Saturday, December 2, 2017

Yesus, Yakobus, dan Rasul Paulus

YESUS ORANG NAZARETH, YAKOBUS SI ADIL dan RASUL PAULUS

Ada sebuah DOKUMEN GNOSTIK yang ditulis dalam bahasa Yunani yang memuat percakapan YESUS dengan "saudara"-nya, YAKOBUS SI ADIL.


Pertemuan tahunan Society of Biblical Literature (SBL) mutakhir, 18-21 Nov 2017, di Boston, menjadikan dokumen gnostik Kristen WAHYU PERTAMA YAKOBUS (WPY) sebagai salah satu fokus perbincangan.

WPY adalah satu-satunya dokumen yang ditulis dalam bahasa Yunani dari 52 dokumen dalam Perpustakaan Nag Hammadi atau The Nag Hammadi Library yang nyaris seluruhnya, 51 dokumen, ditulis dalam bahasa Koptik, yang keseluruhannya ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, tahun 1945.

Dalam WPY, Yesus menyapa Yakobus sebagai "saudaraku" (yang "bukan ragawi") yang diberi sebutan tambahan "si Adil".

Dalam percakapan ini, Yesus mengajarkan dan menyingkapkan hal-hal yang dibutuhkan dan memampukan Yakobus setelah Yesus wafat untuk menjadi sang guru yang baik, "Yakobus si Adil", yang membimbing orang untuk mengenal Yesus.

Sebagai sebuah dokumen yang heterodoks, yang memuat ajaran gnostik Kristen (abad ke-2 hingga abad ke-6 M), WPY tentu saja dulu ditolak untuk menjadi bagian Perjanjian Baru.

Meskipun demikian, dokumen WPY menjadi sebuah sumber sastra ekstra-PB penting yang memberi kita gambaran tentang dekatnya hubungan Yesus dan Yakobus secara personal.

Selanjutnya, saya beri info tambahan yang relevan yang sudah saya dalami. Kekristenan Yahudi awal dibangun oleh Yakobus si Adil, yang menganut teologi yang bertolakbelakang dengan teologi yang diajarkan Rasul Paulus yang mencari para pengikut baru Yesus dari orang-orang bukan Yahudi.

Dari berbagai dokumen lain di luar PB, juga sedikit dari PB sendiri, kita mendapatkan gambaran yang jelas tentang konflik sengit antara kekristenan Yahudi (yang dibangun Yakobus si Adil) dan kekristenan Yunani yang dibangun Rasul Paulus, meski Paulus tidak melepaskan seluruh tradisi keagamaan Yahudi yang sebelumnya dipertahankannya mati-matian selaku seorang Farisi.

Kita tahu, kekristenan Paulus kemudian menjadi kekristenan pemenang lewat berbagai pertarungan ideologis dan politis di era patristik. Paulus menang karena kekuatan politik Romawi berpihak kepadanya lewat bapak-bapak gereja awal.

Sedangkan kekristenan Yahudi awal sendiri tenggelam, diawali dengan penyingkiran ke Pella (sebelah timur Sungai Yordan, di kawasan Dekapolis) sebelum pecah Perang Yahudi vs. Roma Pertama (tahun 66-77 M), dan diakhiri dengan exodus bangsa Yahudi keluar Palestina yang diharuskan oleh Dekrit Kaisar Hadrianus tahun 135 setelah Perang Yahudi Kedua usai (tahun 132-135 M) dengan kekalahan telak bangsa Yahudi.

Orang yang mengenal dekat Yesus dari Nazareth, dan mengenal Yesus muka berhadapan muka, yakni Yakobus, tidak sejalan dengan Rasul Paulus. Anehnya, kekristenan di zaman modern (Ortodoksi) malah jauh lebih dekat ke Paulus ketimbang ke Yakobus si Adil dan ke Yesus orang Nazareth.

Baca tuntas buku saya yang membeberkan dengan komprehensif pertikaian antara kekristenan Yakobus dan kekristenan Paulus, yang berjudul Menguak Kekristenan Yahudi Perdana (2009), 200 halaman.

Berita tentang WPY dan pertemuan tahunan SBL di sini
http://www.sciencealert.com/greek-first-apocalypse-james-nag-hammadi-library-teaching-tool.

Teks terjemahan Inggris dokumen WPY lihat di http://gnosis.org/naghamm/1ja.html.

Silakan di-share jika ingin.

Dokumen lain yang relevan dibaca, Kisah Masa Kanak-kanak Bunda Maria menurut Yakobus, tersedia di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2010/11/protevangelium-jacobi-atau-kisah-masa.html?m=1.

Salam, 
ioanes rakhmat
02 Des 2017


Thursday, November 23, 2017

Iklan lagi: Mau masuk sorga?

SORGA YA DI BUMI INI.
TAK ADA PILIHAN LAIN!

Tulisan ini saya buat sebagai reaksi saya atas sebuah video (saya lampirkan satu atau dua screencapture dari gambar adegan-adegan dalam video ini) yang berisi pesan masuk sorga lewat Yesus. Video ini kiriman seorang sahabat yang sangat baik hati. Terima kasih kepadanya.


Sorga, kita tahu, ditawarkan banyak pengkhotbah agama, untuk berbagai kepentingan. Termasuk untuk kepentingan ekonomi dan politik. Tak heran, jika demi sorga, orang yang beragama mau berseteru dan berperang, dua kondisi yang ironisnya diajarkan tidak ada dalam sorga. Ajaran dan perbuatan kok berbenturan?

Saya juga berulangkali diingatkan untuk jangan kehilangan peluang untuk masuk sorga, lewat hanya satu jalan, percaya pada Yesus. Mereka yang "menjual" sorga ke saya ini berasumsi saya sudah jauh dari Yesus. Asumsi ini datang dari alam "neraka", hemat saya.

Karena, faktanya, saya hingga detik ini dengan riang tetap bersahabat dengan Yesus, sosok mulia yang saya cintai, sosok agung yang ingin saya makin kenal lewat kajian-kajian ilmiah. Cinta pada Yesus, bagi saya, memerlukan ilmu pengetahuan untuk digunakan dalam usaha makin mengenal dan makin memahami Yesus. Tak ada benturan antara cinta dan ilmu pengetahuan.


Tapi memang sudah jelas, saya belum mau masuk sorga dan juga tidak akan pernah mau. Kok? Ya, ada alasan-alasan yang mendasari sikap saya ini.

Dalam Doa Bapa Kami (DBK) yang tertulis dalam injil Perjanjian Baru, ada bagian doa ini (konon diajarkan Yesus) yang berbunyi, "Jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti di sorga."

Nah, menjadikan kehendak Allah di Bumi ini yang belum dan tak akan pernah selesai saya lakukan. Selama belum selesai, ya tak ada keinginan saya untuk masuk sorga lewat kematian, apalagi lewat kematian yang sengaja dipercepat.


Kehendak Allah ya tentu banyak, mungkin tak terbatas sama halnya dengan sifat-Nya yang mahatahu dan mahatakterbatas. Tapi, kalau memusingkan dan mencoba memahami hal yang tak terbatas ini, ya kita tidak akan pernah melakukan apa-apa yang bermakna selama kehidupan di muka Bumi.

Jadi, ya sebut saja tiga contoh tentang hal yang Allah pasti kehendaki.

Sudah pasti, tak ada keraguan sedikitpun, bahwa Tuhan itu Maha Pengasih-Penyayang dan Maha Penolong.

Dengan demikian, Tuhan menghendaki kita juga untuk mewujudkan kasih sayang dan pertolongan kepada sesama manusia, semua bentuk kehidupan, dan alam indah ini yang di dalamnya kita hidup.

Sudah pasti juga bahwa Tuhan itu Mahatahu. Dus, Tuhan juga menjadi sumber kemahatahuan; dus Dia juga sumber segala ilmu pengetahuan.

Nah, Tuhan YM Tahu pastilah menghendaki kita untuk juga dengan cerdas dan tekun  mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan tanpa batas.

Ilmu pengetahuan itu memang tanpa batas, tak akan pernah selesai dan tak akan pernah mencapai garis finish, dibangun dan dikembangkan oleh sangat banyak orang lintaszaman, lintasgenerasi, lintasgeografi, lintas kebudayaan. Dibangun dan dikembangkan lewat proses yang sangat dinamis, dialektis, partisipatif, kumulatif, progresif dan serbaterbuka, infinite.

Dus, ilmu pengetahuan bergerak terus ke depan, makin maju, tak bisa dihentikan oleh kekuatan apapun dan tak akan pernah tamat. Lahir dan berkembangnya iptek, dan manfaat besar yang diberikan iptek bagi kehidupan dan dunia ini, menunjukkan bahwa manusia memiliki kecerdasan dan keluhuran budi.

Tentu saja, ada juga orang-orang bejad dari kalangan para politikus dan militer dari berbagai agama dan para pemilik modal besar, yang bisa menunggangi dan memanipulasi iptek demi mencapai tujuan-tujuan durjana mereka. Selain itu, ada juga para pelacur di dunia ilmu pengetahuan, yang dinamakan junk scientists, yang piawai menelikung dan memelintir iptek juga demi memuaskan kerakusan mereka dan mewujudkan pikiran-pikiran jahat mereka.

Jadi, sekarang, kalau tiga hal yang menjadi kehendak Tuhan itu kita laksanakan dengan cerdas, tekun, gigih, ikhlas, girang, dan kooperatif, ya kita sedang menjadikan kehendak Tuhan terwujud di Bumi ini.

Di sorga, tentu semua "penghuni" sorga menjalankan kehendak Tuhan YM Pengasih-Penyayang, YM Penolong, dan YM Tahu. Kalau tidak demikian, pasti bukan sorga namanya; mungkin sarang bandit, musuh Tuhan, tempat kekejian dan kejahatan berkuasa dan merajalela tanpa batas.

Jadi, jika di Bumi kita mewujudkan kehendak Tuhan, itu artinya kita juga sedang hidup di dalam sorga. Ajaran Yesus dalam DBK itu menekankan hal ini: jadikan Bumi ini sorga dengan menjalankan dan mewujudkan sorga di muka Bumi. Kata Yesus dalam DBK, "Datanglah Kerajaan-Mu!" Datang ke mana? Ya ke dalam dunia ini! Kapan? Ya sekarang ini dan seterusnya! Yesus tidak berkata, masukilah sorga di luar dunia ini sesudah anda mati.

Ketika Yesus mengajar dan memotivasi orang lewat perumpamaan-perumpamaannya tentang kerajaan Allah, Yesus tidak mengarahkan mereka ke dunia lain sesudah kematian, tetapi ke kehidupan dalam dunia masa kini di Bumi ini, di negeri Palestina, yang mereka perlu jalani dengan tabah, gembira, tekun, kuat, pantang berputusasa, lantaran Allah itu pengasih, penyayang dan penolong.

Jadi, ingat tiga hal ini saja dulu untuk kita jalankan dan realisasikan di muka Bumi sebagai bagian dari Kerajaan Sorga: kasih sayang, penolongan, dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai suatu sarana yang memperbesar peluang dan kemungkinan untuk kasih sayang dan pertolongan dapat diwujudkan bagi semua bentuk kehidupan dan bagi kebaikan alam semesta ini.

Karena jagat raya kita ini, termasuk planet Bumi dalam sistem Matahari kita, masih akan ada bermilyar-milyar tahun dari sekarang, dan begitu juga halnya dengan kehidupan yang terus mengalami evolusi (alamiah dan buatan), maka mewujudkan tiga kehendak Tuhan itu adalah juga tugas yang TAK AKAN PERNAH SELESAI.

Alkisah, ada lima musafir yang sedang berkelana di sebuah gurun pasir sangat luas. Mereka bertekad untuk menemukan nirwana atau sebut saja sorga lewat ziarah gurun mereka.

Dalam perjalanan mereka yang melelahkan dan memakan jiwa raga, akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang tampaknya tidak bisa dilewati lagi karena dihalangi dinding tinggi 3 meter, yang membentang panjang, tak terlihat ujung-ujungnya di kiri dan di kanan.

Mereka berbincang sejenak persis di depan tembok penghalang itu. Mereka sepakat untuk melihat ada apa di balik tembok itu, lalu akan  melompatinya. Dengan membangun tangga dua tubuh, dengan yang satu menjadi injakan yang lainnya, peziarah pertama berhasil melihat apa yang ada di balik tembok itu. Dia cuma berseru, "Amboi!"; lalu melompat masuk ke kawasan di balik tembok.

Orang yang kedua, dengan cara yang sama, juga dapat mencapai tepi atas tembok, lalu melihat  sesuatu di balik tembok, dan spontan berteriak girang, "Woow, hebat, luar biasa!" Lalu dia langsung lompat ke kawasan yang sedang dilihatnya.

Peziarah yang ketiga dan yang keempat juga melihat hal yang sama dan melakukan hal yang sama pula. Empat orang pengelana lain telah berada di kawasan seberang, lalu tidak terdengar lagi suara mereka.

Tinggal satu peziarah gurun yang menjadi orang terbawah dari tangga manusia yang tadi mereka buat bersama. Dia ditinggal pergi empat kawannya. Dia kini yatim. Sebatangkara. Living in aloneness. Empty. Single.

Dia tidak bisa memegang tepi atas tembok. Tak ada yang bisa membantunya untuk dapat melihat segala hal yang sebelumnya telah dilihat empat kawan seziarahnya, yang kini telah hidup di kawasan seberang.

Si pengelana sebatangkara ini berlari jauh ke sisi kanan, lalu balik lagi ke sisi kiri. "Mungkin ada sebuah pintu", pikirnya.

Setelah sekian waktu mencari sekuat tenaga, kasihan, si pengelana piatu ini tidak menemukan satu pun pintu masuk. Akhirnya, dia duduk terpekur seorang diri di lantai pasir gurun, hanya ditemani kesunyian dan kekosongan, juga pertanyaan.

Selang satu jam tenggelam dalam kesunyian, si peziarah tunggal ini akhirnya memutuskan untuk mencari sebuah batu tajam yang akan dijadikannya pemukul dinding di hadapannya, untuk membuat lubang-lubang pijakan kaki saat memanjat nanti.

Dia berjalan senyap sendiri ke arah lain, mencari sebuah batu yang diinginkan. Berhasilkah?

Beruntunglah, setelah berjalan lima hari dengan bekal yang makin tipis, si pengelana yatim ini berhasil menemukan sebuah batu persis seperti yang diinginkannya. Batu itu teronggok sendirian, sunyi, juga sebatangkara, entah datang dari mana. Mungkin sisa pecahan meteor yang jatuh dari langit, kiriman jagat semesta.

Apapun juga, dia bawa batu itu, balik lagi ke tembok tinggi dan panjang tanpa ujung itu. Lima hari dia habiskan waktu untuk tiba kembali di depan dinding misterius itu. Telah sepuluh hari dinding itu ditinggalkannya hanya untuk menemukan sebuah batu pemahat.

Mulailah dia memukul dan mencungkili dinding itu pada titik setengah meter dari dasar tempat dia berpijak. Akhirnya terbentuk sebuah cerukan cukup dalam pada dinding itu. Lubang kedua yang lebih tinggi setengah meter dari lubang pertama berhasil juga dibuatnya. Ketika tangannya tidak bisa menjangkau tempat yang lebih tinggi di atas lubang-lubang yang sudah berhasil dibentuknya, dia tak kehilangan akal.

Dengan berdiri pada lubang-lubang teratas, dan dengan menempelkan tubuhnya pada dinding itu, susah-payah dia membuat lubang-lubang lain yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Tubuhnya makin lelah dan lemah. Tapi jika dia tak punya mental superbaja, tidak pernah sebelumnya dia memutuskan untuk menjadi seorang musafir gurun bersama empat sahabatnya yang kini telah tidak bersamanya lagi.

Akhirnya, lubang terakhir yang diperlukannya berhasil dia buat. Dengan menaikkan sebelah kakinya ke lubang itu, huuupp.... dia dengan sekuat tenaga dapat mengangkat tubuhnya ke atas, lalu kedua belah tangannya berhasil memegang tepi atas tembok aneh itu.

Segera saja terlihat olehnya pemandangan di kawasan di balik tembok. Dia langsung berseru perlahan, "Ooh, inilah nirwana!"

Anda tahu, apa yang selanjutnya dilakukan si peziarah gurun itu di saat dia sudah menemukan apa yang dipersepsinya sebagai nirwana?

Alih-alih dia melompat kegirangan ke kawasan nirwana di balik dinding, seperti yang telah sebelumnya dilakukan empat sahabat seperjalanannya, si pengelana sunyi sendiri ini malah turun lagi ke tempat semula dia berada, di lantai pasir gurun gersang dan kering. Kok?

Katanya dalam hati,

"Aku telah menemukan nirwana, dan telah juga berhasil membuat tangga lubang pada dinding pemisah ini yang berguna untuk orang memanjat dan tiba di kawasan nirwana.

Aku tidak butuh nirwana lagi.

Biarlah aku menunggu di bawah, di sebelah sini.

Para pengelana lain yang akan melintas ke sini dan terhalang oleh dinding ini akan kuberitahu bahwa nirawana ada di baliknya.

Aku akan bantu mereka memanjat dinding ini lewat tangga lubang-lubang yang sudah kubuat. Nirwana menanti mereka."

Begitulah keputusan si pengelana kelima yang berhati agung, yang kini sunyi sendiri, sebatangkara: menunggu para musafir gurun tiba di tempat dia duduk berhari-hari, bermalam-malam, sepanjang sisa umurnya.

Jagat semesta, entah bagaimana, tergerak untuk menjatuhkan makanan dan minuman lewat burung-burung gurun besar yang sewaktu-waktu melintas di angkasa, di atas diri si peziarah senyap yang memiliki hati berlian ini.

Kata Yesus, "Jadilah kehendakmu di Bumi seperti di sorga!"

JADI, bukan kejarlah dan masuki sorga di kawasan seberang kehidupan, setelah anda mati. Bukan "Datangilah sorga!" di luar dunia, tapi "Datanglah sorga" ke Bumi ini!

Bangun dan tegakkan sorga di tanah muka Bumi ini lewat tiga hal utama:

• kasih sayang
• kegiatan menolong
• pengembangan iptek

supaya kehidupan kita semua, dan kehidupan organisme lain, makin baik, sehat, bersahabat dan membahagiakan semua.

Burung-burung tidak akan pernah telat untuk terbang dan mendatangi anda untuk memberi anda makan dan minum yang secukupnya, dari langit.

Jika bunga di padang begitu indah didandani, dan burung di udara dan di pepohonan begitu riang dan terpelihara, dan jangkrik riang gembira bernyanyi, dan kunang-kunang semarak bercahaya, APALAGI anda semua yang memiliki hati, jiwa, pikiran, ucapan dan perbuatan yang luhur dan mulia.

Wahai kawan, sorga ya di muka Bumi ini, tak ada pilihan lain. Sungguh, tak ada pilihan lain yang real dan bermakna.

Sesudah anda mati, tak ada lagi tubuh, tak lagi ada otak, tak ada lagi lima indra, tak ada lagi gerak, tak ada lagi aktivitas mental, tak lagi ada hati, tak ada lagi waktu, tak ada lagi pengalaman, tak ada lagi tanggungjawab, tak ada lagi sejarah, tak ada lagi cita-cita pemacu.

Anda tidak bisa lagi berkunjung ke panti asuhan. Tak ada lagi kegiatan latihan paduan suara. Tidak lagi ada kesibukan mengantar anak-anak ke sekolah. Tak bisa lagi mengajar sebagai dosen. Tak ada lagi kegiatan lari pagi. Tak bisa lagi anda bermain cinta. Tak ada lagi tanggungjawab sosial politik dan ekonomi anda.

Juga, sesudah anda mati, bagi anda tak ada lagi planet Bumi yang menjadi rumah bersama umat manusia, tempat kita menanam tetumbuhan, membangun pabrik, mendirikan universitas, menyusun ilmu pengetahuan, membangun perumahan, membangun tempat rekreasi, mengikat relasi sosial dan memajukan peradaban.

Yesus sungguh betul, kerajaan sorga itu datang ke Bumi ini sekarang, bukan didatangi sesudah kita mati.

Setelah anda mungkin berulangkali membaca seluruh uraian saya di atas, anda masih tetap mendambakan dan ingin masuk sorga setelah kematian, ya tak apa-apa.

Namun, sebaiknya anda bisa dan mau melihat bahwa sorga yang sungguh real dan bermakna ya sorga di muka planet Bumi. Dan nanti juga sorga di planet-planet lain dalam sistem matahari kita dan di dalam sistem-sistem matahari lain dalam galaksi kita Bima Sakti dan di luarnya, dalam ruang hampa alam semesta kita.

Sorga itu sebuah kata kerja, sebuah tugas, sebuah panggilan masa kini, bukan suatu angan-angan antahberantah di balik kehidupan, atau di balik kematian.

Baiklah, saya ucapkan: Damai sejahtera bagi Bumi dan segenap penghuninya.

Silakan share.

Salam saya, 
ioanes rakhmat
23 Nov 2017


Sunday, October 29, 2017

31 Oktober 1517, Hari Reformasi Protestan, sebuah kecelakaan sejarah!

40 % WARGA JERMAN TEWAS DALAM "PERANG TIGA PULUH TAHUN" YANG BERKOBAR AKIBAT REFORMASI

Pada 31 Oktober 1517 di pintu gereja Wittenberg, Jerman, Martin Luther menancapkan 95 tesisnya, tertuju ke Uskup Agung Mainz. Semua tesisnya ini melawan posisi doktrinal dan praktek Gereja Katolik di eranya.


Selanjutnya, gerakan reformasi gereja yang bergelombang luas muncul di seluruh Eropa yang berujung kelahiran Gereja Protestan.

Reformasi abad ke-16 dalam roh kekristenan dan nasionalisme Jerman ini umumnya dilihat berdiri atas tiga prinsip keyakinan, yaitu Sola Scriptura ("hanya Alkitab"), Sola Fide ("hanya iman") dan Sola Gratia ("hanya karunia").

31 Oktober diperingati hingga saat ini sebagai hari Reformasi Gereja, yaitu hari kelahiran Gereja Prostestan sebagai akibat reformasi yang dijalankan para tokoh Reformasi seperti Martin Luther, Ulrich Zwingli, Heinrich Bullinger, Yohannes Kalvin, John Knox, dll, selain juga radikalis Reformis seperti Thomas Muntzer dan Karl Stadt dll.


Gerakan Reformasi di Eropa ini berakhir tahun 1648 dalam Perdamaian Westphalia setelah berakhirnya Perang 30 Tahun (1618-1648) sebagai akibat susulan Reformasi Protestan, dengan menghancurkan nyaris seluruh Jerman dan menewaskan sampai 40 persen warga Jerman. Waduuh, Tuhan!


Hemat saya, jika seluruh kehidupan orang Kristen Protestan masa kini di abad ke-21 ditundukkan pada Alkitab saja, dan segala hal dalam dunia harus diatur menurut seluruh ketentuan Alkitab saja, seperti kemauan Yohannes Kalvin dulu atas kota Jenewa, maka pola pikir dan kelakuan orang Protestan ini bukan saja tidak akan jalan, tapi juga tergolong dalam ideologi teokratisme, atau paralel dengan ideologi khilafah dalam dunia Islamis radikal.

Di NKRI teokratisme tidak berlaku. NKRI tegak di atas hukum positif ("lex positiva" atau "ius positum") yang disusun legislatif dan/atau eksekutif dan disahkan lembaga tinggi legislatif DPR. Agama-agama diberi kebebasan diamalkan oleh masyarakat dalam semangat ideologi Pancasila, dilindungi negara, tapi tidak mengatur pemerintahan NKRI.

Silahkan share, jika ingin.
Thanks.

ioanes rakhmat
28 Okt 2017

Hari Sumpah Pemuda
"Kita tidak sama,
kita kerja sama."
☆ Presiden Joko Widodo


Sunday, October 22, 2017

Patah hati, jantung kena, lantaran anjing kesayangan mati ngenes

STRES DAPAT MENIMBULKAN SINDROM “PATAH HATI” PADA JANTUNG ANDA!

Di suatu pagi, saat baru bangun tidur, Ms. Joanie Simpson (lansia, 62 thn) terkena Sindrom PATAH HATI, alias “Broken Heart Syndrome” sungguhan pada jantungnya. Bukan kiasan. Tapi sindrom ini timbul bukan karena serangan penyakit jantung koroner dll.

Anda perlu mengenali sindrom patah hati. Banyak orang di sekitar kita sedang broken heart tanpa kita tahu. Mungkin diam-diam anda juga sedang patah hati; bisa jadi, malah sedang hancur hati.


Dalam dunia medik sindrom ini dikenal sebagai Takotsubo Cardiomyopathy (TCM). Ada terma-terma medik lainnya untuk TCM, yaitu “Apical Ballooning Syndrome” atau “Stress Cardiomyopathy” atau “Stress-induced Cardiomyopathy” atau “Gebrochenes-Herz Syndrome”. Yang populer, terma Sindrom Patah Hati.

Sintom TCM serupa dengan serangan jantung: sakit punggung yang luar biasa, nyeri di dada, nafas sesak atau dyspnea, detak jantung yang tak beraturan, tubuh lunglai mendadak atau terjatuh.

Dalam bahasa Jepang, takotsubo artinya “pot oktopus”. TCM antara lain menimbulkan kejang-kejang otot jantung yang lalu volume suatu bagian dalamnya membesar, mengambil bentuk sebuah pot yang menyerupai oktopus: gendut di bawah, lalu ke atas berupa leher yang menyempit (lihat gambar). Kondisi fisik jantung demikian ini dinamakan “disfungsi puncak ventrikular kiri (Left Ventricular atau LV) akibat penggelembungan”, yang dapat dipulihkan kembali.

BROKEN HEART menimpa Joanie lantaran Meha, anjing betina kesayangannya, mati ngenes gara-gara sakit parah. Sebelumnya, sudah ada beberapa stressor mental lain yang dialami ibu yang sudah lansia ini.

Banyak faktor internal tubuh penyebab TCM, di antaranya hormon stres yang membanjir dalam aliran darah, khususnya hormon kortisol dan hormon adrenalin.

Bagian di dalam otak kita yang dinamakan hypothalamus dan amygdala, karena dirangsang oleh sinyal-sinyal saraf dan hormonal, memicu teraktivasinya kelenjar pituitari dalam otak dan kelenjar adrenalin di bagian atas ginjal. Kelenjar-kelenjar ini lalu mengeluarkan hormon adrenalin (hormon tenaga) dan hormon kortisol (hormon stres) di saat kita sedang berada dalam sikon yang dinamakan sikon “tempur atau kabur” (fight or flight) yang menentukan kita akan selamat atau mati.

Dalam sikon ini, kita bisa jadi gemetaran, kencing di celana, lalu dihabisi musuh, atau lari ngibrit, atau pasokan energi ke otot-otot berlimpah yang mendorong kita mampu berkelahi dengan amat berani dan sangat kuat, atau untuk menyelamatkan barang-barang berat milik kita ke tempat yang aman setelah berpikir sangat cepat dan tepat.

Adrenalin (juga noradrenalin atau norepinefrin) meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, dan, bersama kortisol, menambah pasokan energi tubuh khususnya ke otot-otot (untuk tempur atau ngibrit sekencang-kencangnya) dan ke pusat aktivitas berpikir cepat dalam otak untuk mengambil keputusan psikomotorik secepat kilat (menyerang balik atau lari).

Kortisol meningkatkan kadar gula (glukosa) dalam aliran darah, meningkatkan penggunaan glukosa dalam otak (sebagai energi untuk berpikir cepat) dan menambah ketersediaan zat-zat untuk memperbaiki jaringan. Kortisol juga mengubah respons sistem imunitas, dan menekan sistem pencernaan, sistem reproduksi dan proses pertumbuhan, yang semuanya dalam sikon “tempur atau kabur” tidak perlu bekerja penuh sehingga energi yang biasanya dipakai sistem-sistem ini dialihkan beberapa waktu ke segala usaha kita dalam menghadapi sikon “tempur atau kabur”.

Sistem peringatan biologis ini, yang ditimbulkan oleh teraktivasinya kelenjar-kelenjar hormon, sangat rumit, dan terhubung timbalbalik dengan bagian-bagian otak yang mengendalikan mood atau suasana mental, pikiran, motivasi dan rasa takut. Inilah reaksi sistem pertahanan biologis kita pada waktu kita berada dalam sikon “tempur atau kabur” yang sangat menekan mental.

Jika sikon ini terus-menerus kita hadapi, energi kita akan tersedot ke usaha-usaha pertahanan diri demi survival saja; akibatnya tubuh kita akan kekurangan energi untuk mengaktifkan sistem-sistem dan fungsi-fungsi lain dalam otak dan tubuh kita secara utuh. Akibatnya, karena sikon stres, kita bisa cepat mati, bukan cuma terkena TCM yang bisa dipulihkan.

Ketika seseorang stres karena berbagai penyebab, misalnya ditinggal mati orang yang dikasihi, termasuk ditinggal mati hewan peliharaan kesayangan, atau ekonomi yang bangkrut, atau serangan kejahatan atau bencana alam, atau tersangkut masalah hukum yang berat, maka hormon stres terproduksi dalam jumlah besar lalu mengalir deras ke seluruh tubuh dengan melewati jantung sebagai organ sentral sirkulasi darah. Ini memicu sindrom Broken Heart yang terjadi pada Joanie, khususnya di saat dia mengalami stres paling puncak pada waktu anjingnya, Meha, mati dengan penuh azab.

TCM juga bisa muncul karena tekanan-tekanan ragawi yang keras seperti tabrakan kendaraan, atau karena penyakit medik yang memburuk, tinggal lama di ruang IGD, penyakit lain yang tak terdiagnosis, habis tenggelam, pasca-operasi, dan penggunaan obat-obat ilegal seperti serum katekholamin (norepinefrin, epinefrin, dopamin), juga karena jumlah berlebih kokain, methamfetamin dan fenylefrin dalam tubuh. Selain itu, faktor genetik juga dapat berperan, ditambah kondisi disfungsi mikrovaskuler koroner. “Seizure” atau peningkatan luar biasa pulsa listrik dalam organ otak juga bisa memicu TCM tapi jarang yang karenanya penderita TCM meninggal seperti meninggalnya dengan mendadak penderita epilepsi yang dinamakan SUDEP (“Sudden Unexpected Death in Epilepsy”).

Jadi, supaya tidak patah hati yang membuat fungsi jantung dihancurkan atau dipatahkan sementara, hiduplah dengan tetap riang. Keep happy all the time, even though it is very difficult to do so.

Kalau diputuskan pacar, ya bersiaplah cari seorang pacar baru yang lebih baik, atau  perbaikilah diri sehingga sang pacar akan makin sayang, bukan malah mulai bosan karena melihat tingkah laku anda.

Kalau ditinggal istri atau suami selamanya, berpikirlah bahwa kalau anda yang mati duluan, pasangan anda itu mungkin akan jauh lebih menderita dibandingkan anda yang sudah ditinggalkan.

Setelah sekian waktu berduka dan merasa sangat kehilangan, paculah diri untuk berani mencari seorang teman hidup lain, lalu ya nikahi dia. Kalau ditinggal mati anjing atau kucing kesayangan, atau ayam jago kecintaan, ya carilah penggantinya dan sayangi lagi.

Jangan melekat kelamaan terhadap mereka yang sudah pindah ke rumah ketiadaan. “The broken heart” masih bisa dilem atau dilas jadi satu lagi. Betul, bukan?!

Ketimbang anda terkena TCM yang bikin geger dan gundah orang serumah, dan untuk sembuh anda harus menggunakan obat-obatan seperti “angiotensis converting enzyme (ACE) inhibitors” atau “A-beta blockers” atau “A-adrenoceptor agonist” atau “calcium channel blockers” (seperti Verapamil atau Diltiazem) atau stimulan jantung Levosimendan, obat diuretik, dll, lebih baik anda “keep living a happy life”, dan siap ditinggal mati oleh siapapun yang anda sayangi.

Cinta memang ujungnya ya perpisahan, kematian, cepat atau lambat. Sebaliknya, kematian sang kekasih tidak perlu mematikan cinta anda kepada pengganti mereka yang sudah tiada. Begitu saja. Sederhana. Tentu, sulit dialami. Perlu perjuangan. Berdoa juga bisa menolong, karena lewat doa, anda bisa curhat melepas stres, lepas dari ihwal siapa yang sedang mendengarkan curhat anda itu.

Begitu saja ya.

Laporan medik kasus TCM yang menimpa Joanie Simpson baru saja diterbitkan di New England Journal of Medicine 377:e24, Oct19, 2017, http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMicm1615835.

Deskripsi populernya terdapat di http://www.sciencealert.com/a-woman-has-suffered-a-clinical-broken-heart-after-the-death-of-her-dog.

Penjelasan medik teknis lebih jauh tentang TCM, lihat antara lain di https://emedicine.medscape.com/article/1513631-overview#a2 juga di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4110608/#__ffn_sectitle.

Salam,

Jakarta, 22 Oktober 2017
ioanes rakhmat


Tuesday, October 17, 2017

Menyikapi gorpol bipolarisasi "pribumi versus non-pribumi"

MENYIKAPI GORPOL BIPOLARISME "PRIBUMI vs. NON-PRIBUMI" JELANG PILPRES 2019

Setelah saya dengarkan dua kali video rekaman pidato lisan Anies saat sesudah dia dilantik sebagai Gubernur baru DKI, 16 Okt 2017, mulai menit ke 7:29 dst saya mendengar pernyataannya yang berbunyi "Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri...."

Bagian itu saya kutipkan lengkap, berikut ini:

"Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat, penjajahan di depan mata, selama ratusan tahun. Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari hari. Karena itu bila kita merdeka maka janji janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta.

Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami."

Pernyataan Anies ini ada yang mengacu ke sejarah (yang dikarangnya sendiri). Tapi sangat jelas juga kalau dia berbicara tentang konteks masa kini Jakarta, dan tentu saja dalam konteks masa kepemimpinannya sebagai Gubernur yang kini mulai dia jalankan. Saya eksplisitkan apa yang sedang ditekankan Anies: Kini saatnya pribumi menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ya, konsekuensi pernyataannya ini luas, pernyataan yang rasistik kuat.

Video tersebut terpasang di sini https://m.detik.com/news/berita/d-3687022/membandingkan-pidato-jokowi-dan-anies-usai-jadi-gubernur-dki.


Jadi, penyebutan Jakarta sebagai "melting pot" dan seruannya untuk warga DKI bersatu di bawah kepemimpinan Anies, dan juga rujukan-rujukan ke sila-sila Pancasila, dalam pidato Anies tersebut, terdengar sayangnya tak lebih sebagai retorika belaka. 

Ada pepatah, "seekor keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya." Kita telah belajar dari kasus kampanye pasangan Anies dan Uno menuju Pilkada DKI 2017 yang telah lewat, yang mengeksploitasi isu SARA habis-habisan (alhasil, menjadi apa yang saya mau sebut kampanye "SARAmercon"), dan yang berujung tragis pada pemenjaraan Pak Ahok.

Menjelang Pilpres 2019, lubang yang serupa harus kita hindari sejak dini, sejak sekarang, apalagi kita bukan keledai-keledai yang dungu.

Masyarakat "akar rumput" di seluruh nusantara yang paling rentan terhasut dan digerakkan oleh ledakan SARAmercon, yang segera akan dihasut lagi oleh eksploitasi isu bipolarisme "pribumi dan non-pribumi" (yang N.B. sudah legal dilarang di negeri kita lewat Inpres RI no. 26/1998), harus kita dampingi dengan empatis, tak terputus, lewat berbagai cara dan langkah.


Penyadaran atau konsientisasi bahwa gorpol bipolarisasi "pribumi versus non-pribumi" SANGAT DESTRUKTIF terhadap ketahananan dan keutuhan bangsa dan negara RI yang multietnik dan multireligius ini, sudah harus dijalankan dengan sistematis dan komprehensif terhadap seluruh penduduk NKRI dan khususnya terhadap masyarakat akar rumput di seluruh Indonesia.

Setelah gorpol "kebangkitan PKI" kandas untuk memperlemah pemerintahan Presiden Jokowi, dan mungkin juga akan dimunculkan lagi, kini rupanya gorpol bipolarisme yang ilegal "pribumi versus non-pribumi" sedang mulai dijual lagi, baik untuk kebutuhan pendulangan paksa suara akar rumput untuk Pilpres 2019 maupun juga sebagai pengalihan isu ketidakmampuan Gub dan Wagub baru DKI untuk minimal menyamai prestasi dan kinerja luar biasa Ahok-Djarot sebelum mereka. Ya, kita sekarang sudah harus siapkan diri untuk menghadapi tembakan SARAmercon ini dengan kalem, cerdas, tangguh, bahu-membahu, multidimensional dan konstitusional.

Sekali merdeka tetap merdeka bagi seluruh suku, umat beragama, warna kulit dan golongan insan Indonesia, menuju NKRI salah satu lima adidaya dunia di tahun 2045.

Salam,
ioanes rakhmat
17 Oktober 2017