena agama apapun bukan Tuhan; agama apapun terbatas, tidak abadi, dan tidak mahatakterbatas. Dus, mempertuhan agama sama dengan melawan dan menafikan Tuhan. Tiada Tuhan selain Tuhan YMTakterbatas dan YMAbadi.

The weeping silence
24 Juli 2017

Silakan share


Thursday, June 29, 2017

Belajar dari seekor burung kutilang

BELAJAR DARI SEEKOR KUTILANG....

Banyak orang sering berkata, "Saya mau hidup tanpa persoalan apapun!"


Tapi, bisakah itu? Mungkinkah? Mustahilkah? Perlukah? Ataukah tidak perlu?

A problem-free life. Is it possible or impossible? Is it necessary or unnecessary?

Ya, tidak bisa. Tidak ada seorang pun dalam dunia ini, selagi hidup di muka Bumi, yang dapat terbebas sama sekali dari persoalan. Ini realitas. Harus diterima dan dihadapi dengan berani, cerdas, tenang, tegar, dan tetap bersikap positif.

Bahwa setiap orang akhirnya harus mati, ini sebuah persoalan eksistensial yang dihadapi semua orang, apapun kedudukan dan status sosial mereka dalam masyarakat, sejak bayi hingga tua dan lisut....! Konon Siddhartha Gautama juga terpukul batin dan pikirannya kali pertama dia tahu bahwa setiap manusia itu akan mati pada saatnya.

Gerontolog Aubrey de Grey melihat kematian bukan sebagai nasib atau takdir. Sebagai ilmuwan yang terus mengadakan riset tentang proses penuaan, De Grey memandang penuaan sebagai sebuah penyakit yang bisa ditangkal, dilawan dan disembuhkan. Katanya dengan yakin, tak lama lagi manusia bisa mencapai umur 1.000 tahun dengan tetap bugar.

De Grey tidak sendirian. Para pakar bidang-bidang ilmu yang lain juga berusaha memperpanjang umur manusia dengan tubuh yang tetap sehat dan bugar, lewat berbagai metode ilmiah.

Salah satu metode untuk anda bisa hidup abadi adalah mengubah semua info genetik dan semua data neurologis biologis anda menjadi info dan data komputasional yang lalu diintegrasikan dan disinergikan dengan kecerdasan buatan (yang akan terus makin cerdas secara otomatik) yang ada pada robot-robot silikon humanoid android. Jasad anda akan lenyap, kembali terdaurulang sebagai senyawa carbon; tapi jati diri anda diam dan aktif abadi dalam kehidupan robot-robot cerdas ini.

Tapi, kehidupan yang abadi, yang sudah didambakan manusia sejak 5.000 tahun lampau, apakah juga menjanjikan dan menjamin tidak akan ada lagi persoalan dalam kehidupan manusia dan dunia? Saya yakin, Tidak! Masih ada sangat banyak misteri alam dan hukum-hukum fisika yang belum kita ketahui. Di antaranya, pasti juga akan mendatangkan tantangan, persoalan dan ancaman tak terduga di masa depan.

Catatlah hal ini: Bebas dari segala persoalan, ya juga tidak perlu, bahkan tidak menguntungkan. Kok begitu?

Ya, persoalan-persoalan besar atau kecil, yang mendatangi kita, atau yang kita sendiri datangi, kerap menempa kita menjadi manusia yang lebih tangguh, lebih cerdas, lebih sigap, lebih matang, lebih arif, lebih berwawasan, lebih berpengalaman, lebih taktis, lebih strategis, dan lebih maju.

Hal-hal bagus yang diberikan oleh persoalan-persoalan kita kepada diri kita ini menguntungkan bukan hanya kita sendiri, tetapi juga banyak orang lain.

Ketahuilah, persoalan-persoalan yang dihadapi manusia, dari zaman ke zaman, dari masa ke masa, juga menjadi faktor pendorong kuat bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketika para ilmuwan bertemu dan menghadapi persoalan-persoalan manusia, mereka pun mulai berpikir, mengeksplorasi, menggelar pengkajian-pengkajian, menengok ke teori-teori ilmiah yang ada, mengevaluasi, lalu menyusun hipotesis-hipotesis baru, menguji hipotesis-hipotesis ini lewat berbagai metode ilmiah, mengumpulkan bukti-bukti, melakukan berbagai analisis, lalu menyusun sintesis-sintesis, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan.

Dari semua aktivitas keilmuan ini, sains berkembang, sains-sains baru ditemukan, dan teknologi-teknologi baru dihasilkan, untuk digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang sedang dihadapi.

Jadi, jangan takut terhadap semua persoalan! Jadikan semua persoalan anda sebagai:

* sang guru kearifan
* sebuah peluang untuk maju lebih jauh
* sebuah ujian untuk hidup lebih tangguh dan lebih sabar
* sebuah kesempatan untuk mengalami empati dan kasih sayang dari orang-orang lain
* sebuah kesempatan untuk menemukan diri anda sangat kuat dan tegar dan tangguh, di luar perkiraan anda sebelumnya
* sebuah peluang untuk melihat kehidupan dari sudut-sudut pandang lain yang baru dan kreatif
* sebuah kesempatan untuk berterima kasih kepada sang pemberi kehidupan

Suatu ketika, seekor kutilang dari atas melihat ke bawah, ke sebuah desa terpencil. Dilihatnya di bawah, manusia harus berjalan berputar jauh untuk sampai di tempat sebuah mata air besar satu-satunya untuk seluruh penduduk desa. Mereka harus memutari sebuah bukit batu besar yang menjulang dan terbentang lebar dan panjang.

Lalu sang kutilang berpikir, "Aku harus memindahkan bukit batu itu supaya semua penduduk desa itu hanya perlu waktu beberapa menit saja tiba di mata air besar itu. Sekarang mereka sengsara, karena harus menempuh perjalanan memutar selama setengah hari bolak-balik!"

Maka mulailah sang kutilang mematuk bagian-bagian puncak bukit batu itu, secuil demi secuil, lalu butiran batu yang sudah ada di ujung paruhnya dibawanya terbang ke suatu lembah luas yang jauh, dan di sana dia menjatuhkannya.

Tahun demi tahun berlalu. Windu demi windu lewat. Terus saja sang kutilang dengan tegar, riang gembira, sabar, optimistik, dan sambil terus bersiul, memindahkan bukit batu besar itu dengan paruhnya yang kecil. Dia memerlukan keabadian untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya itu, mengatasi persoalan penduduk desa itu.

Setegar, seriang, sesabar dan seoptimistik sang kutilang kecil itukah anda, ketika anda sedang berada dalam sebuah persoalan berat? Trilililili lili lili trilili....!

Anda jelas lebih besar dari sang kutilang nan baik hati itu.

Tentu daya tahan mental dan raga setiap orang berbeda-beda. Ada yang tangguh dan kuat, dan ada juga yang ringkih dan letoi, karena pembawaan genetik, dampak faktor epigenetik, bentukan lingkungan pergaulan sosial dan lingkungan alam, asupan nutrisi, serta akibat pengasuhan dan pendidikan.

Banyak orang, lantaran tidak tahan lagi saat menghadapi banyak persoalan yang sangat sulit dan berat, akhirnya mengambil keputusan untuk bunuh diri. Ini fakta yang pedih.

Jika anda temukan diri anda tangguh dan riang seperti si burung kutilang itu, anda diperlukan untuk mendampingi, menguatkan dan menolong insan-insan yang rapuh itu. Sebagai sahabat sehati. Sebagai teman sejati. Sebagai penghibur. Sebagai penguat. Bukan sebagai hakim yang durjana.

Dus, persoalan apapun mampu membangun persaudaraan dan ikatan sosial dan solidaritas yang kokoh dan berharga, antar sesama manusia.

Gunung persoalan boleh sangat sangat tinggi. Lampauilah ketinggiannya dengan kesabaran, ketabahan, optimisme dan keriangan anda.

Ada sepasang sayap pada punggung anda. Terbanglah, lewati dan lampaui puncak tertinggi Mount Everest. Above it, you will find and hear the silence of silence.

Jakarta, 15-9-2015
ioanes rakhmat

Editing mutakhir 29 Juni 2017
HUT ke-51 Pak Basuki Tjahaja Purnama
HBD koh Ahok. 
Jadilah sang burung kutilang itu.

Monday, June 26, 2017

Remaja Alyssa Carson dan planet merah Mars

REMAJA PUTERI ALYSSA CARSON YANG MENAKJUBKAN

Di usia 3 tahun, kanak-kanak Amerika ini sudah bercita-bercita terbang ke planet merah Mars. Bulan bukan pilihannya. Jalan terbuka lewat banyak usaha: sejak usia 13 tahun Alyssa mulai dilatih dan dididik oleh NASA untuk menjadi astronot, manusia pertama yang akan mendarat di Mars tahun 2033.

Saat ini Alyssa sudah berusia 16 tahun. Dia hidup wajar dan happy seperti semua remaja atau gadis usia muda, meski seluruh kehidupannya selanjutnya akan dijalani dalam dunia eksplorasi angkasa luar, planet Mars khususnya.

Terlampir 4 mem yang saya buat tentang Alyssa Carson. Saya berharap, ada sekian remaja puteri Indonesia yang mampu mengikuti jejak Alyssa Carson, remaja yang luar biasa ini





Izinkan saya bertanya: Wahai remaja puteri Indonesia, di manakah kini kalian berada? Sedang diapakankah kalian sekarang di negeri kalian sendiri? Punyakah kalian kecerdasan dan ilmu pengetahuan tentang angkasa luar, dan tentang planet Mars?


Punya nyalikah kalian untuk menjadi para astronot yang akan mendarat di planet merah ini lalu, bersama sangat banyak astronot lain yang berasal dari berbagai tempat di Bumi, akan mengubahnya tahap demi tahap menjadi planet yang dapat didiami dengan aman seperti halnya planet Bumi?

Aktivitas jangka panjang yang melibatkan iptek modern yang makin maju untuk tahap demi tahap mengubah suatu planet asing supaya akhirnya dapat manusia diami dan hidup di situ dengan aman dan terjamin, seperti hidup di Bumi, dinamakan terraform.

Tetapi hal sebaliknya juga sangat dapat dilakukan. Secara alamiah yang memerlukan waktu panjang, atau dipercepat lewat teknik pengeditan gen yang dinamakan DNA-editing CRISPR Cas9 (yang dijalankan ketika suatu organisme masih berbentuk embrio), manusia mengalami perubahan atau mutasi genetik atau superevolusi genetik sehingga dapat hidup dengan baik, aman dan terjamin kendatipun berbagai kondisi alam planet Mars tidak berubah penuh untuk menyamai kondisi-kondisi alam planet Bumi.

Planet Mars berubah, dan Homo sapiens yang mendiami planet ini juga disengaja diubah. Perubahan dua pihak ini mempercepat usaha kolonisasi Mars oleh organisme Homo sapiens yang telah mengalami superevolusi genetik. Bagaimana wujud dan sifat Homo sapiens jenis baru ini? Saya tidak tahu. Setidaknya, organisme jenis baru ini merupakan perpaduan biologi tinggi yang berbasis carbon dan mesin cerdas yang berbasis silikon.


Ini puisi saya untuk kalian, para remaja kebangsaan Indonesia:

Arahkan mata ke langit kelam
Di malam hari yang gelap hitam
Fajar ilmu pengetahuan gantikan malam
Diterangi tak terhitung bintang
Samudera jagat kini menantang!
Tak cukup lagi main layang-layang!
Tak cukup lagi boneka ditimang-timang!

Tak cukup lagi mendendang madah Bumi
Gubah dan lantunkan lagu Bima Sakti
Galaksi yang harus kalian eksplorasi
Dari generasi ke generasi nan lestari

Jangan lagi hidup dalam bayang-bayang
Melesatlah masuk ke dunia antarbintang!
Masa depan kita di sana membentang
Arungi sebagai prajurit pejuang!

Salam,
ioanes rakhmat
26.6.2017

#AlyssaCarson
My fatherly love for you
I do hope that I still could see you landing on Mars and walking amazingly on its surface within my lifetime.



Wednesday, June 21, 2017

RRC: Gurita Raksasa Lima Tentakel

CHINA, SANG GURITA RAKSASA DENGAN LIMA TENTAKEL YANG SEDANG BERGERAK SENYAP, CERDAS DAN TEPAT SASARAN


Kolase enam foto di atas disusun dari enam screencapture dari sebuah video yang menayangkan gambaran tentang RCC sebagai seekor Gurita Raksasa yang memiliki lima tentakel yang sedang bergerak, mengayun ke sana sini, di kawasan global. Saya merasa kagum atas negeri besar China ini meski saya WNI, persisnya WNI Tionghoa.

Dengan mengisi ruang-ruang kosong di dunia yang tidak ditangani USA, China akan segera menjadi Gurita Raksasa Adidaya Dunia dengan lima tentakel yang memeluk dunia minimal dalam lima bidang besar:

1. Energi terbarukan yang dihasilkan dari panel-panel solar raksasa yang mengapung di lelautan, selain pemanfaatan tenaga angin. Bahan bakar fosil yang persediaannya makin menipis akan segera ditinggalkan; dus, mengurangi dengan signifikan level polusi udara lewat pemanfaatan sumber energi terbarukan yang murah yang akan dibangun besar-besaran untuk jangka panjang.

2. Memperluas pengaruh China di wilayah politik dan ekonomi global; membangun dan memperluas rute transportasi laut dan darat untuk memasok persediaan makanan, pertama-tama bagi negeri China sendiri, yang pada saatnya akan makin berkurang di seluruh dunia. Untuk keperluan itu, China akan membeli, bukan menjajah, tanah-tanah luas di Amerika Selatan, Afrika dll untuk dijadikan lahan pertanian global mereka.

3. Meraih prestasi tertinggi di dunia dalam olah raga sepak bola, dengan target pertama menjadi juara Piala Dunia sebelum 2050. Untuk tujuan ini, sumber daya manusia (seperti pelatih dan atlit) dibina dari warga China sendiri lewat pendidikan dan pelatihan berdisiplin di 50.000 akademi yang sedang disiapkan dan akan dibangun di dalam negeri; sekaligus menghentikan para pelatih asing bayaran.

4. Membangun kembali dan mengaktifkan Jalur Sutra, dan membangun dan menjalankan Ekonomi Sirkular: sumber-sumber daya alam dalam negeri atau yang dimiliki di luar negeri diberdayakan semaksimal mungkin sehingga berbagai produksi di semua sektor dihasilkan berlimpah lalu diekspor ke luar negeri untuk menghasilkan devisa yang akan digunakan kembali untuk meningkatkan berbagai produksi negeri sendiri untuk diekspor lagi. Ekonomi Sirkular ini makin terus melipatgandakan kemampuan ekonomi produktif China dan kemampuan ekspor mereka tanpa batas.

5. Menjadi pengawas dan penjaga dunia, perdagangan bebas, dan pemimpin terdepan dalam usaha global melawan perubahan iklim dan dampak-dampak buruknya bagi dunia.

Lima usaha besar ini yang akan mengangkat China menjadi Adidaya Dunia, pengganti USA, akan dan sedang dijalankan dengan cerdas, senyap dan tepat sasaran.

Reaksi murahan mengkafirkan China dan me-neraka-kan negeri Gurita Raksasa ini tidak akan menghentikan gerak enerjik lima tentakel Gurita Raksasa China sedikitpun. Sainstek modern tidak akan pernah bisa ditakut-takuti apalagi dikalahkan oleh ancaman-ancaman keagamaan apapun. Sainstek bisa dikalahkan hanya oleh sainstek yang lebih maju. 

Umat dari agama-agama apapun yang tidak mau masuk ke pertarungan global dalam pengembangan dan penguasaan sainstek akan pasti terbuang dari planet Bumi, karena umumnya mereka hanya berniat masuk ke kawasan sorga yang tak memiliki angka-angka koordinat dalam jagat raya yang empiris. Agama-agama mereka bisa jadi mematahkan daya juang dan daya tarung mereka di arena pertarungan sainstek modern, agama kaum pecundang. Agama yang mendorong umat penganutnya ke akhirat, dengan melupakan fakta bahwa kehidupan real di planet Bumi dan di planet-planet lain masih akan berlangsung milyaran tahun ke depan.

Lupakan reaksi murahan para pecundang itu. Jalan satu-satunya untuk menghadapi dan melawan China adalah: mendahului Gurita Raksasa China untuk masuk lebih dulu ke lima bidang yang mau dirangkul tentakel-tentakelnya.

Jika langkah itu tidak mungkin NKRI bisa lakukan dalam waktu dekat, ya jalan alternatif demi kepentingan NKRI jangka panjang adalah BELAJAR DULU DARI CHINA DENGAN CERDAS, TERPELAJAR, MAU SERBATAHU, CEKATAN, TAKTIS, SENYAP dan ULET sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan tangguh. 

CATAT INI: Para politikus dan pengpeng bunglon yang egoistik, haus kekuasaan abadi, dan korup, segera harus eling, sadar diri, lalu mundur teratur demi kepentingan dan kemenangan dan kebesaran bangsa dan negara Republik Indonesia di masa depan yang dekat ini.

Viva NKRI.
And love for the great and determined China.

☆ Ioanes Rakhmat
19 Juni 2017

N.B.
Konon (entah benar atau tidak, saya tak tahu) Pak Hasyim Muzadi pernah menulis topik tentang belajar dari gaya hidup bangsa China. Saya menemukan tulisan ini di sebuah Facebook, judulnya MARI BELAJAR DARI GAYA HIDUP BANGSA CHINA.

Ini link-nya. Bacalah.
https://m.facebook.com/notes/muhammad-a-s-hikam/mari-belajar-gaya-hidup-bangsa-china/10151325668226262/#_=_


Tuesday, June 6, 2017

Minggat ke Australia cari ketenangan

KOK ADA TEROR ISIS di AUSSIE?!

http://www.express.co.uk/news/world/813094/melbourne-explosion-australia-hostages-brighton-terror

https://m.tempo.co/read/news/2017/06/06/120881839/isis-akui-bertanggung-jawab-atas-penyanderaan-di-melbourne

Cina-cina kaya, termasuk beberapa orang famili saya, memutuskan untuk tinggal di Aussie supaya, kata mereka, aman, tenang dan tidak berbahaya, jauh dari para radikalis Islamis ISIS. Apa respons saya?

LOH, mana ada lagi tempat yang aman sepenuhnya sekarang ini di dunia ini? Paman Sam dkk, by system, hanya mau jaga keamanan hanya sejauh kepentingan ekonomi, politik dan militer mereka, di dalam dan di luar negeri, terlindungi. Bahkan untuk kepentingan yang sama, proxy war juga dijalankan sang paman ini, dengan membangunkan wayang-wayang mereka yang sudah ada di seluruh dunia, lalu politik dan strategi adudomba pun dijalankan.

Oh ya, tentu anda bisa memahami, kalau akhirnya ada juga sebagian wayang-wayang ini yang menjadi liar, terlalu liar. Mereka berbalik melawan dan menyerang sang dalang dalam gerakan-gerakan yang mereka bangun sendiri, yang tidak lagi tunduk pada kemauan semula sang dalang. Sebagai respons, ya sang dalang pun membasmi satu demi satu wayang-wayang yang sudah memberontak ini. Ini sejenis penyakit otoimun politik militeristik yang harus digempur sang dalang.

Selain itu, jika anda mau berada jauh di Aussie, anda harus bayar tiket pesawat, beli rumah dengan harga setinggi langit, bayar PBB di sana, biaya hidup yang mahal, biaya kesehatan yang juga tidak murah, bayar pajak lain-lain yang tinggi. Aman? Oh tidak. Tetap saja jantung anda akan kebat-kebit, takut ditembak mati atau disandera teroris di sana, entah di Melbourne atau di Perth atau di kota-kota lain di sono.


Mau tenang? Ya mulailah ketenangan itu dalam pikiran dan hati dulu. Melayani orang yang sedang tidak tenang dan sedang ketakutan, malah dapat membuat kita bebas dari ketakutan, dan menemukan makna agung kehidupan.

Kita bisa diam selamanya di Aussie karena punya uang sangat banyak. Tapi bagaimana dengan anak dan cucu yang kita tinggalkan di Indonesia, dan bagaimana dengan banyak generasi mendatang keluarga kita di NKRI? Apa kita tega dengan keadaan mereka yang terancam, sementara kita, ayah dan ibu atau opa dan oma mereka, asyik hidup plesiran dan tenang di Aussie? Tenang? Siapa yang bisa jamin?

Bagaimana kalau kita malah ditembak mati atau disandera teroris justru di Australia, lalu disiksa para teroris pelan-pelan di sana?


Kalau mau sedikit lebih aman, ya ada kota-kota dan pulau-pulau di Indonesia yang bisa kita jadikan tempat tinggal kedua kita. Kenapa harus mengungsi ke Australia? Kenapa tidak pilih diam misalnya di pulau Bali di kawasan yang biasa-biasa saja, hidup bersama dengan tetangga-tetangga Hindu yang baik?

Lalu di situ, di Bali, atau di pulau lain manapun di NKRI, uang kita gunakan untuk bangun sekolah-sekolah nonkomersial yang akan mendidik dengan cerdas dan berbudipekerti anak-anak dan remaja kita sendiri atau banyak keturunan kita sendiri untuk selamanya mereka dapat cinta tanah air dan mau membangun negeri ini. Berpikirlah seluas jagat raya, jangan hanya seluas tempurung kepala atau tempurung kelapa.

Tapi jangan lupa: Meski pun diam di Bali, bisa saja kita malah mati di pulau Dewata ini karena jatuh dari tangga loteng di rumah sendiri, atau mati karena ditabrak trailer yang remnya blong di sana, atau mati karena tenggelam di Kuta atau di Sanur.

Orang yang takut mati, ya jadi stres terus. Tapi, orang yang berani mati seketika, tapi takut hidup jangka panjang, juga sangat buruk dan durjana: membom diri mereka sendiri di tempat ramai. Kalau mau bunuh diri dengan bom bunuh diri, karena sudah bosan hidup dalam dunia ini dan ingin segera cicipi hidangan lezat sorgawi, ya lakukan saja di gurun pasir yang sunyi sendirian.

Para pelaku bom bunuh diri ini jelas menyerakahi kematian. Bukan diri mereka sendiri saja yang haus kematian; tapi kematian harus direguk juga oleh jauh lebih banyak orang lewat aksi bom bunuh diri mereka. Orang yang menyerakahi kematian, tentu saja tidak mempunyai lagi nurani dan akal sehat dan rasa cinta pada kehidupan di dunia ini.

Jadi, mulailah ketenangan itu dari dalam diri kita sendiri. Bukan kabur-kaburan ke sana-sini bikin lelah sendiri dan menambah beban keuangan dan beban stres. Makin anda menyerakahi kehidupan, makin mati jiwa, kalbu dan pikiran anda! Menyerakahi kehidupan akhirnya juga bermuara pada aksi menyerakahi kematian: kematian nurani, akal panjang dan rasa kesesamaan sebagai manusia.

Gitu loh.

6.6.17

The weeping silence


Saturday, April 8, 2017

Dua sumber simalakama jiplakan lagu "Kobarkan Semangat"

Konon oleh timses dari PKS, untuk paslon 3 AB dan SU telah diciptakan lagu perjuangan "KOBARKAN SEMANGAT" dalam putaran kedua Pilkada DKI 2017.

Tak lama, terbongkarlah fakta bahwa lagu "heroik" tersebut lagu jiplakan, hasil plagiarisme. Nah, setelah saya meneliti sedikit, kini tersedia 2 pilihan sumber jiplakan untuk PKS putuskan yang satu mana.

Ini lagu yang diklaim PKS ciptaan timses paslon 3 ternyata jiplakan dari lagu Israel Hashem Melech yang dinyanyikan musikus Gad Elbaz.

Konon sang penyanyi Yahudi Gad Elbaz ini telah memberi kritik pedas atas plagiarisme lagunya oleh timses paslon 3 pilkada DKI 2017 putaran dua, dalam lagu mereka "Kobarkan Semangat". Ini link ke kritik tajam tersebut:

http://www.beraninews.com/2017/04/jawaban-telak-penyanyi-israel-gad-elbaz-anies-sandi-kobarkan-semamgat.html?m=1

Tapi dalam bantahannya, PKS menyatakan bahwa lagu "Kobarkan Semangat" paslon 3 itu bukan dijiplak dari lagu Yahudi "Hashem Melech", tapi dijiplak dari lagu penyanyi Arab (Aljazair) yang bernama Khaled, yang berjudul C'est Le Vie. Pertanyaan krusialnya adalah tahukah mereka ini lagu jenis apa? Dan apa konten liriknya?

Ok, perkenankan saya memberitahu. Aslinya lirik lagu Khaled ini ditulis dalam dua bahasa: Prancis dan Arab. Berikut ini link ke lirik Inggrisnya. Saya lampirkan screencapture-nya di bawah link-nya.

http://lyricstranslate.com/en/cest-la-vie-life.html



Apa konten lagu ini?

C'EST LA VIE artinya "Beginilah hidup"; "Begitulah yang terjadi"; "Terima saja, niscaya".

Maaf ya, sesungguhnya itu lagu percintaan, lagu mabuk asmara, dansa, musik, cinta satu malam, antara dua orang yang bukan suami-istri, yang menjadi subjek gossip. Dus lagu rohanikah ini? Lagu agamakah ini? Atau sebuah lagu mesum dan perselingkuhan? Terang sekali, ini lagu kobarkan semangat birahi. Lagu perangsang syahwat. Baru tahu? Baru nyaho? Katanya PKS itu partai anti-maksiat.

Jadi, PKS sekarang mau pilih mengakui sumber jiplakan yang mana? Hayo, berilah respons. Ini pilihan sebuah simalakama.

Lagipula, dari manapun sumber jiplakan mereka, plagiarisme itu bagi orang yang beradab dan terpelajar bukan hal remeh, tetapi sesuatu yang sangat serius bukan saja menyangkut legalitas hak cipta, tetapi juga rasa malu dan martabat dan integritas.

Setahu saya Bung AB itu bergelar Ph.D. Jadi, seharusnya baginya plagiarisme ini hal yang sangat sangat sangat serius cacatnya. Tapi saya telah mendengar bahwa AB menganggap kasus plagiarisme lagu "Kobarkan Semangat" cuma soal sepele yang tak perlu dipersoalkan. Nah loh! Lah No!

Setelah menyelidiki sedikit lebih jauh lagi, saya perlu menambahkan 5 poin berikut, memperpanjang versi awal tulisan saya ini yang berakhir pada satu alinea persis di atas.

1. Kalau orang membajak atau menjiplak lagu--bukan menyadur liriknya ke bahasa lain dengan tetap mempertahankan melodinya-- nah yang dijiplak itu melodinya, bukan liriknya.

2. Lagu "Hashem Melech" itu disusun liriknya berdasarkan teks kitab suci Yahudi Mazmur 10:16, bukan berdasarkan teks asmara dan percintaan yang mesum. "Hashem Melech" itu dua kata dalam bahasa Ibrani (Hebrew), bahasa bangsa Yahudi. Artinya "Tuhan itu Raja".

3. Melodi dan lirik otentik lagu "Hashem Melech" pertama kali dipublikasi tahun 1962 oleh Shlomo Carlebach, seorang rabbi. Ada di Youtube. Ini link-nya (publikasi 9 Juli 2012) https://www.youtube.com/watch?v=USb0ZryDoOc.


Lagu Shlomo Carlebach ini sama sekali bukan lagu mesum, perselingkuhan dan zinah. Tapi pujian kepada Tuhan sang Raja bangsa Yahudi. Lirik Ibrani dan Inggrisnya saya sudah buat screencapture-nya.  Saya pasang di bawah ini.


4. Melodi otentik "Hashem Melech" tahun 1962 ini kemudian, langsung atau tak langsung, diambil musikus Khaled orang Arab Aljazair itu, dan liriknya diganti dengan lirik asmara, perselingkuhan, dansa dan cinta satu malam. Jadi Khaled bukan pencipta melodinya.

5. Begitu saja dulu. Kalau nanti saya dapat pengetahuan lebih lanjut, akan pasti saya edit lagi tulisan ini.

Silakan share.
Bebas saja. Tak perlu minta izin dulu.

Salam, 
ioanes rakhmat
08 April 2017


Monday, April 3, 2017

Para ateis itu hamba setan! Aaaah anda!

Ilustrasi Cloud Computing. Mungkin ini sorga data dan informasi langit yang real...

Seorang pegiat di suatu gereja berkeberatan atas pernyataan saya dalam sebuah tulisan saya bahwa para ilmuwan adalah HAMBA TUHAN. Dia protes. Ini prinsip, katanya, serupa dengan gaya para Kristen evangelikal.

Alasan dia, karena banyak saintis yang ateis. Anti-Tuhan. Lalu dia sebut dua nama besar: Albert Einstein dan Stephen Hawking. Katanya yakin: mana mungkin dua saintis ateis anti-Tuhan ini Hamba Tuhan.

Ini tanggapan saya kepadanya (lewat WA):

Ya sudah, saya gak maksa anda atau orang lain kok untuk terima tulisan dan pikiran saya. Tapi, hemat saya, anda perlu baca tulisan saya itu kembali berkali-kali karena ketahuan anda belum memahaminya dengan benar. Terpasang di sini.

Pahami lagi ya. Saya ini pemikir. Pemikir pejuang. Bukan pemikir letoi pecundang. Saya gak mau ulang-ulang advis lama. Saya bosan dengan klise-klise agama. Agama lebih banyak bikin ribut dewasa ini di seluruh dunia. Bising. BIkin puSING. BIkin SintING.

Tak ada Tuhan dalam kebisingan. Dalam kebisingan, orang jadi tuli dan stres, dus gak bisa lagi mendengar suara orang lain yang mungkin juga keras dan menambah bising; apalagi mendengar "suara Tuhan" yang sunyi, senyap, silent, tak terdengar, tak tersadap, tak bisa direkam dalam pita kaset jadul atau dalam disk atau flashdisk modern atau di dalam "awan kemuliaan ilahi" Cloud Computing.

Tapi saya menyukai banyak metafora keagamaan yang terbuka untuk dipahami dari sudut-sudut pandang baru.

Metafora itu bagian dunia senibudaya, dipakai dapat dalam bentuk wahana sastra untuk berbicara tentang dunia-dunia yang tidak dikenal atau yang imajiner, atau sebagai ibarat atau kiasan atau perumpamaan. Bisa juga dalam bentuk wahana seni lukis, seni pahat, seni drama, seni suara, seni gerak, atau seni sinematografis, dll.

Kalau anda sudah cukup jauh menjelajahi kehidupan dan pemikiran para saintis, anda akan menemukan fakta bahwa mereka pun tidak jarang memakai metafora-metafora ketika berusaha menerangkan hal-hal yang rumit dan belum terpahami dalam dunia sains.

Selain itu, saya tetap mendekatkan diri kepada Tuhan yang sunyi, yang senyap, the Silent God. 

Listen to the silent God. The noisy God doesn't exist. Noisy religious believers never know the Silent God, while the noisy God never exists. Actually, they believe in God-of-nowhere, in nothing.

Tuhan dalam dunia iptek tentu saja bukan "Bapak yang bertakhta di sorga". Tapi kemahatahuan tanpa batas. Infinitas. Lebih luas dari Tuhan-tuhan agama-agama.

Einstein mengembangkan sendiri konsepnya tentang Tuhan dalam jalur yang sudah dibuka Baruch Spinoza. Di antara para fisikawan, ungkapan "the Einsteinian God", tidaklah asing atau mengejutkan.

Bagi Albert Einstein, hukum-hukum sains dalam jagat raya yang tanpa batas, yang belum seluruhnya para ilmuwan pahami dan temukan, dan yang menjadi landasan struktur alam semesta dan memberi orde harmonis pada jagat raya, dipenuhi misteri dan tak akan pernah habis dipahami manusia. Hukum-hukum sains ini juga, paradoksalnya, menuntun kita kepada infinitas, ketidakberhinggaan, yang tidak akan pernah dapat dirumuskan untuk menjadi sebuah hukum besi sains lainnya.

Jika diungkap dalam satu kata sebagai sebuah metafora, misteri dan ketidakberhinggaan inilah "God", "the Einsteinian God". Tuhan yang mahatakterbatas, yang manusia dapat pahami selangkah demi selangkah, tanpa akhir. Pikiran dan imajinasi kita itu ibarat ikan-ikan kecil warna-warni yang, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sedang berenang-renang dengan ceria ke segala arah di kedalaman lelautan yang tidak memiliki tepi atau pantai atau pelabuhan.

Einstein memang dengan terang telah menyatakan bahwa dia tak bisa terima Tuhan yang dibuat serupa manusia, "sang Bapak Yang Lanjut Usia dengan jenggot yang putih lebat yang ada di langit" (ini gambaran dalam kitab Daniel; bukan karangan saya). Ini namanya ANTROPOMORFISME TEOLOGIS, artinya Allah (Yunani: theos) digambarkan dalam rupa (Yunani: morfee) manusia (Yunani: anthropos), dan juga otomatis diberi sifat-sifat manusia.

Albert Einstein menolak teologi anthropomorfis ini meski sang saintis besar ini berlatarbelakang agama Yahudi yang kitab sucinya (Tanakh) penuh dengan metafora teologis anthropomorfis.

TUHAN Albert Einstein terlalu besar untuk dijejalkan ke dalam kitab suci bangsanya. Sebaliknya, kitab suci itu kekecilan untuk menyimpan Allah menurut konsep Einstein.

Bagi saya, baik Einstein maupun Hawking lebih tinggi statusnya sebagai Hamba Tuhan meskipun keduanya menolak konsep tradisional tentang Tuhan yang disusun manusia-manusia kuno dan dapat dibaca dalam kitab-kitab suci.

Sumbangan Einstein dan Hawking luar biasa besar dan bernilai kepada dunia, umat manusia dan peradaban yang dibangun di atas iptek modern. Billy Graham, Bunda Teresa (!), Martin Luther, maaf, gak ada apa-apanya jika dibandingkan dua saintis besar ini, sejauh terkait kemajuan peradaban modern yang dibangun di atas sainstek modern. Dari buahnya kau kenal pohonnya, bukan dari doktrinnya.

Doktrin-doktrin religius yang diklaim paling benar dan paling mulia silakan dipropagandakan ke mana-mana, tapi apa hebatnya jika ternyata (anda tentu tak buta fakta) banyak juru propaganda itu (tentu tidak semua) jadi megalomaniak dan psikopat, haus duit, haus kekuasaan, haus seks, serakah terhadap kehidupan. Hati-hatilah terhadap bujuk rayu WEIN, WEIB, GESANG, GELD und MACHT!

Silakan sebut Einstein dan Hawking hamba Setan, kalau itu memang yang anda inginkan./*/ Saya yakin, dua ilmuwan besar ini gak akan ngamuk, paling cuma tersenyum. Bagi sangat banyak orang, juga bagi saya, mereka jauh lebih dekat ke diri Tuhan YMTahu ketimbang Ratzinger dan John Calvin.

Begitu saja. Stay calm.

/*/ Menyetankan orang lain yang berbeda atau lawan yang lebih tangguh adalah bagian dari strategi "name-calling" ritualisme religius. Jika lawan sudah diberi label negatif setan atau babi ngepet atau jejadian, atau serigala, atau vampir, maka setiap anggota grup yang memberi label itu wajib melakukan ritual pengusiran setan atau eksorsisme. 

Ritual ini ditujukan kepada lawan-lawan yang sudah sepihak dikategorikan jahat atau najis, ya setan atau babi ngepet atau apapun yang dipandang buas dan anti-Tuhan.

Karena manusia lain itu sudah diubah sepihak sebagai setan atau babi ngepet atau jejadian atau vampir atau kampret, atau tukang sihir, maka orang lain yang sudah diberi "name-calling" itu harus ditengking, setannya diusir, atau orangnya dirantai, disiksa dan digempur sampai mati. 

Itulah salah satu strategi tempur melawan musuh yang terlalu kuat, dengan musuh itu dihina dan direndahkan dulu habis-habisan secara sepihak. 

Ritual eksorsisme, sebagai ritual, memberi legitimasi terhadap anggota grup pemberi label untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap lawan atau anggota grup lain yang berbeda. Bagi mereka yang melakukan ritual ini, menyiksa dan menewaskan lawan adalah hal yang patut. Dalam situasi ini, ritual dan penyiksaan dan pembunuhan menjadi satu. Penyiksaan dan pembunuhan menjadi ritual.

Jika ritual ini sudah berhasil dijalankan dengan sang setan atau sang vampir atau sang jejadian atau sang babi ngepet-nya sudah ditengking, dipasung, dibekuk, atau dihancurkan, maka grup pemberi label-label ini melihat disharmoni sosioreligius sudah ditiadakan, dan harmoni sudah ditegakkan kembali. Tentu saja, harmoni dan disharmoni ini didefinisikan sepihak oleh grup pemberi "name-calling".

Strategi ritual "name-calling" dan eksorsisme dipakai banyak kalangan sejak zaman kuno hingga kini dalam berbagai bentuk. Label-labelnya juga beda-beda, bergantung lingkungan sosiobudaya dan sosioreligius. 

Di negeri kita kini, banyak "name-calling" yang sedang bermunculan di tengah persaingan dan pertikaian memperebutkan banyak hal antargrup-grup yang berbeda. Silakan daftarkan sendiri.

Jahatkah ritual "name-calling" eksorsisme? Sangat jahat. Banyak orang benar dan tak bersalah, mati dibunuh lewat strategi ini.

Jakarta, 03 April 2017

Salam
ioanes rakhmat


Saturday, April 1, 2017

Meng-AGAMA-kan sains, dan men-SAINS-kan agama. Loh, itu oxymoronik!


"Kebencian terhadap Barat, jika ada umumnya karena 'victim-mentality' yang subjektif, tidak perlu membuat siapapun membuang sainstek modern. Jika dibuang, ya kita akan cepat mati. Jika anda tidak percaya, buktikanlah sendiri. Tapi saya tahu pasti, anda atau siapapun, bahkan orang yang sangat anti-Barat, tidak akan pernah mau membuktikannya sendiri."

"Ketahuilah, ada agama Barat, dan juga ada agama Timur. Tetapi jika anda menyatakan sainstek modern yang antara lain telah mengirim banyak wahana antariksa ke luar Bumi, ke planet-planet lain dalam tata surya, bahkan ada yang sudah meninggalkan tata surya lalu memasuki dunia antarbintang, sebagai sains Barat, maka anda sudah terjatuh ke dalam sebuah parit hitam kerancuan berpikir."

Seorang teman Muslim menyatakan bahwa dia berniat untuk membangun sebuah kerangka pemikiran yang akan bisa memperdamaikan sains dengan agama, dan agama dengan sains. Dalam bingkai pemikirannya ini, katanya, dia mau memperlihatkan bahwa AGAMA ITU ILMIAH dan SAINS ITU AGAMAWI. Pendek kata, dia ingin mengagamakan (dalam kasusnya: mengislamkan) sains, dan tentu saja juga segala sesuatu.

Niatnya ini bukan hal baru, datang pergi bergantian. Berikut ini tanggapan saya kepadanya lewat WA. Cukup panjang. Bacalah dengan cermat, anyway. Pasti obor pencerahan memberikan cahaya dan terangnya kepada anda.

1. Dengan memakai sebuah ungkapan dalam agama anda, mengagamakan sains itu ya syirik. Sains jadi absolut, mutlak, tak bisa salah, sama seperti Tuhan dalam teisme. Dalam agama monoteis yang berusia jauh lebih tua dari agama anda, Yudaisme, ada sebuah perintah tegas untuk manusia (umat) tak boleh mempertuhan sesuatu apapun yang bukan Tuhan.

2. Faktanya, sains itu tak absolut, relatif, bisa salah, selalu diuji dan diuji lagi berdasarkan bukti-bukti baru, dan dikoreksi atau ditinggalkan sama sekali. Sebagai seorang yang saleh, apakah anda mau atau berani memperlakukan Tuhan anda seperti itu? Pasti tidak. Jadi sains tidak sama dengan Tuhan dalam teisme. Jika kosa kata Arabik dipakai, Tuhan itu "LAISA KAMITHLIHI SYAIUN", artinya, "tak ada yang menyamainya".

3. Realitanya, tak ada satupun ilmuwan di dunia ini, sejak awal era modern hingga kini, yang mempertuhan dan menyembah sains atau berdoa memanggil sains.

4. Jadi, salah jika sains dijadikan agama. "Sains agama" adalah sebuah oxymoron: Dua hal yang berbenturan disatukan. "ES goreng" atau "segi tiga lingkaran" atau "garis lurus yang melengkung" atau "kebohongan yang jujur" atau "agamawan ateis" atau "ilmuwan yang bodoh" adalah ungkapan-ungkapan oxymoronik.

5. Sebaliknya, men-sains-kan agama juga sebuah oxymoron, dan hanya melahirkan suatu agama baru yang berparas ganjil, sama sekali bukan sains baru.

6. Misalnya, jika agama dijadikan sains, lahirlah bukan sains, tapi AGAMA-BUMI-DATAR-USIA-6.000 TAHUN.

7. Satu contoh lagi dari "agama sains": AGAMA-DINOSAURUS-SUDAH-HIDUP-BERSAMA-MANUSIA-KURUN-6.000 TAHUN LALU.

Mau lagi? Ini: AGAMA-MENGUKUR-ENERGI-KINETIK-KECEPATAN-GERAK-MALAIKAT.

8. Jelaslah: "mengagamakan sains" dan "mensainskan agama" hasilnya cuma oxymoron. Hanya melahirkan agama lagi yang berwajah aneh. Tidak pernah satu kalipun melahirkan sains terobosan yang para penemunya patut diberi Anugerah Nobel fisika, misalnya.

Tentu, ilmuwan yang saleh beragama penerima Anugerah Nobel ada banyak. Tetapi yang diberi Anugerah Nobel tentu bukan teks-teks kitab-kitab suci mereka atau agama-agama mereka, melainkan buah-buah kreativitas pemikiran dan eksperimen mereka yang luar biasa, yang menghasilkan temuan-temuan keilmuan terobosan yang luar biasa.

Setahu saya, TAK PERNAH ADA seseorang yang seumur kehidupannya hanya membaca dan menghafal teks-teks Alkitab atau teks-teks kitab-kitab suci lain tiba-tiba mampu menghasilkan temuan ilmiah terobosan baru, sehebat apapun dia diklaim sebagai pakar kajian kitab suci atau pakar penghafal seluruh isi kitab suci.

Temuan-temuan baru ilmiah yang absah tidak pernah berwatak partisan atau berlaku hanya untuk lingkungan sendiri yang esoterik. Tapi berlaku universal, lintasruang, lintaswaktu, lintasbudaya, lintasagama, dan akan bertahan untuk waktu yang sangat panjang atau malah bertahan abadi.

Jika anda sudah memahami seluk-beluk ilmu pengetahuan, tentu anda akan langsung sepakat bahwa tidak ada apa yang dinamakan ilmu pengetahuan Yahudi atau ilmu pengetahuan Kristen atau ilmu pengetahuan Islam atau ilmu pengetahuan Buddhis atau ilmu pengetahuan Hindu atau ilmu pengetahuan Kejawen dst. Kalau NGELMU Kejawen, ya ada. Tapi ilmu pengetahuan dan ngelmu adalah dua hal yang berbeda.

Seandainya ada sains Islam atau sains Kristen, ya sekalian saja islamkan atau kristenkan rambutan, jeruk, nangka, jambu bol, pisang, kucing, beruang, simpanse, bonobo, onta, anjing, babi, cicak, kadal, ikan, katak, kutu air, bakteri, janin, bayi, layang-layang, pesawat terbang, roller coaster, jarum, ginjal, jantung, paru, mata, hidung, bawang, payung, kembang, bulan, planet, galaksi, black holes, worm holes dan lain-lain.

Oh ya, ada satu hal lagi. Jika menurut anda ilmu pengetahuan Kristen itu ada, maka tentu ilmu pengetahuan itu hanya absah bagi orang Kristen. Selama anda masih Kristen, maka absahlah ilmu pengetahuan Kristen anda itu.

Nah, bagaimana jika kemudian anda pindah agama atau katakanlah anda menjadi ateis? Apakah status anda yang baru ini, sebagai orang bukan-Kristen, atau ateis, membuat ilmu pengetahuan Kristen yang sebelumnya anda yakini betul, masih tetap betul? Tentu anda akan menjawab, ilmu pengetahuan Kristen itu kini sudah tidak betul lagi. Jika itu jawaban anda, ya itu artinya ilmu pengetahuan Kristen yang sebelumnya anda yakini betul atau sahih, bukanlah ilmu pengetahuan, tetapi agama Kristen atau dogma Kristen. Jelas, bukan?

9. Dus, apakah ada jalan lain yang bukan jalan buntu oxymoron yang dinamakan "sains agama" atau "agama sains"? ADA.

10. Berikut ini jalan pikiran saya yang belum ditempuh orang lain, setahu saya, khususnya dalam teisme.

11. Saya mulai dengan teologi: Tuhan itu dipercaya mahatahu. Kemahatahuan Tuhan ini tanpa batas. Tak pernah habis. Tak pernah kering. Tak ada puncaknya. Tak ada dasarnya. Tak ada ujungnya. Tak ada bilangannya. Yang ada ketakberhinggaan. Infinitas.

12. Semakin kita dekat dengan sifat-sifat Tuhan, semakin mulia diri kita, menuju status Insan Kamil, Bodhisattva, Buddha, Krishna, Wishnu, Mahatma, Kristus, Rupa Allah.

13. Nah, jika Tuhan mahatahu, dan pengetahuan kita makin banyak, maka kita masuk ke sifat Tuhan, yakni mahatahu, yang kita raih sebagian demi sebagian. Tahap demi tahap. Tak pernah selesai. Makin dekat Tuhan, malah makin jauh harus berziarah. Ke pelabuhan yang selalu samar, tak pernah terkunjungi untuk berlabuh.

14. Hanya lewat ilmu pengetahuan tentang jagat raya yang terus dikembangkan, kita makin banyak tahu, tanpa batas. Otak manusia memang bekerja terbatas, tapi batas ini sulit ditentukan. Ini pengalaman semua pemikir pejuang.

Tapi, pemikir yang tidak tangguh dan bukan pejuang, pemikir yang sudah letoi dan kelelahan, memilih untuk menyerah saat diperhadapkan pada hal-ihwal yang sulit, yang sebetulnya menantang. Hal-ihwal ini bisa dipecahkan hanya lewat keberanian berpikir berbeda, berpikir "out of the box", yang bukan asal berpikir, atau asal-asalan ngoceh bak orang yang sedang sakit jiwa. Juga lewat imajinasi yang berani dengan memakai landasan-landasan keilmuan yang sudah ada untuk terbang tinggal landas, jauh menuju angkasa.

Selain itu, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan maju tanpa batas karena dihasilkan lewat kerjasama antarpara ilmuwan lintaszaman dan lintasgeografis, bahkan nanti mungkin lintasgalaksi dan lintasjagat-jagat raya. Sifatnya yang akumulatif, partisipatif dan progresif ini membuat jalan buntu abadi tak ada dalam dunia ilmu pengetahuan. Seseorang yang mau memulai dari nol kajiannya sendiri atas suatu fenomena hanya karena dia mau orisinal murni, adalah orang buta yang melakukan kebodohan dan kemubaziran.

Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, manusia makin tahu banyak terus-menerus ya hanya lewat ilmu pengetahuan. Lewat pengkajian-pengkajian ilmiah, dengan yang mutakhir membarui yang lama, manusia punya potensi menjadi serba tahu. Serba tahu yang tak pernah akan selesai sebagai titik, full stop. Tapi serba tahu yang selalu sebagai koma atau sebagai titik-titik. Serba tahu yang serba tidak tahu. Ini real, bukan oxymoronik. Lao Tzu menasihati, jika engkau berhasil menemukan sebuah pikiran, tertawakanlah pikiranmu itu.


15. Dus, ilmu pengetahuan adalah Jalan Mulia menuju pencapaian sifat kemahatahuan Tuhan. Sungguh-sungguh Jalan Mulia yang harus tidak dinodai oleh kenajisan, ketamakan, pelacuran, dan aib.

16. Lebih tegas: ilmu pengetahuan yang terus berkembang akumulatif progresif tanpa akhir adalah JALAN MULIA MENUJU TUHAN.

17. Karena itu, para ilmuwan yang mengabdikan diri dengan bermarwah pada ilmu pengetahuan adalah juga PARA HAMBA TUHAN.

18. Para ilmuwan itu hamba-hamba Tuhan bukan karena mereka taat dan saleh beragama dan rajin beribadah dan menyembah Tuhan lewat berbagai kegiatan keagamaan.

Itu bukan sebuah oxymoron. Tuhan tidak dikenal hanya lewat jalur-jalur agama-agama. Tuhan YMTahu jauh melampaui, dan tidak bisa dikerangkeng, dalam agama-agama apapun. Para ilmuwan mengabdi pada Tuhan YMTahu tak lewat jalur agama-agama, tapi lewat JALAN ILMU PENGETAHUAN sebagai jalan memasuki kemahatahuan Tuhan yang tak terbatas, tahap demi tahap, bahu-membahu, lintasruang dan lintaszaman, dengan tekun dan berkomitmen penuh.

19. Jalan agama dan jalan ilmu pengetahuan adalah DUA JALAN BERBEDA MENUJU TUHAN YMTahu. Keduanya tak bisa ditumpuk.

Kenapa tidak bisa ditumpuk? Karena Tuhan dalam ilmu pengetahuan adalah Tuhan YMTahu tanpa batas, tak berhingga, infinitas. Sebagai infinitas, Tuhan dalam ilmu pengetahuan tidak bisa dipaksa masuk habis, dijejali, ke dalam kitab-kitab suci apapun, atau ke dalam doktrin-doktrin keagamaan apapun. Tuhan dalam ilmu pengetahuan didekati, diakrabi, lewat berbagai aktivitas keilmuan yang tak pernah selesai.


Sebaliknya, Tuhan yang sebetulnya tak terbatas, infinite, oleh agama-agama telah dikurung dan direduksi ke dalam institusi-institusi agama, dalam dogma dan akidah, dalam kitab-kitab suci, dalam ritual-ritual yang beku dan kaku. Cobalah rombak dan angkat kurungan-kurungan ini dan jebol pintu-pintunya, maka adu jotos dan pertikaian adalah muaranya.

20. Faktanya, sumbangan signifikan bagi peradaban dan kehidupan yang lebih baik DATANG UMUMNYA DARI ILMU PENGETAHUAN.

21. Obor penerang jalan kehidupan dan peradaban dan pencerah akal budi JUSTRU DINYALAKAN JAUH LEBIH BANYAK OLEH PARA ILMUWAN. Ini fakta, lepas dari ihwal apakah si ilmuwannya teis, agnostik, nonteis, atau ateis. Dari buah kehidupan seseorang, bukan dari filsafat atau ideologi keyakinannya atau dari doktrin-doktrin keagamaannya, kita tahu pohonnya hingga akarnya. Banyak orang yang mengaku cerdas, berilmu, dan fasih berkhotbah tentang akhlak dan etika dan kebesaran Tuhan, eeeeh akhirnya masuk penjara karena kasus KKN.

22. Fakta juga: AGAMA-AGAMA lebih banyak menyulut api peperangan dan perpecahan dunia dan umat manusia dewasa ini.

23. Kenapa bisa begitu? Karena agama-agama menjadikan institusi mereka sendiri sebagai tujuan, dan Tuhan YMTahu dilupakan

24. Ketika agama apapun dijadikan tujuan, dan bahkan disetarakan dengan Tuhan, sehingga Tuhan de facto tersingkir, maka hasilnya adalah pertikaian, korosi, ilusi dan pendangkalan dalam kehidupan beragama.

25. Apakah ilmu pengetahuan tak punya masalah? Apakah cuma agama sumber berbagai problem dunia yang kronis dan yang akut?

26. Oh tidak. Ilmu pengetahuan pun punya sangat banyak problem yang tak ringan. Ada yang sudah teratasi dan terpecahkan, dan ada juga yang terus bertahan membandel.

27. Tapi segala problem dalam dunia ilmu pengetahuan TAK DISELESAIKAN LEWAT PERANG dan PERTUMPAHAN DARAH dan HUJATAN.

28. Jika sedang menghadapi suatu problem teoretis keilmuan, problem ini diatasi lewat pengkajian lebih lanjut, tukar pikiran, evaluasi kritis, dan debat bermartabat. Di ruang debat ilmiah, para ilmuwan tak akan adu jotos.

29. Jika diperkirakan akan muncul sekian problem etika terkait berbagai ujicoba di lab, para ilmuwan mendiskusikan soal ini dengan terbuka. Banyak pihak pengambil kebijakan dalam banyak segmen masyarakat dan dunia dilibatkan. Sikap inilah salah satu etika dunia keilmuan.

30. Lewat pengkajian lintasilmu dan lintasbidang atas suatu fenomena, hasil yang dicapai akan jauh lebih solid, lebih kaya dan lebih handal. Jika suatu prediksi ilmiah yang semula diyakini akan terbukti atau terkonfirmasi ternyata akhirnya gagal dibuktikan atau gagal ditemukan secara empiris, kegagalan ini biasanya menjadi titik tolak baru untuk memulai pengkajian-pengkajian baru dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda.

31. Karena tak ada klaim mutlak-mutlakan dalam dunia sains, setiap perbedaan pendapat memacu penelitian lebih jauh. Dalam dunia sains, perbedaan pendapat malah dicari dan sangat diperlukan. Tak ada ketakutan terhadap pendapat-pendapat ilmiah yang berbeda.

32. Problem teoretis apapun dalam dunia sains adalah peluang untuk meneliti lebih jauh, mencari pendekatan-pendekatan alternatif, dan menarik kesimpulan lebih mendasar dan lebih kokoh.

33. Tapi ada juga PROBLEM MORAL INSANI dalam dunia ilmu pengetahuan, yang terkait dengan "vested interests" kalangan-kalangan tertentu dalam dunia politik, militer, dan ekonomi.

34. Dari antara para ilmuwan, ada banyak juga yang tergoda untuk menjadi para pelacur di dunia sains karena iming-iming.

35. Mereka disebut "junk scientists", yakni orang yang membangun pendapat-pendapat yang diklaim ilmiah karena dibayar mahal, tidak muncul dari kajian-kajian ilmiah yang cermat, objektif dan absah. Para intelektual pelacur ini tidak pernah habis dalam dunia ini.

36. Bayaran untuk "junk scientists" dapat berupa uang, jabatan politik atau berbagai fasilitas lain. Germo mereka ya para politikus dan para konglomerat yang sedang mengejar target-target politik, militer dan ekonomi tertentu. Di era Donald Trump sekarang di USA mereka banyak bermunculan dengan memutarbalik fakta-fakta perubahan iklim, keamanan Genetically Modified Foods, Plants, Crops and Organisms, dll.

37. Tapi dalam komunitas global para ilmuwan, "junk scientists" cepat ketahuan, lalu terkucil sendiri meski mereka, misalnya, sudah kuat di politik atau sudah kaya.

38. "Junk scientists" tak bisa merusak sains sebab sains punya hukum-hukum sains sendiri yang universal dan berlaku lintaszaman untuk waktu yang panjang.

39. Sifat universal dan lintaszaman suatu posisi ilmiah terlihat dari hasil yang sama jika posisi ini diuji lagi di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.

40. Lewat verifikasi universal dan lintas zaman inilah sains selalu terbuka untuk mengoreksi dirinya sendiri. Sains itu akbar karena mampu memeriksa dan mengoreksi diri lewat usaha para ilmuwan.

41. Verifikasi dan koreksi diri ini dua karakter utama sains yang tak memungkinkan sains menjadi IDEOLOGI TUNGGANGAN para "junk scientists" dan germo-germo mereka.

42. Banyak orang yang berpendapat keliru bahwa sainstek yang terus berkembang dan kini sedang memasuki tahap-tahap kemajuan yang mengherankan sekaligus mendebarkan hati berakar pada dosa manusia. Kisah mitologis tentang Adam dan Hawa di Taman Eden umumnya dipakai sebagai landasan skriptural bagi pendapat yang keliru itu.

43. Ini tanggapan saya: Kok sainstek berakar dari dosa? Ya salah. Sang perempuan Hawa dalam metafora Taman Eden bukan sang insan pembawa masuk dosa ke dalam dunia lewat keinginannya untuk memiliki pengetahuan moral etis tentang hal yang baik dan hal yang buruk, hal yang benar dan hal yang salah, hal yang mulia dan hal yang aib.

44. Sesungguhnya, sang Hawa adalah simbolik insan primordial perempuan pencari dan pencerah kesadaran moral etik. Kesadaran ini juga menjadi bagian kesadaran para ilmuwan ketika mereka tak putus-putusnya mencari pengetahuan-pengetahuan baru, menjalankan eksperimen-eksperimen, dan menerangi peradaban dengan obor terang ilmu pengetahuan mereka.

45. Satu poin sangat penting yang tidak boleh dilepaskan: Sainstek lahir dari kemahatahuan Tuhan yang dibagi bertahap dan terakumulasi ke manusia dari segala latarbelakang, segala zaman dan segala tempat. Tujuannya ya supaya kehidupan manusia makin baik, peradaban makin maju, rasa kesesamamanusiaan makin kuat, planet Bumi, alam dan semua bentuk kehidupan terpelihara dan lestari.

46. Jika dosa itu termanifestasi dalam berbagai sakit penyakit, azab dan kematian (seperti diajarkan gereja Kristen selama ini), tokh kita semua tahu dan banyak mengalami fakta yang menunjukkan bahwa sainstek medikal dan farmakologi menyembuhkan banyak sakit penyakit, mengatasi penderitaan, menyehatkan kehidupan kita, dan memperpanjang umur rata-rata manusia sedunia.

47. Sekarang ini sedang diusahakan sainstek hidup kekal. Ini bukan agama, tapi sainstek yang sangat menantang. Para sainstis dan teknolog bidang ini, dalam bidang ilmu gerontologi, memandang penuaan dan kematian sebagai suatu penyakit yang nanti akan bisa disembuhkan lewat berbagai metode teknis dan pengobatan.

Jadi ketimbang muncul dari dosa, sainstek malah mengalahkan dosa.

48. Akhirulkalam, saya ingin menegaskan sesuatu yang penting. Jika Tuhan itu mahatahu dan mahatakterbatas, jadilah Tuhan selalu sebagai Misteri Besar yang tidak akan pernah terhampiri tuntas dan habis. Siapakah yang bisa sampai di ujung infinitas, ketakberhinggaan?

Kalau anda beriman kepada Allah, anda sesungguhnya beriman kepada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang masih terbuka, sesuatu yang misterius. Misteri apapun selalu penuh teka-teki. Selama sebuah teka-teki belum terpecahkan, teka-teki ini belum selesai.

49. Karena anda beriman kepada sesuatu yang masih berupa misteri, teka-teki, iman anda seharusnya tak pernah bisa absolut, selalu relatif, masih dalam perjalanan, masih belum selesai bahkan tak pernah selesai, masih terus mencari jawab, masih terus bertanya, masih terus menyelidiki, dan tidak mungkin tidak bisa salah.

Beriman itu ibarat berlayar atau berenang di lelautan luas dan dalam tanpa dasar, tanpa tepi, tanpa pantai dan tanpa pelabuhan. Sementara berlayar dan berenang, kawasan-kawasan baru yang asing dan tidak dikenal terus-menerus ditemukan dan menunggu dieksplorasi dengan cermat dan terfokus.

50. Semakin beriman seseorang kepada Allah, semakin orang ini terbuka kepada berbagai kemungkinan baru dan menakjubkan di masa depan yang tak pernah berakhir. Dia akan memandang dirinya dan perjalanan kehidupannya selalu dinamis, belum selesai, tak pernah selesai, tak kunjung tamat, sekalipun suatu saat dia akan wafat.

Secara ragawi dan mental dia memang suatu saat wafat, tetapi perjalanan kehidupan dan pencariannya akan terus dilanjutkan orang-orang lain, tak pernah selesai, tak pernah berhenti. Albert Einstein sudah wafat, tapi pikiran dan pencariannya hidup terus dalam diri para fisikawan generasi-generasi setelahnya yang tak akan habis.

Jadi, seharusnya dalam hidup bertuhan dan beragama apapun, ya tak ada sikap dan perilaku mutlak-mutlakan dan menang-menangan atau dengki-dengkian. Ya, karena semua orang yang bertuhan dan beragama selalu ada dalam ziarah, dalam pelayaran di lelautan yang dalam, tak memiliki dasar, tak berpantai, tak memiliki pelabuhan final apapun. Ada yang berenang sendirian; ada juga yang berenang ramai-ramai, bahkan bersama lumba-lumba, anjing-anjing laut, dan ikan-ikan warna-warni.

END.

Silakan share.

Jakarta, 01 April 2017
Ioanes Rakhmat